Menuju konten utama

Dari Garasi Rumah, Khairunnisa Rintis Bisnis Photo Booth

Dihadapkan pada tantangan cari kerja selulus kuliah, Khairunnisa Mukinin (24) di Kabupaten Bogor berinisiatif membuka studio foto estetik di rumahnya.

Dari Garasi Rumah, Khairunnisa Rintis Bisnis Photo Booth
Tak lama setelah lulus kuliah, Khairunnisa Mukinin (24) mendirikan Smolly Photoworks di garasi rumahnya di Kabupaten Bogor. tirto.id/Syifa Khairunnisa Zahrah

diajeng.id - Di mana kamu biasanya mengakses jasa studio self-photo atau photo booth?

Umumnya photo booth ditemukan di dalam mall atau pusat perbelanjaan. Namun, siapa sangka, jasa photo booth yang tak kalah kreatifnya juga bisa kita jumpai di sebuah rumah alias bangunan tempat tinggal. Salah satunya terletak tak jauh dari Institut Pertanian Bogor (IPB) Dramaga di Kabupaten Bogor.

Di sebuah rumah di pinggir jalan yang ramai dengan orang lalu-lalang, satu ruangan yang awalnya diperuntukkan sebagai garasi telah disulap menjadi studio foto yang terang dan nyaman.

Di sudut ruangan, terdapat spot foto dengan rel tinggi untuk menggantungkan dua kain tirai warna hijau dan pola polkadot hitam. Di sampingnya, tersedia rak berisi kostum lucu dan aksesori kepala seperti topi dan bando.

Di sisi dinding lainnya, tirai bermotif polkadot merah bisa dijadikan alternatif latar bagi yang ingin berfoto dengan pose lain; duduk nyaman di kursi empuk bean bag.

Papan akrilik berisi kode QRIS untuk membayar jasa foto tersedia di atas meja dengan motif taplak kotak-kotak kuning yang dihias dengan vas bunga warna-warni menarik hati.

Diajeng Bisnis photo booth

Berbagai macam latar belakang foto studio dan spot foto di Smolly Photoworks di garasi rumah Isa di Kabupaten Bogor. tirto.id/Syifa Khairunnisa Zahrah

Di tangan Khairunnisa Mukinin (24) atau kerap disapa Isa, garasi rumah berhasil bertransformasi menjadi studio foto yang estetik. Jasa photo booth dan self photo studio yang Isa namai Smolly Photoworks ini mulai beroperasi sejak Juni 2026, tak lama setelah dia lulus kuliah.

Begitu lulus, Isa dihadapkan pada tantangan mencari pekerjaan. Di sisi lain, Isa mengaku memiliki dorongan kuat untuk segera mengaplikasikan berbagai ilmu dan keterampilan yang telah diperolehnya selama masa perkuliahan.

Maka, bermodalkan hobi fotografi, kamera lama yang sudah dimilikinya sejak zaman kuliah, dan latar belakang keilmuan di bidang jurnalistik, Isa berinisiatif mendirikan jasa foto dengan membangun studio kecil di sudut rumahnya.

Membuka bisnis foto yang jauh dari pusat Kota Bogor, menurut Isa, bukan masalah. Sebab, lokasi rumahnya masih tergolong strategis, hanya sekitar 15 menit perjalanan kaki atau sekitar satu kilometer dari selatan Kampus Dramaga IPB yang padat dengan aktivitas mahasiswa.

“Aku rasa mereka juga butuh spot buat hangout dan mengekspresikan diri karena photo booth jauh banget di kota. Jadi aku mikir, kayaknya bisa nih kalo aku buka photo booth,” ujar Isa.

Smolly Photoworks menawarkan 100 lebih bingkai foto, dari karakter Toy Story, Nailong, Spider-Man hingga koleksi bingkai K-pop, yang memiliki warna, motif, dan desain unik.

Jasa untuk sekali foto dan dua strip photo bisa dibanderol seharga Rp15 ribu saja.

Diajeng Bisnis photo booth

Isa menunjukkan bilik foto yang tersedia di Smolly Photoworks. tirto.id/Syifa Khairunnisa Zahrah

Tren berfoto di layanan photo booth kini semakin diminati, terutama oleh generasi muda di kawasan perkotaan. Momen-momen berkesan dalam hidup bersama geng pertemanan, kencan dengan pacar, sampai wisuda, menjadi abadi lewat memento fisik berupa lembaran foto.

Secara global, industri studio self-photo dan photo booth mengalami lonjakan signifikan.

Menurut catatan Global Market Insights dan Intel Market Research, pada 2024, nilai pasarnya diperkirakan mencapai Rp15,3 triliun dan diproyeksikan akan menembus sekitar Rp27 triliun pada tahun 2034 dengan tingkat pertumbuhan tahunan berkisar 5,8 persen.

Kawasan Asia Pasifik, termasuk Indonesia, menjadi wilayah yang mencatat laju pertumbuhan photo booth dan studio self-photo tercepat, seiring tingginya antusiasme pasar anak muda.

Seperti ditunjukkan oleh Isa, jasa self-photo atau photo booth pun membuka lembaran baru bagi pertumbuhan sektor ekonomi kreatif di Indonesia, tak terkecuali di daerah pinggir kota atau kawasan kabupaten.

Diajeng Bisnis photo booth

Hasil cetakan foto yang dipajang di Smolly Photoworks. tirto.id/Syifa Khairunnisa Zahrah

Lika-Liku Membangun Bisnis Studio Foto Sendiri

Sejak awal membuka Smolly Photoworks, Isa mengerjakan semuanya sendirian; mulai dari menjadi admin, memproduksi konten untuk promosi Instagram dan TikTok, hingga melayani pengunjung. Seluruh modal usaha pun berasal dari tabungan Isa sendiri.

Meski tidak memiliki pengalaman dan ilmu di dunia bisnis, latar belakang perkuliahan di bidang jurnalistik sangat membantu Isa dalam mengelola Smolly Photoworks. Keterampilan menulis copywriting dan membuat konten, misalnya, sangat membantu untuk digital marketing atau mempromosikan bisnis via internet.

Namun, Isa mengakui, perlu keluwesan ekstra dalam memanfaatkan media sosial untuk promosi. Sebagai contoh, Isa perlu membiasakan diri membuat dua konten dengan format yang berbeda untuk masing-masing platform (Instagram dan TikTok) karena keduanya memiliki karakteristik, gaya audiens, dan algoritma yang khas.

Tantangan lain yang Isa hadapi adalah fakta bahwa lingkungan di sekitarnya belum akrab dengan jasa photo booth. Situasi ini menuntut kesabaran ekstra dari Isa untuk menjawab rasa penasaran warga yang baru pertama kali singgah ke studionya.

“Di awal, orang-orang di sini belum tahu photo booth itu apa, bahkan waktu dateng, mereka beneran nggak tahu, ‘Kak, photo booth itu kayak gimana sih?’ Jadi mereka datang buat bertanya,” jelas Isa.

Salah satu strategi yang Isa terapkan untuk mengundang pelanggan lebih banyak adalah dengan menawarkan desain custom frame atau karakter sesuai permintaan.

Biasanya, permintaan datang dari pasangan yang ingin custom frame untuk merayakan ulang tahun kekasihnya.

“Jujur, capek mikirin idenya. Tapi itu yang bikin mereka datang karena bisa custom. Aku bahkan mendesain langsung di depan mereka. Aku tanya, ‘Kamu suka warna apa?’ Aku bener-bener bikinkan [baru] untuk mereka,” kata Isa.

Selama ini, operasional photo booth identik dengan batasan ruang fisik studio. Pelanggan datang, berganti gaya dalam durasi yang ditentukan, lalu pulang membawa cetakan foto.

Namun, Isa melihat peluang di luar tembok studionya. Melalui kolaborasi strategis dengan berbagai organisasi, seperti kepanitiaan mahasiswa di IPB, Isa merakit dan mengemas perangkat photo booth untuk diboyong langsung ke area kampus. Sekali kolaborasi, strategi “jemput bola” ini dapat meraih hingga 300 pelanggan.

Diajeng Bisnis photo booth

Aksesori bando dengan berbagai macam karakter dan warna untuk foto di Smolly Photoworks. tirto.id/Syifa Khairunnisa Zahrah

Berangkat dari Intuisi

Isa percaya bahwa intuisi berperan penting dalam mendorongnya berbisnis.

“Women’s intuition bisa dibilang berperan banget. Begitu intuisi itu datang di hati kita, ikutin aja terus. Nekat? Nekat aja gapapa. Kalau pun nekat, semua ada perhitungannya. Menurut aku, nggak mungkin orang nekat nggak memperhitungkan modal rugi atau untung. Jadi kalau sudah ada gut-nya [feeling], kemauannya, ikutin aja. Kalau kamu sudah memperhitungkan itu di dalam kepala, just follow your intuition,” kata Isa.

Untung-rugi dalam urusan bisnis merupakan hal yang biasa. Isa sadar bahwa jika dirinya mencoba berbisnis, pemasukannya di awal-awal usaha tidak akan sebesar teman-temannya yang menerima gaji dari kerja kantoran. Namun, ada nilai lain yang Isa lihat dari pilihan berbisnis.

“Aku tahu, bisnis ini balik modalnya bakalan lama sekali. Tapi setidaknya aku punya pekerjaan yang bisa bikin aku mikir, ada kegiatan. Karena kalo aku cuma mengandalkan pekerjaan di luar, aku belum tentu punya kebebasan yang aku butuhkan,” ujar Isa.

Di luar kesibukan mengelola studio foto, Isa rutin berolahraga. Sebelum studionya dibuka, Isa melakukan aktivitas lari atau yoga di rumah. Setelah jam kerja, Isa biasanya exercise di gym. Isa juga suka solo traveling, yang biasanya dilakukan setiap Senin, ketika studionya libur.

“Aku merasa alive ketika melakukan hobi. Banyak orang di luar sana yang bertaruh untuk mendapatkan kebebasan ini, kebebasan untuk menjalani hobi. Mungkin itu harga yang harus aku bayar [dengan buka bisnis photo booth]. Mungkin iya income aku sedikit, gak bisa diprediksi, lebih sedikit dibanding orang-orang kantor, tapi kebebasan ini yang aku punya,” pungkas Isa.

Baca juga artikel terkait DIAJENG PEREMPUAN atau tulisan lainnya dari Syifa Khairunnisa Zahrah

diajeng.id - Binar
Kontributor: Syifa Khairunnisa Zahrah
Penulis: Syifa Khairunnisa Zahrah
Editor: Sekar Kinasih