Menuju konten utama

Menceritakan Sejarah "Sulit" ke Anak Sesuai Tahapan Usia

Tantangannya lebih pada teknik bercerita dengan bahasa yang sesuai usia, penuh kehangatan, dan tetap jujur pada makna sejarah itu sendiri.

Menceritakan Sejarah
Header Diajeng Mengajarkan Sejarah ke Anak. tirto.id/Quita

diajeng.id - Ada bagian dari sejarah yang indah dan membanggakan, tetapi ada pula yang kelam dan penuh luka.

Sebut di antaranya genosida yang dilakukan oleh Israel terhadap warga Palestina di jalur Gaza atau invasi Rusia ke Ukraina, yang korbannya termasuk anak-anak.

Sebagai orang tua, sebagian besar dari kita mungkin sering merasa bingung: bagaimana menjelaskan peristiwa-peristiwa sulit itu kepada anak tanpa menakut-nakuti mereka?

Di sisi lain, justru dari sejarah kelam itulah anak-anak bisa belajar tentang empati, keberanian, dan arti kemanusiaan.

Tantangannya bukan pada apakah kita harus menceritakannya, melainkan bagaimana caranya, dengan bahasa yang sesuai usia, penuh kehangatan, dan tetap jujur pada makna sejarah itu sendiri.

Cara Bicara Sejarah "Sulit" ke Anak

Berikut ini beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menyampaikan sejarah "sulit ke anak sesuai tahapan usianya.

Untuk anak usia 5-11 tahun

Dikutip BBC, pada usia ini, anak mulai mengenal konsep waktu (“dulu”, “sekarang”, “besok”) dan bisa diajak bercerita tentang masa lalu lewat permainan atau kisah sederhana.

Ada tips yang bisa dilakukan sebagai pengenalan:

1. Gunakan pendekatan seperti bermain detektif

Misalnya, ajak anak mencari tahu “Siapa itu Cut Nyak Dien?” atau “Kenapa orang dulu memakai pakaian berbeda?”

2. Gunakan media yang beragam

Bacakan buku bergambar, tonton video pendek, atau mainkan permainan peran (misalnya berpura-pura jadi tokoh sejarah).

3. Libatkan kegiatan kreatif

Menggambar peristiwa sejarah, membuat miniatur bangunan bersejarah, atau bahkan memasak makanan tradisional dari suatu daerah.

Yang terpenting dan perlu diingat juga adalah jangan fokus pada kekerasan atau tragedi dulu. Tekankan nilai-nilai seperti keberanian, kerja sama, dan kebaikan hati.

Untuk anak usia 11-18 tahun

Di rentang waktu usia ini, anak mulai mampu berpikir lebih kritis dan memahami sebab-akibat.

Pada tahap ini, mereka bisa diajak untuk:

1. Mengajukan pertanyaan dan mencari jawabannya

Contohnya, “Mengapa Presiden Soekarno diasingkan ke Rengasdengklok?” atau “Apa yang membuat Indonesia bisa merdeka?”

2. Menggabungkan sumber informasi

Mereka bisa membaca buku, menonton dokumenter pendek, lalu mendiskusikan maknanya.

3. Menyampaikan kembali temuan mereka

Bisa dengan menulis cerita pendek, membuat poster, atau mempresentasikan hasilnya di rumah.

Kita juga bisa membantu mereka melihat bahwa sejarah bukan hanya tentang peristiwa besar, tapi juga tentang orang-orang biasa yang berani membuat perubahan.

Laman Honest History menyebutkan, dalam membantu anak memahami bagian sejarah yang sulit, seperti perang, konflik, atau tragedi, orang tua bukan hanya berperan sebagai pengajar tunggal, tapi juga menjadi pendamping yang hangat dan penuh empati.

Maka dari itu, ketika ingin membicarakan hal-hal yang sulit termasuk kisah sejarah yang kelam, hal pertama yang perlu dilakukan sebagai pendekatan adalah mendengarkan dengan sungguh-sungguh.

Orang tua bisa memulainya dengan mengajukan pertanyaan, seperti, "Cerita apa yang sudah pernah kamu dengar?” atau, “Menurutmu, cerita itu bagaimana?”

Pertanyaan terbuka demikian membantu kita mengetahui dari mana pemahaman mereka berasal, apakah dari sekolah, teman, atau media sosial, sekaligus memberi ruang untuk meluruskan hal-hal yang mungkin mereka salah pahami.

Kita kemudian bisa melanjutkan dengan penjelasan bahwa perang, perebutan kekuasaan, atau masa-masa gelap lain dalam sejarah bukan hal baru bagi dunia.

Dalam riwayat panjang kemanusiaan, umat manusia itu sendiri telah melewati banyak masa sulit. Namun begitu, di balik segala tantangan yang bermunculan, manusia selalu berusaha mencari jalan menuju perdamaian.

Sampaikan bahwa selalu ada orang-orang yang berjuang untuk membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik, meskipun waktunya lama.

Yang tak kalah penting, bersikaplah jujur dan terbuka.

Anak-anak bisa merasakan bila kita menyembunyikan sesuatu.

Tanpa perlu menceritakan semua hal secara detail, cukup jelaskan sesuai usia mereka.

Anak-anak sering tertarik pada tindakan nyata. Maka, orang tua dapat memberi contoh konkret: bagaimana negara-negara bekerja sama untuk mencari jalan keluar, tentang upaya organisasi dunia menghentikan konflik, atau bagaimana orang biasa menolong sesamanya di masa sulit.

Selanjutnya, sesuaikan penjelasan dengan usia.

Anak usia lima tahun melihat dunia dengan cara yang berbeda dari anak berusia sepuluh tahun. Ceritakan dengan bahasa sederhana, gunakan peta, gambar, atau bola dunia untuk membantu mereka membayangkan tempat dan peristiwa yang sedang dibicarakan.

Apabila kita sebagai orang tua tidak tahu jawaban dari pertanyaan yang anak ajukan, jangan ragu untuk mengakui, "Ayah/Ibu belum tahu tentang itu.”

Dunia penuh ketidakpastian. Artinya, anak perlu belajar bahwa tidak semua hal bisa dijawab saat itu juga. Meski begitu, yang terpenting adalah mereka dapat merasa yakin dan aman untuk bertanya pada orang tua, bahkan ketika jawabannya belum ditemukan.

Selain itu, izinkan mereka merasakan apa yang mereka rasakan. Sedih, takut, bingung, semua itu adalah hal wajar. Empati justru tumbuh dari keberanian untuk merasakan.

Pada waktu sama, pastikan juga untuk menenangkan mereka. Anak-anak akan meniru emosi orang dewasa. Jadi, biasakan untuk berbicara ketika diri kita sendiri sudah tenang.

Dengan begitu, anak belajar bahwa sejarah bukan pelajaran yang menakutkan, tetapi merupakan bagian dari kisah hidup manusia, tentang keberanian, kegigihan, dan harapan.

Baca juga artikel terkait SEJARAH atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih