diajeng.id - "Saya sudah bilang berkali-kali: tidak mau makan! Kamu ngapain anak masih muda begitu memaksa-maksa saya yang lebih tua ini untuk makan?!"
Sarah (33) ingat betul kalimat tersebut diucapkan dengan keras oleh neneknya yang berusia 86 tahun pada seorang caregiver yang sedang berupaya dengan sabar membujuknya makan meski hanya sesuap nasi.
Kondisi kesehatan sang nenek terus menurun. Meskipun obat serta infus sudah diberikan, asupan nutrisi langsung tetap menjadi prioritas utama. Namun, setiap upaya tersebut hampir selalu berujung pada penolakan dan amarah dari sang nenek.
Sarah merasa terjepit di antara rasa sayang dan frustrasi melihat keras kepalanya sang nenek yang justru memperburuk kondisi kesehatannya sendiri.
Sementara itu, Putra (34) menghadapi dilema yang berbeda.
Sebelum meninggal dunia karena sakit, sang ayah memiliki kebiasaan mengonsumsi obat-obatan keras secara mandiri karena merasa obat tersebut memberikan "kenyamanan" instan bagi tubuhnya.
Padahal, penggunaan obat-obatan tersebut wajib di bawah pengawasan ketat dokter dan tidak dianjurkan untuk jangka panjang.
Meski sudah diingatkan oleh menantunya yang berprofesi sebagai dokter, ayah Putra bergeming.
Selain itu, sang ayah sering kali menyepelekan nasihat medis dan menganggap para dokter yang lebih muda tidak memahami "pengalaman sakit" yang telah ia jalani selama puluhan tahun, jauh sebelum para dokter memulai pendidikan profesinya.
Cerita Sarah dan Putra hanyalah segelintir contoh dari fenomena yang dialami banyak anak usia dewasa ketika menghadapi orang tuanya yang bertambah usia.
Kita sering melihat orang tua yang memaksa mengonsumsi makanan pantangan, melakukan aktivitas fisik yang berisiko, atau menolak bantuan medis yang sangat mereka butuhkan.
Setiap kali nasihat diberikan, yang terjadi justru pertengkaran hebat yang merenggangkan hubungan.
Bukan Sekadar Penolakan, Upaya Menjaga Jati Diri
Lalu, apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa semakin bertambah usia, ada kecenderungan pada orang tua untuk menjadi begitu sulit dalam menerima saran?
Penting untuk dipahami bahwa sikap yang sering kita labeli sebagai "keras kepala" sebenarnya berakar pada hal yang lebih kompleks.
Berdasarkan studi berjudul berjudul "'My Parent is so Stubborn!'—Perceptions of Aging Parents’ Persistence, Insistence, and Resistance"di Journal of Gerontology, Series B: psychological sciences and social sciences (2016), perilaku ini acap kali merupakan upaya untuk mempertahankan otonomi dan identitas diri, alih-alih sekadar resistensi tanpa alasan.
Dalam kondisi ini, mempertahankan pendapat atau kebiasaan tertentu menjadi cara mereka untuk menjaga martabat dan kemerdekaan pribadi.
Mereka ingin tetap dianggap sebagai orang dewasa yang mampu menentukan nasib sendiri, bukan seperti anak kecil yang harus terus diatur.
Oleh karena itu, kita perlu mengubah gaya komunikasi menjadi lebih kolaboratif dan menghormati kemandirian mereka, alih-alih memberikan perintah yang terkesan mendikte.
Strategi Menghadapi Orang Tua yang Sulit Mendengar Saran
Berdasarkan saran para ahli, berikut adalah beberapa strategi praktis yang bisa diterapkan ketika menghadapi orang tua yang keras kepala dan sulit diberi tahu seperti dirangkum dari CNN, Aging Care, dan The GreenFields:
1. Terima Realitas Kita Tidak Bisa Mengontrol Mereka
Langkah pertama adalah menyadari bahwa mereka adalah orang dewasa yang memiliki hak untuk membuat keputusan sendiri, bahkan keputusan yang buruk sekalipun.Menerima kenyataan bahwa "kita bisa menuntun kuda ke air, tetapi kita tidak bisa memaksanya minum" dapat mengurangi stres yang dirasakan secara signifikan.
2. Pilih Jalan Berdamai
Jangan mempermasalahkan setiap hal kecil. Fokuslah hanya pada masalah keselamatan yang kritis, seperti risiko jatuh atau kondisi kesehatan berat.Kalau masalahnya sepele seperti cara berpakaian atau hobi yang sedikit mengganggu, mungkin lebih baik untuk membiarkannya saja agar komunikasi tetap terjaga untuk hal-hal yang lebih penting.
3. Gunakan Teknik "Demi Anak atau Cucu"
Jika orang tua enggan berubah demi diri sendiri, cobalah sampaikan bahwa perubahan tersebut demi ketenangan pikiran kita sebagai anaknya.Coba pertimbangkan kalimat seperti, "Ibu, tolong nurut dulu demi saya, supaya saya tidak terlalu khawatir sama ibu dan bisa bekerja dengan tenang."
Kalimat demikian berpotensi lebih efektif daripada mendebat secara logika.
4. Hargai Kemandirian Mereka dan Jangan Terlalu Menggurui
Hindari perilaku yang memperlakukan mereka seperti anak kecil (infantilizing). Menghadapi orang tua yang keras kepala berbeda dengan menghadapi anak kecil yang nakal. Mereka tetap orang tua kita yang menginginkan rasa hormat.
5. Cari Tahu Penyebab di Balik Perilaku Tersebut
Tanyakan pada diri sendiri, apakah mereka bersikap demikian karena rasa takut, depresi, atau mungkin gejala awal demensia?Perubahan kepribadian yang drastis kadang-kadang juga bisa menjadi indikasi adanya masalah medis seperti infeksi saluran kemih (ISK) atau masalah neurologis lainnya.
6. Libatkan Pihak Ketiga
Dalam beberapa kasus, orang tua lebih mau mendengar saran dari pihak luar seperti dokter, penasihat keuangan, atau teman lama dibandingkan dari anaknya sendiri.Apabila mereka menolak bantuan di rumah, cobalah perkenalkan caregiver profesional secara perlahan sebagai "pendamping" atau "teman".
7. Tetapkan Batasan dan Cari Dukungan
Jangan biarkan diri kita mengalami burnout sendiri.Ketika perilaku orang tua sudah menjurus pada kekerasan emosional atau tuntutan yang tidak masuk akal, sangat penting untuk menetapkan batasan yang tegas dan mencari tempat untuk mencurahkan perasaan, baik itu kepada teman maupun profesional.
Menghadapi orang tua yang sulit menerima saran memang membutuhkan kesabaran yang luar biasa.
Namun, dengan memahami bahwa di balik "keras kepala" tersebut ada keinginan untuk tetap dihargai, kita bisa membangun jembatan komunikasi yang lebih baik tanpa harus selalu berujung pada konflik.
Artikel lainnya seputar hubungan orang tua dan anak juga bisa dibaca melalui tautan ini.
Editor: Sekar Kinasih