Menuju konten utama

Merasa Kesepian Bukan Berarti Kamu Harus Jadi Ekstrovert

Kesepian bukan berarti kamu kurang asyik atau tidak disukai. Kesepian kerap hadir di fase-fase transisi: lulus kuliah, pindah kos, atau setelah putus cinta.

Merasa Kesepian Bukan Berarti Kamu Harus Jadi Ekstrovert
Header Diajeng Mengatasi Kesepian. FOTO/iStockphoto

diajeng.id - Malam-malam terasa panjang. Kamu membuka chat di WhatsApp atau DM di Instagram, tanpa tahu harus menghubungi siapa. Iya, kamu punya teman, tetapi rasanya mereka tidak cukup dekat dan akrab untuk diajak mengobrol.

Seiring kamu berselancar di lini masa media sosial, kamu mulai menyadari banyak orang terlihat bahagia, sedangkan dirimu merasa semakin sendirian.

Kesepian bukan berarti kamu tidak punya siapa-siapa. Merasa sepi bisa jadi semacam pertanda bahwa kebutuhan koneksi emosionalmu sedang tidak terpenuhi. Tenang saja, itu manusiawi. Bukan kegagalan kita sebagai makhluk sosial.

Curhat di media sosial boleh saja. Sayangnya, interaksi di semesta digital yang nyaris tanpa pagar batas tersebut belum tentu memberikan kedekatan nyata, bahkan kadang-kadang malah berisiko memperlebar jurang kekosongan di dalam hati.

Apa yang Bisa Dilakukan Saat Merasa Kesepian?

Saat kesepian datang, kita biasanya mungkin bingung harus mulai dari mana.

Apakah harus langsung mencari teman? Haruskah lebih sering keluar rumah, atau justru diam saja sampai perasaan itu lewat dengan sendirinya?

Tidak semua rasa sepi perlu diatasi dengan keputusan atau langkah yang besar. Coba pertimbangkan strategi sederhana yang menenangkan diri, memberikan rasa arah, dan dapat membantu membangun koneksi berarti.

1. Tenangkan dulu tubuh dan pikiran

Saat merasa kesepian, pikiran sering jadi berisik dan overthinking. Maka penting untuk pertama-pertama menenangkan diri.

Pertimbangkan untuk jalan kaki sebentar, duduk di taman, atau sekadar membuka jendela dan merapikan tempat tidur di kamar.

Peregangan ringan, mendengarkan musik atau siniar, dan teknik mindfulness sederhana seperti fokus pada napas juga membantu. Sebisa mungkin, kurangi scrolling di medsos tanpa tujuan. Kalau tubuh kita tenang, kondisi emosional biasanya jadi lebih stabil.

2. Isi waktu dengan aktivitas bermakna

Rasa kesepian sering menguat ketika hari-hari kita kosong atau tidak ada agenda. Mengisi waktu dengan berbagai aktivitas penting untuk memberikan rasa arah, alih-alih bentuk pelarian.

Coba pertimbangkan untuk kembali ke hobi lama, mencoba aktivitas kreatif, membaca, atau berolahraga.

Rutinitas sederhana seperti tidur teratur, merapikan kamar, dan merawat diri juga memberi rasa kestabilan. Tetapkan satu tujuan kecil setiap hari agar kamu tetap merasa hari itu berarti.

3. Bangun koneksi kecil

Koneksi tidak harus langsung dalam. Kamu bisa mengirim pesan singkat, “Apa kabar?” ke teman-teman yang punya relasi baik. Kamu bisa mengobrol ringan dengan orang sekitar atau tetangga tentang hiburan terbaru. Sekadar berada di ruang publik pun berpotensi membantu mengurangi rasa terisolasi.

Kamu tetap sendiri, akan tetapi kamu tidak sepenuhnya sendirian. Kedekatan biasanya tumbuh dari interaksi kecil yang konsisten.

4. Ekspresikan perasaanmu

Rasa kesepian sering membuncah saat dipendam. Coba tulis apa yang kamu rasakan dengan jujur, atau buat daftar tentang apa yang sebenarnya kamu rindukan. Kalau memungkinkan, cobalah mengobrol dengan orang yang dipercaya.

Apabila kesepian terasa sangat intens dan berlangsung lama, pertimbangkan untuk mencari bantuan profesional.

Di balik stereotip negatif tentang keputusan untuk meminta bantuan pada profesional kesehatan mental, langkah ini penting sebagai proses kita untuk memahami kebutuhan diri sendiri.

5. Cari keterhubungan dengan memberi

Memberi bisa menghadirkan rasa terhubung. Membantu keluarga, merawat binatang peliharaan, melakukan kebaikan kecil, atau ikut kegiatan sosial membuatmu merasa dibutuhkan. Perlahan, kesan dan perasaan sepi bisa jadi memudar.

7. Waspadai coping yang memperparah

Terlalu bergantung pada media sosial, membandingkan hidup dengan orang lain, atau mengisolasi diri lebih lama bisa membuat rasa kesepian semakin menyiksa.

Sementara itu, pelarian seperti binge watching secara berlebihan atau belanja impulsif hanya memberi nyaman sesaat.

Sadari kebiasaan apa saja yang benar-benar membantu, dan mana yang justru membuat relung jiwa semakin kosong.

Penting diingat, kesendirian dan kesepian adalah dua hal berbeda.

Kesendirian (solitude) bisa terasa menenangkan memberi ruang untuk berpikir, bernapas, dan mengenal diri sendiri, sedangkan kesepian (loneliness) sering menghadirkan rasa kosong karena kebutuhan koneksi emosional belum terpenuhi.

Tidak semua orang harus menjadi sangat sosial atau selalu dikelilingi banyak orang. Tujuan mengelola kesepian bukan untuk mengubah diri kita menjadi ekstrovert, melainkan agar kita dapat membangun koneksi yang cukup dan bermakna.

Selain itu, kesepian bukan pula tanda kamu kurang asyik atau tidak disukai. Kesepian sering muncul di fase-fase transisi hidup saat lulus kuliah, pindah tempat tinggal, memasuki usia dewasa, atau setelah putus hubungan asmara.

Kesepian tidak mesti dilenyapkan hari ini juga. Cukup kelola dengan cara yang sehat dan pelan-pelan, agar dampak negatifnya tidak sampai menguasai seluruh hari-harimu.

Baca juga artikel terkait SUPPLEMENT CONTENT atau tulisan lainnya dari Risa Fajar Kusuma

diajeng.id - Diajeng
Kontributor: Risa Fajar Kusuma
Penulis: Risa Fajar Kusuma
Editor: Sekar Kinasih