diajeng.id - Istilah-istilah baru yang berkaitan dengan relasi dan kencan, terutama dalam kaitannya dengan keluwesan umat manusia dalam memanfaatkan teknologi, semakin banyak bermunculan. Setelah kita akrab dengan istilah ghosting, kini muncul dial-toning.
Istilah yang populer di kalangan Gen Z ini menggambarkan situasi canggung ketika kita bersedia memberikan nomor telepon kepada teman kencan, tetapi kemudian, ketika kita dihubungi olehnya, kita memutuskan untuk mengabaikannya. Dengan kata lain, kita sama sekali tidak berminat menindaklanjuti hubungan tersebut.
Definisi Dial-Toning dan Bedanya dengan Ghosting
Melansir VICE, Julie Nguyen, pelatih kencan tersertifikasi di aplikasi kencan Hily, memaparkan bahwa perilaku ini sering terjadi karena rasa canggung atau bersalah.
Pelaku mungkin memberikan nomor kontak pribadinya hanya untuk menghormati atau karena merasa takut saat melakukan obrolan langsung, misalnya saat disudutkan di tempat ramai seperti di mal atau cafe.
“Dial-toning adalah situasi ketika seseorang memberikan nomor teleponnya, tetapi sebenarnya tidak berniat untuk menjalin hubungan lebih lanjut,” ujar Nguyen.
Pada beberapa kasus lain, kesibukan membuat membalas pesan terasa seperti beban hidup, sehingga pelaku akhirnya melakukan dial-toning tanpa sengaja.
Terdapat perbedaan yang signifikan antara dial-toning dan ghosting. Ghosting terjadi ketika sudah ada relasi, misalnya setelah pergi berkencan beberapa kali, sebelum salah satu pihak menghilang secara tiba-tiba. Sementara dial-toning terjadi sebelum adanya hubungan emosional atau fondasi relasi apa pun terbentuk.
Pengaruh Komunikasi Digital dan Cara Menghadapinya
Artikel Glam berjudul "How Is 'Dial-Toning' Different From Ghosting?" menjelaskan bahwa nama tren ini terinspirasi dari nada sambung telepon analog (dial tone) yang berbunyi terus-menerus ketika panggilan terputus atau tidak tersambung.
Aplikasi kencan Plenty of Fish (yang memopulerkan istilah ini pada tahun 2020) telah melakukan survei dan hasilnya menyebutkan bahwa dial-toning sangat lazim terjadi; sebanyak 60 persen jomblo pernah menjadi korban dan 35 persen responden mengaku pernah melakukannya.
Secara psikologis, konselor hubungan Heidi Gee menjelaskan bahwa peralihan dari interaksi tatap muka ke komunikasi teks menghilangkan bahasa tubuh dan kontak mata.
"Berkirim pesan melalui aplikasi sangat berbeda dengan berbicara secara langsung [atau melalui telepon]," kata Gee.
Dari Sisi Pelaku: Sinyal Menggantung, Ambivalensi Emosional
Laman Indian Express mengungkap dimensi lain dial-toning. Berbeda dengan pemutusan hubungan total, dial-toning juga bisa mencakup tindakan pelaku untuk tetap berada di dalam jangkauan emosional korbannya tanpa benar-benar berniat memacari mereka.
Caranya adalah dengan memberikan sinyal kecil seperti rajin melihat story media sosial (istilahnya lurking), sesekali menyukai unggahannya, atau mengirim emoji acak setiap beberapa minggu.
Menurut survei dari platform QuackQuack, 45 persen responden di kota besar menyetujui bahwa tren ini terus meningkat pesat. Bahkan, 55 persen anak muda berusia 18 hingga 26 tahun mengaku sengaja melakukan dial-toning selama berbulan-bulan.
Kalau kamu menjawab "tidak akan mengejar" dan hanya "menyimpan" teman kencan tersebut untuk validasi ego, berarti kamu sudah menjadikan orang lain sekadar pilihan cadangan, bukan prioritas. Maka, segera hentikan dan berikan kejelasan pada teman kencan yang sudah kamu perlakukan demikian.
Di sisi lain, ada alasan psikologis yang perlu dipahami terkait pelaku dial-toning, terutama perempuan. Bagi sebagian perempuan, memberikan nomor telepon biasanya adalah bentuk mekanisme perlindungan diri.
Di ruang publik atau situasi sosial yang ramai, memberikan nomor telepon (baik nomor asli maupun palsu) secara sopan adalah cara aman untuk mengakhiri interaksi tanpa harus menghadapi potensi konflik langsung.
Selain itu, ketidaksesuaian ekspektasi dan kekhawatiran privasi digital membuat beberapa orang enggan membalas nomor asing, meski berasal dari orang yang pernah mereka temui, demi keamanan pribadi.
Dari Sisi Korban: Dampak Emosional & Pemulihan Kepercayaan Diri
Kalau kamu masih berusaha menjangkau teman kencanmu, hal pertama yang perlu dilakukan adalah tidak mengirim pesan ganda (double text) berulang kali.
Mengirim satu pesan klarifikasi singkat masih wajar jika pesan pertama darimu terkesan membingungkan. Namun, setelah itu, terimalah diamnya mereka sebagai sinyal ketidakpastian atau bukti bahwa mereka memang tidak terampil dalam berkomunikasi.
Selanjutnya, berhentilah untuk melakukan prediksi melalui "story-telling"; ketika tidak ada informasi pasti, otak kita secara otomatis suka mengarang asumsi negatif yang menyakiti diri sendiri.
Cobalah untuk menantang asumsi tersebut, ingatlah berbagai kemungkinan lain yang logis, kemudian alihkan fokus ke perawatan diri (self-care) atau kesibukan produktif lainnya.
Melansir Mentalzon, korban-korban dial-toning sangat mungkin merasa bingung, kecewa, serta ragu-ragu terhadap nilai diri sendiri.
Banyak korban yang akhirnya terjebak dalam siklus terus-menerus mencoba menghubungi pelaku atau memeriksa media sosial mereka demi mencari kejelasan.
Apabila kamu telah menjadi korban dial-toning, coba pertimbangkan cara berikut untuk memulihkan rasa percaya dirimu.
Evaluasi kembali ekspektasi dan alihkan energi untuk membangun hubungan baru yang didasari oleh kejelasan serta timbal balik (reciprocity).
Gunakan sebagai momentum pertumbuhan diri. Alih-alih meratapi penolakan, hargai keberanianmu karena telah bersikap terbuka untuk mencoba terhubung dengan orang lain.
Artikel lainnya seputar relationship juga bisa dibaca di sini.
Editor: Sekar Kinasih