diajeng.id - Setiap gerakan dalam tarian tradisional menyimpan jejak sejarah dan identitas masyarakat yang melahirkannya. Namun, seiring perubahan zaman, seni tari juga membuka ruang bagi interpretasi dan eksplorasi baru.
Di luar rangkaian gerakan tubuh, tarian tradisional menyimpan nilai-nilai budaya yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Ada tarian yang lahir sebagai bentuk perlawanan, seperti Haka dari masyarakat Māori, banyak pula yang menjadi bagian dari upacara penyambutan dan perayaan adat.
Meski memiliki akar tradisi yang kuat, bentuk tarian lokal tidak selalu harus berhenti pada gerakan yang diwariskan para leluhur. Perubahan zaman turut membuka kemungkinan bagi masyarakat untuk mengembangkan cara baru dalam mengekspresikan identitas budayanya melalui seni.
Semangat inilah yang dieksplorasi oleh koreografer asal Taiwan, Fangas Nayaw, melalui karya pertunjukan La XXX Punk II: Betel Nut Green. Pertunjukan ini menjadi bagian dari rangkaian Indonesian Dance Festival 2026 yang berlangsung di Jakarta dari 29 Oktober hingga 1 November 2026.
Lewat karya ini, Fangas mencoba membayangkan bentuk baru tarian masyarakat adat, mulai dari eksplorasi olah tubuh hingga bagaimana tradisi itu ditampilkan pada pertunjukan.
Di tengah cuaca mendung dan rumput yang basah karena hujan deras, pertunjukan pada Jumat (30/10) sore itu tetap berlangsung dengan serius di Teater Atap, Salihara Arts Center.
Memasuki area teater, penonton yang masih mengenakan jas hujan diarahkan untuk membentuk lingkaran mengelilingi dua penari perempuan. Keduanya tampak bersiap untuk memulai pertunjukan di tengah-tengah area yang dikelilingi penonton.
Pertunjukan dibuka dengan gerakan kedua penari yang berdiri berjauhan satu sama lain. Perlahan, mereka mulai menggerakkan tubuh dengan gestur yang seolah-olah menyatu dengan lingkungan sekitar.
Alih-alih tampil di atas panggung yang terpisah dari penonton, keduanya memanfaatkan ruang terbuka di sekeliling mereka sebagai bagian dari pertunjukan.
Seiring pertunjukan berlangsung, kedua penari mulai bergerak dengan tanah dan rumput di sekitar mereka. Kostum bersih yang semula dikenakan dengan rapi pun ikut kotor akibat bersentuhan dengan tanah.
Tak hanya melalui gerakan, ekspresi wajah kedua penari juga menjadi elemen kuat dalam menghidupkan suasana pertunjukan. Setiap gestur dan perubahan ekspresi dari kedua penari memiliki karakter khas yang membuat penonton fokus memerhatikan setiap detail penampilan.
Menariknya, selama 30 menit pertama, pertunjukan berlangsung tanpa iringan musik. Penonton hanya dapat menyaksikan gerakan kedua penari dengan bunyi-bunyian yang hadir dari lingkungan sekitar, seperti suara hujan hingga hentakan napas kedua penari.
Tanpa musik sebagai pengisi suasana, perhatian penonton sepenuhnya tertuju pada gerak tubuh, ekspresi penari dan bagaimana mereka menyatu dengan pertunjukan.
Situasi ini memberi kesempatan bagi penonton untuk membangun imajinasi tersendiri terhadap pesan yang berusaha disampaikan melalui karya tersebut.
Di balik eksplorasi gerakan tersebut, Fangas rupanya memiliki kegelisahan tersendiri terhadap keberlangsungan budaya masyarakat adat.
Fangas menjelaskan bahwa La XXX Punk II: Betel Nut Green berangkat dari kemarahannya terhadap pihak-pihak yang dinilai belum cukup memberikan ruang bagi budaya masyarakat adat untuk terus hidup.
“Motivasinya berangkat dari kemarahanku terhadap masyarakat. Mereka bilang, kita harus merayakan budaya masyarakat adat, tapi dalam kertas kebijakan mereka, tidak ada satu pun untuk kepentingan adat,” ujar Fangas saat diwawancarai oleh Diajeng Tirto seusai pertunjukan.
Kegelisahan tersebut kemudian membawa Fangas pada ketakutan dan imajinasi tentang hilangnya identitas budaya masyarakat adat. Fangas membayangkan bagaimana jika seluruh simbol budaya yang selama ini melekat pada kampung halamannya di Taitung, Taiwan, menghilang.
“Kami membayangkan kampung halaman kami di Taitung. Jika seluruh tato, ornamen grafis, dan simbol-simbol tradisional itu hilang, kota ini tidak akan lagi memiliki warna dan makna seperti sebelumnya. Seolah-olah kami ikut hilang, pada akhirnya hanya jejak-jejak yang tersisa untuk membantu kami menelusuri kebudayaan kami,” tegas Fangas.
Bagi Fangas, hilangnya simbol-simbol tersebut bukan sekadar perubahan visual pada lingkungan tempat tinggalnya. Dalam bayangannya, Taitung bisa saja kehilangan “warna” dan “makna budaya”, hanya menyisakan jejak-jejak kecil dari tradisi yang selama ini menjadi bagian dari keseharian masyarakatnya.
Menariknya, Fangas tidak langsung memulai proses penciptaan karya dari koreografi. Fangas memulainya dengan terlebih dahulu menyusun pesan dan konsep yang ingin disampaikan melalui pertunjukan tersebut.
“Kami tidak langsung membuat gerakan tari. Sebaliknya, kami terlebih dahulu menentukan gagasan yang ingin disampaikan melalui pertunjukan,” ungkapnya.
Setelah konsepnya terbentuk, Fangas mulai mengeksplorasi karakteristik gerakan tubuh yang menurutnya menjadi pembeda antara tarian tradisional masyarakatnya dengan bentuk tarian lain.
Salah satunya adalah bone flow movement, yang disebutnya sebagai gerakan khas dalam tradisi mereka. Gerakan tersebut mengandalkan ketegangan otot dan repetisi, termasuk gerakan mengayunkan siku atau elbow swing.
“Gerakan ayunan siku ini memang berasal dari budaya kami. Kami mencoba mengembangkannya dan tetap mempertahankan bentuk asli gerakannya,” tutur Fangas.
Alih-alih menggunakan gerakan yang lembut, Fangas memilih gerakan yang terlihat intens dan berulang. Fangas menjelaskan bahwa penari mengeksplorasi gerakan yang bergerak cepat di lantai (floor movement).
Fangas juga menyebut proses ini sebagai upaya untuk menantang kemampuan tubuh. Dia membandingkannya dengan generasi tua di komunitasnya yang mampu menari selama tiga jam. Menurutnya, hal itu kontras jika dibandingkan dengan durasi 50 menit dalam pertunjukannya yang kali ini.
Fangas juga menyusun sepuluh manifesto tentang bagaimana tubuh, gerakan, dan pikiran mereka dapat disampaikan melalui pertunjukan.
Selain menawarkan eksplorasi gerak tubuh, La XXX Punk II: Betel Nut Green juga membuka ruang untuk mempertanyakan kembali batasan-batasan yang selama ini melekat pada tradisi.
Terkait dengan pemilihan dua penari perempuan yang tampil dalam pertunjukan di Indonesian Dance Festival kali ini, Fangas menjelaskan bahwa dalam tradisi masyarakatnya, pembagian tanggung jawab pernah dibedakan berdasarkan gender.
Laki-laki memiliki tanggung jawab untuk berburu dan menangkap ikan, sementara perempuan bertugas mengumpulkan tanaman herbal.
Namun, pembagian tersebut menurutnya mulai berubah seiring berubahnya zaman. Ketika praktik kebudayaan terancam hilang, setiap anggota masyarakat memiliki tanggung jawab untuk melestarikannya tanpa dibatasi oleh gender.
“Sekarang, siapa pun bisa belajar memiliki tanggung jawab untuk melakukannya, baik laki-laki maupun perempuan. Batas-batas gender tersebut sudah mulai hilang,” tegas Fangas.
Gerakan-gerakan besar dan intens yang secara tradisional diasosiasikan dengan laki-laki muda dalam komunitasnya, dalam pemikiran Fangas, dapat menjadi daya tarik bagi perempuan. Maka dari itulah, dalam La XXX Punk II: Betel Nut Green, Fangas berupaya menghadirkan penari perempuan untuk mengeksplorasi gerakan yang sebelumnya lekat dengan laki-laki.
Penulis: Arrazani Hafidza
Editor: Sekar Kinasih