diajeng.id - Kecanggihan teknologi masa kini membuat kita sering berpikir bahwa segala hal bisa dilakukan dengan sekali klik atau diselesaikan lewat rumus algoritma.
Teknologi menjadi jembatan antara kita dan orang-orang terkasih yang terpisah jarak. Teknologi bisa dijadikan teman curhat yang setia, atau dalam konteks yang keliru dan membahayakan bahkan diperlakukan sebagai terapis kesehatan mental.
Teknologi juga konsisten menawarkan hiburan dan kesenangan lewat pengalaman imersif video serta berbagai konten digital lainnya yang bisa kita nikmati bersama orang-orang lain di tempat berbeda.
Kendati begitu, apa iya semua kebutuhan manusia pasti akan terpenuhi lewat teknologi?
Maka tidak heran jika pada satu titik, era hiperkonektivitas teknologi ini malah membuat kita teralienasi dan terpojok dalam kesendirian.
Di tengah segala kepraktisan hidup berkat teknologi, kita mungkin menjalani hari-hari tanpa kehadiran bermakna sesama manusia alias merasa kesepian.
Menariknya, belakangan ini kita mulai menemukan bentuk-bentuk “perlawanan sehat” untuk mengimbangi ketergantungan kita pada teknologi, salah satunya lewat berkomunitas.
Bagi yang suka menggulir Threads, mulai bermunculan ajakan berkomunitas di daerah dekat tempat tinggal. Komunitas ini bervariasi, mulai dari komunitas baca buku dan menggambar, sampai wadah diskusi literasi keuangan ibu-ibu.
Ternyata, ajakan tersebut bersambut hangat. Rasa “haus” untuk terkoneksi dengan sesama manusia ini dirasakan banyak orang. Tidak sedikit warganet yang merespons dan antusias untuk ikut berkumpul dan beraktivitas bersama dalam payung-payung komunitas ini.
Apa Artinya Berkomunitas? Mengapa Penting?
“Sometimes you wanna go where everybody knows your name. And they're always glad you came. You wanna be where you can see, our troubles are all the same.”
Lantunan lirik dari lagu Gary Portnoy di atas mewakili perasaan yang umumnya ingin kita rayakan saat aktif dalam komunitas.
Ketika berkomunitas, kita tidak cukup hanya memosisikan diri di tengah-tengah segerombol orang-orang baru. Berkomunitas artinya kita harus mengusahakan keterhubungan dengan mereka yang baru saja kita temui.
Bagaimana cerita hidupnya? Apa dia punya warna/film/buku/makanan favorit? Apa alasannya gabung ke komunitas ini?
Meski terkesan sepele, koneksi yang terbangun dari kepingan pertanyaan-pertanyaan spontan itulah yang berkontribusi besar dalam memupuk “sense of belonging—rasa kebersamaan”.
Komunitas memberikan ruang untuk menjalin pertemanan baru dengan orang-orang yang sebelumnya tidak kita kenal dan mungkin berasal dari beragam latar belakang.
Bukan tidak mungkin, hubungan paling tulus yang kita jalin dalam komunitas berangkat dari koneksi-koneksi unik. Kamu, sebagai penggemar kucing misalnya, bisa saja klop dengan temanmu yang penggemar anjing setelah kalian berjejaring dalam komunitas penikmat olahan produk kudapan matcha.
Koneksi ini pada akhirnya menumbuhkan rasa solidaritas. Sebagai bagian dari komunitas, kamu bisa mendalami perasaan senasib dan sepenanggungan dengan sesama.
Artinya, ketika kamu menghadapi masalah, teman-teman di komunitasmu sangat bisa memberikan dukungan dan berempati. Begitu pula sebaliknya.
Peranan komunitas tidak berhenti sampai situ. Studi dengan judul “Happiness and sense of community belonging in the world value survey” (2023) menunjukkan orang-orang yang senantiasa menjalin keterhubungan dengan komunitas dan dunia sekitarnya cenderung merasa bahagia daripada yang tidak berkomunitas.
Dengan bergabung bersama komunitas, kamu bisa mengurangi rasa terkekang atau isolasi dari dunia sekitar. Perlahan-lahan, tingkat stres juga bisa berkurng. Kesepian? Bukan masalah besar lagi.
Mencari komunitas tidak perlu dipusingkan. Kamu bisa mulai dari komunitas paling dekat dari tempat tinggal. Kalau belum memungkinkan menemukannya secara langsung, kamu bisa manfaatkan media sosial untuk mencari-cari informasi.
Komunitas senam? Gabung! Komunitas baca buku, jurnaling, meronce, arisan ibu-ibu di perumahan, badminton atau padel di klub? Gabung!
Komunitas apa pun itu yang menarik minatmu dan bisa membantumu berkembang menjadi versi diri terbaik, ikuti saja. Ingat, kamu cuma butuh keberanian untuk memulainya.
Penulis: Maria Gratia Rosarina
Editor: Sekar Kinasih