Menuju konten utama
Otonomi Anak

Uang THR di Tangan Anak: Sejauh Mana Orang Tua Boleh Mengatur?

Apa kita sebenarnya sedang membantu strategi keuangan anak atau justru merampas kesempatan anak untuk belajar tanggung jawab mengelola uang?

Uang THR di Tangan Anak: Sejauh Mana Orang Tua Boleh Mengatur?
Header Diajeng THR Anak. tirto.id/Quita

diajeng.id - Lebaran telah usai.

Namun begitu, bagi anak-anak, euforianya masih terasa nyata saat mereka menghitung kembali lembaran uang THR atau angpao pemberian sanak saudara.

Sebagai orang tua, kita acap kali dihadapkan pada kenyataan penting: sejauh mana kita harus ikut berperan dalam mengelola uang tersebut?

Memang benar, kebanyakan dari kita akan menyimpankan uang anak di dalam bentuk tabungan atau investasi yang berguna untuk masa depannya. Penting digarisbawahi, keputusan ini adalah strategi keuangan orang tua sebagai sosok yang bertanggung jawab terhadap hajat hidup anak.

Di satu sisi, anak adalah manusia yang punya otonomi dengan keinginan tersendiri. Uang hasil hadiah lebaran, imlek, atau ulang tahun akan digunakan untuk hal-hal yang menurut mereka menyenangkan, bermanfaat, dan memuaskan, seperti membeli mainan, smartphone, sepeda, dan sebagainya.

Perdebatan mengenai hal ini sempat memanas di linimasa media sosial.

Sekian waktu lalu, muncul sebuah kasus yang memicu diskusi publik ketika seorang ibu membelanjakan uang THR anaknya untuk membeli emas sebagai bentuk investasi jangka panjang.

Padahal, si anak sangat berharap uang tersebut bisa digunakan untuk membeli sepeda impiannya.

Salah satunya diposting oleh akun @Netizen_bawel di X: "Vidio yang viral kemarin, Ternyata sang Anak pingin uang THR nya buat beli sepeda tapi sama ibunya malah dibelikan emas," tulisnya.

Fenomena ini pun mengangkat pertanyaan penting. Apa kita sebenarnya sedang membantu strategi keuangan mereka atau justru merampas kesempatan mereka untuk belajar mengelola uang?

Tips Menyikapi Uang THR Anak

Bagi yang masih bertanya-tanya seputar ini, Diajeng memiliki sejumlah tips untuk orang tua dalam menyikapi uang THR anak, yang dirangkum dari laman Parents Canada dan The Guardian berdasarkan pendapat para ahli keuangan:

1. Biarkan Mereka "Belajar dengan Melakukan"

Para ahli menyarankan agar orang tua memberikan ruang bagi anak untuk mengeksekusi keinginan mereka sendiri. Anak-anak, sebagaimana orang dewasa, belajar paling efektif melalui praktik langsung.

Meskipun mereka melakukan kesalahan dalam membelanjakan uangnya, lebih baik mereka belajar dari kesalahan kecil sekarang daripada saat mereka dewasa nanti ketika risikonya jauh lebih besar.

2. Terapkan "Aturan Sepertiga" (Rule of Thirds)

Alih-alih mengambil seluruh uangnya untuk disimpan, orang tua bisa memperkenalkan sistem alokasi budget sederhana.

Misalnya, sepertiga untuk ditabung, sepertiga untuk berbagi (sedekah), dan sepertiga sisanya bebas digunakan untuk apa pun yang diinginkan anak.

Strategi ini mengajarkan mereka bahwa uang bersifat terbatas dan harus dialokasikan dengan bijak.

3. Hargai Definisi "Value" Versi Mereka

Sebagai orang tua, kita mungkin tidak mengerti mengapa anak ingin menghabiskan uang untuk top-up gim atau mainan yang menurut kita tidak berguna.

Namun, penting untuk diingat bahwa setiap orang memiliki preferensi unik tentang apa yang memberikan mereka nilai atau kebahagiaan.

Alih-alih mengontrol secara ketat, fokuslah mengajarkan mereka untuk membeli barang yang benar-benar mereka hargai, bukan sekadar mengikuti tren.

4. Jadikan "Money Mistake" sebagai Teachable Moment

Jika anak menghabiskan seluruh uang jajannya untuk satu barang mahal dan kemudian tidak punya uang lagi untuk pergi ke bioskop bersama teman, jangan langsung memberikan uang tambahan.

Biarkan mereka merasakan konsekuensi dari keputusan finansialnya.

Inilah cara terbaik untuk mengajarkan nilai uang dan konsep kepuasan yang tertunda (delayed gratification).

5. Jadilah Teladan yang Baik

Anak-anak mengamati perilaku orang tua mereka terhadap uang.

Menunjukkan perilaku bertanggung jawab, seperti melakukan riset sebelum membeli barang berkualitas atau tetap disiplin pada anggaran keluarga, adalah pelajaran literasi keuangan yang jauh lebih efektif daripada sekadar memberi nasihat.

Pada akhirnya, memutuskan apa yang harus dilakukan dengan uang anak kembali pada nilai-nilai yang ingin ditanamkan oleh orang tua.

Memberikan anak otonomi terbatas atas uang THR-nya mungkin terkesan seperti memberi kesenangan sesaat pada anak, akan tetapi pada waktu sama hal ini juga merupakan investasi pada karakter dan kemandirian finansial anak di masa depan.

Simak juga artikel seputar tips keuangan lainnya di sini.

Baca juga artikel terkait THR atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih