diajeng.id - Tren datang silih-berganti. Setiap musim, fashion house berpengaruh dan berbagai entitas bisnis gaya hidup merilis model pakaian dan aksesori teranyar, tak terkecuali produk-produk kecantikan, yang selalu menarik perhatian mata kita semua.
Realistis saja, tidak semua produk yang diluncurkan jenama-jenama premium dapat kita akses atas berbagai pertimbangan, terutama karena faktor harga.
Menariknya, di era media sosial, kita semakin mudah menemukan pakaian, skincare, atau kosmetik yang terinspirasi dari produk-produk premium, tetapi ditawarkan dengan harga yang jauh lebih terjangkau—populer disebut “dupe” atau “dupes”.
Melansir The Fashion Law, “dupes” atau kependekan dari “duplicates” merujuk pada produk-produk yang menyerupai produk lain dengan harga lebih tinggi, baik dari segi tampilan, fungsi, maupun aroma, tetapi dijual dengan harga lebih terjangkau.
Produk “dupes” umumnya bukan berarti produk palsu atau barang KW karena tidak mengklaim berasal dari merek tertentu maupun menggunakan merek atau logo milik jenama yang menjadi inspirasinya.
Saat ini, media sosial menjadi medium yang paling akomodatif untuk menjembatani kita dengan budaya “dupes”.
“Dupe culture adalah konsep bahwa tak terbatasnya internet memungkinkan kalian menemukan alternatif produk yang lebih murah, sebuah tiruan, atau sesuatu yang bisa menjadi pengganti yang layak untuk barang yang sebenarnya kalian inginkan,” jelas Mia Sato, reporter senior dari The Verge.
Pakaian dan Kosmetik "Dupes"
Temuan dari Statista pada 2025 mengungkap bahwa produk yang paling sering memiliki “dupes” berasal dari sektor fesyen dan skincare. Baju, tas, dan sepatu menempati posisi teratas disusul dengan produk wewangian serta skincare.
Sektor fesyen terbilang mudah untuk dijadikan “dupes” sebab memiliki fleksibilitas dalam desainnya. Dari kaos, celana, sampai aneka tas, selalu saja ada alternatif yang bentuk dan fungsinya menyerupai produk dari jenama-jenama besar, tetapi harganya jauh lebih terjangkau.
Produk kecantikan, terutama skincare, memiliki formulasi lebih kompleks sehingga pengembangan produk alternatif dengan performa serupa cenderung lebih menantang. Namun begitu, sektor ini terus berkembang dan memiliki kalangan peminatnya tersendiri.
Di kategori parfum, misalnya, konsumen kerap mencari alternatif dengan karakter aroma yang mengingatkan pada parfum populer dari fashion house raksasa seperti Dior atau Channel, tetapi dengan harga lebih terjangkau.
Produk bibir rom&nd, Rhode, atau Rare Beauty juga sering dijadikan rujukan perbandingan di media sosial. Tidak lama setelah lipstik dari mereka dirilis, biasanya bermunculan rekomendasi kosmetik lokal yang dinilai menawarkan hasil akhir atau fungsi serupa dengan harga lebih terjangkau.
Bergaya tanpa Menguras Kantong
Yose (22) adalah salah satu konsumen parfum “dupes”.
“Karena murce dan mirip [produk premium], lebih mudah dibeli juga, kaya di Miniso,” jelasnya.
Salah satu produk yang gemar dibelinya adalah varian British Pear dari Miniso yang dibanderol harga Rp60 ribu. Menurut Yose, parfum ini memiliki kemiripan dengan produk wewangian asal Inggris, Jo Malone, yang harga sebotolnya mencapai jutaan rupiah.
Dalam memilih produk, Yose memang mempertimbangkan faktor ekonomi. Yose tidak mempermasalahkan autentisitas produknya, asalkan masih bisa dibelinya.
Menurut Yose, “dupes” merupakan alternatif yang cocok bagi kita yang belum bisa membeli produk di luar budget. “Inilah solusi in this economy, tanpa beli yang mehong tetep bisa ngerasain.”
Ella (22) memiliki pandangan serupa tentang parfum “dupes”. Penyuka wawangian floral-based ini menganggap produk “dupes” cocok untuknya. Selain harganya yang murah, Ella tetap bisa menemukan aroma yang dikehendakinya di produk tersebut.
“Asal dia bukan yang beneran seperti barang KW gitu, yang suka mengaku sama sebagai produk asli,” jelas Ella.
Sementara itu, Hana (19) sering kali mencari “dupes” untuk fesyen sehari-harinya, mulai dari baju, sepatu, sampai sandal.
Dilansir dari The Guardian, pakar strategi pemasaran menilai tren budaya “dupes” bisa jadi peluang bagi perusahaan besar untuk memperkuat citra merek sekaligus menjaga relevansinya di tengah budaya konsumsi era digital.
Sophie Hardie, Client Director di Goat Agency, menilai jenama-jenama premium tidak perlu khawatir reputasinya akan rusak.
“Alih-alih melawan tren ‘dupes’, merek-merek premium sebaiknya memanfaatkannya untuk berinteraksi secara lebih santai dengan budaya pop. Mereka perlu merangkulnya secara langsung dan autentik agar dapat menarik konsumen baru sekaligus menunjukkan kepercayaan diri terhadap kekuatan mereknya,“ tukas Hardie.
Bagaimana pendapatmu tentang tren “dupes”? Menurutmu, apa membeli “dupes” merupakan keputusan ekonomi yang masuk akal? Atau adakah produk tertentu yang menurutmu tetap lebih tepat untuk dibeli dari merek premiumnya?
Editor: Sekar Kinasih