Menuju konten utama

Cara Mengatasi Sleep Regression pada Bayi dan Penyebabnya

Sleep regression biasanya dipicu oleh proses tumbuh kembang bayi, seperti lonjakan perkembangan otak, pertumbuhan fisik, atau perubahan rutinitas.

Cara Mengatasi Sleep Regression pada Bayi dan Penyebabnya
Ilustrasi - Bayi Perempuan. FOTO/iStockphoto

diajeng.id - Sleep regression pada bayi merupakan fase ketika bayi yang sebelumnya sudah memiliki pola tidur cukup teratur mendadak mengalami perubahan, seperti sulit tidur, lebih sering terbangun di malam hari, atau durasi tidur siangnya menjadi lebih singkat dari biasanya.

Kondisi ini umumnya hanya berlangsung sementara dan kerap muncul pada tahap-tahap tertentu dalam proses tumbuh kembang bayi.

Penyebab Sleep Regression

Sleep regression biasanya dipicu oleh proses tumbuh kembang bayi, seperti lonjakan perkembangan otak, pertumbuhan fisik, atau perubahan rutinitas harian yang memengaruhi pola tidurnya.

1. Kondisi Kesehatan

Masalah kesehatan seperti pilek, flu, iritasi kulit, atau gangguan pencernaan seperti perut kembung dapat menyebabkan bayi merasa tidak nyaman dan sering terbangun.

2. Perubahan Kebutuhan Tidur

Seiring bertambahnya usia, kebutuhan tidur bayi ikut berubah. Ia mungkin mulai mengurangi durasi tidur siang atau memiliki waktu tidur malam yang berbeda dari sebelumnya.

3. Perkembangan Otak

Pada tahap tertentu, otak bayi mengalami perkembangan yang sangat cepat, terutama dalam kemampuan belajar dan beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Proses ini dapat membuat pola tidur yang sebelumnya teratur menjadi terganggu.

4. Lonjakan Pertumbuhan

Saat memasuki masa growth spurt, kebutuhan nutrisi bayi meningkat. Rasa lapar di malam hari bisa membuatnya lebih sering terbangun dari tidur.

5. Tumbuh Gigi

Proses munculnya gigi sering menimbulkan rasa tidak nyaman pada gusi. Kondisi ini dapat membuat bayi rewel dan tidurnya menjadi kurang nyenyak.

6. Ketergantungan pada Pengasuhan

Bayi bisa menjadi lebih bergantung pada bantuan orangtua untuk tertidur, seperti digendong atau disusui. Ketika terbangun di malam hari, ia mungkin membutuhkan cara yang sama untuk bisa tidur kembali.

7. Perubahan Lingkungan

Perubahan rutinitas atau suasana tidur, misalnya saat bepergian atau pindah tempat tidur, dapat membuat bayi kesulitan beradaptasi sehingga pola tidurnya terganggu.

8. Tahap Perkembangan (Milestone)

Saat mencapai kemampuan baru seperti merangkak atau berjalan, bayi sering kali memiliki energi berlebih atau terlalu bersemangat, sehingga menjadi lebih sulit untuk tidur.

Ciri-ciri Sleep Regression

Gejala sleep regression pada bayi bisa berbeda-beda pada setiap bayi, tergantung usia, penyebab, serta kondisi masing-masing. Meski begitu, ada beberapa tanda umum yang sering muncul selama fase ini.

  • Bayi terbangun lebih sering di malam hari, bisa setiap beberapa jam bahkan lebih dari biasanya.
  • Mengalami kesulitan untuk mulai tidur di awal malam atau sulit kembali terlelap setelah terbangun.
  • Durasi tidur siang menjadi lebih singkat atau bayi tampak susah tidur di siang hari.
  • Menjadi lebih rewel, gelisah, atau mudah marah karena waktu istirahatnya berkurang.
  • Terbangun sambil menangis atau terlihat ketakutan, seperti mengalami mimpi buruk.
  • Nafsu makan berubah karena lebih sering bangun di malam hari.
  • Sulit menenangkan diri sendiri untuk kembali tidur seperti sebelumnya.

Cara Mengatasi Sleep Regression

Menghadapi fase sleep regression memang bisa melelahkan, tetapi kondisi ini umumnya hanya berlangsung sementara. Dengan pendekatan yang tepat dan konsisten, kamu bisa membantu bayi kembali memiliki pola tidur yang lebih teratur serta membuat fase ini terasa lebih ringan untuk dijalani.

1. Ciptakan suasana tidur yang nyaman

Pastikan kamar bayi terasa tenang, redup, dan tidak bising. Jika perlu, gunakan lampu dengan cahaya lembut atau alunan musik yang menenangkan agar ia lebih mudah terlelap.

2. Berikan lebih banyak perhatian dan rasa aman

Di masa sleep regression, bayi bisa menjadi lebih membutuhkan kedekatan. Sentuhan lembut, pelukan, atau suara yang menenangkan dapat membantu membuatnya merasa aman.

3. Bedakan suasana siang dan malam

Bantu bayi mengenali perbedaan waktu dengan menciptakan suasana siang yang terang dan aktif, serta malam yang lebih hening dan minim cahaya.

4. Perhatikan kondisi fisiknya

Pastikan tidak ada ketidaknyamanan seperti nyeri karena tumbuh gigi atau gangguan pencernaan yang bisa menghambat tidurnya. Berikan penanganan yang sesuai bila diperlukan.

5. Dukung pembentukan pola tidur yang sehat

Bangun kebiasaan tidur yang konsisten agar bayi perlahan mampu menyesuaikan kembali siklus tidurnya. Pendampingan yang sabar sangat membantu di fase ini.

6. Kenali kebutuhan stimulasi di siang hari

Pastikan bayi mendapatkan aktivitas yang cukup sepanjang hari. Perhatikan tanda lelah atau overstimulasi agar ia tidak terlalu capek atau justru sulit tidur.

7. Biasakan tidur secara mandiri

Jika bayi terbiasa tertidur dengan bantuan, latih secara perlahan agar ia bisa tidur sendiri. Coba letakkan ia di tempat tidur saat sudah mengantuk tetapi belum sepenuhnya tertidur.

8. Pertahankan rutinitas sebelum tidur

Lakukan kebiasaan yang sama setiap malam, seperti mandi hangat, membacakan cerita, atau menyanyikan lagu lembut. Rutinitas yang konsisten membantu bayi lebih siap untuk tidur.

Sleep Regression Berapa Lama?

Lama berlangsungnya sleep regression bisa berbeda pada setiap bayi, namun umumnya fase ini terjadi sekitar 2 hingga 6 minggu.

Perlu diingat, tiap bayi memiliki perkembangan yang unik, sehingga ada yang mengalaminya lebih singkat atau justru sedikit lebih lama dibandingkan yang lain.

Baca juga artikel terkait SUPPLEMENT CONTENT atau tulisan lainnya dari Risa Fajar Kusuma

diajeng.id - Diajeng
Kontributor: Risa Fajar Kusuma
Penulis: Risa Fajar Kusuma
Editor: Risa Fajar Kusuma & Dhita Koesno