diajeng.id - Selama 12 tahun, L'Oréal Indonesia membekali sekitar tujuh ribu perempuan di seluruh Indonesia dengan pelatihan intensif gratis tentang tata rambut dan tata rias dalam program bertajuk Beauty For a Better Life (BFBL).
L'Oréal bermitra dengan tiga lembaga swadaya masyarakat, salah satunya Perkumpulan Penggerak Perubahan Ekosistem Komunitas Perempuan Kepala Keluarga (PEGAS PEKKA) yang berpengalaman dalam penguatan ekosistem keberlanjutan dan penguatan agensi serta kepemimpinan perempuan di daerah, untuk memperluas jangkauan program dan memastikan program dapat menjawab kebutuhan perempuan di berbagai wilayah.
“Pada program ini, kita fokus pada upskilling. Kita punya keahlian pada bidang kecantikan, ada tata rias dan tata rambut. Jadi di sini kita merasa perlu berbagi keahlian kita untuk mereka yang kesulitan mendapatkan akses untuk meningkatkan keahlian terutama perempuan-perempuan yang underprivileged, maka dari itu kita bekerja sama dengan NGO,” tutur Melanie Masriel, Chief of Corporate Affairs, Engagement, & Sustainability saat memberikan keterangan dalam sesi media Visit di BFBL Training Center di Desa Kelebet, Kecamatan Kemiri, Kabupaten Tangerang pada Selasa (22/9).
Di Kelebet, BFBL sudah berlangsung sejak 2019 di bangunan rumah yang menjadi pusat kegiatan anggota PEGAS PEKKA.

Program BFBL di Kelebet mencakup dua kurikulum. Pertama adalah materi ke-PEKKA-an yang berfokus pada peningkatan kapasitas kepemimpinan dan agensi perempuan. Kedua adalah kurikulum keterampilan tata rias wajah yang disiapkan oleh pihak L’Oréal Indonesia.
Kurikulum pelatihan tata rias menyesuaikan dengan perkembangan tren di masyarakat sekitar terhadap layanan kecantikan sehingga keterampilan yang diberikan relevan dengan kebutuhan atau permintaan warga setempat.
Pelatihan makeup untuk setiap batch peserta berlangsung selama sekitar dua bulan. Di akhir program, peserta menerima sertifikat keterampilan yang dapat dimanfaatkan untuk mencari kerja.
Selama tujuh tahun berlangsung, BFBL di Kelebet sudah melatih sekitar 1.000 perempuan. Sebanyak 65 persen lulusannya kini bekerja di sektor kecantikan, dari membuka usaha salon, menjadi freelance Makeup Artist (MUA), maupun bekerja sebagai staf di salon-salon.
Bagi para alumninya, BFBL tidak hanya menjadi kesempatan untuk belajar keterampilan baru, tetapi juga menjadi titik awal untuk membangun kepercayaan diri dan membuka peluang baru dalam kehidupan mereka.
Diajeng mendapatkan kesempatan untuk mendengarkan cerita dari tiga alumni BFBL yang sekarang menjadi mentor program di Desa Kelebet. Mereka adalah Amsiyah, Munjiha, dan Nurhayani.

Aam: Dari Peserta Hingga Menjadi Pelatih
Amsiyah (36) atau kerap dipanggil Aam, merupakan alumni BFBL angkatan ke-10 pada tahun 2021. Sebelum mengikuti BFBL, Aam bekerja di pabrik selama 10 tahun sampai dirumahkan karena pandemi COVID-19.
Aam kemudian mencoba berjualan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan anaknya yang masih berumur 8 bulan. Di tengah kondisi tersebut, Aam mendengar informasi tentang pelatihan tata rias gratis dalam program BFBL. Tergeraklah hati Aam untuk mengembangkan keterampilan dalam bidang kecantikan sebagai Makeup Artist (MUA).
Tak lama setelah lulus dari BFBL, Aam sempat ingin menyerah karena kesulitan modal untuk membeli produk dan alat-alat makeup penunjang pekerjaan. Di tengah kebingungan tersebut, Aam akhirnya mendapatkan klien yang berkenan membayar jasanya di muka.
Uang tersebut digunakan untuk membeli perlengkapan makeup dan memperbaiki sepeda motor yang mendadak rusak, hingga nyaris tidak tersisa.
Namun, dari pengalaman pertama tersebut, nama Aam sebagai MUA semakin dikenal. Pelanggannya pun semakin bertambah. Uang yang Aam peroleh pun diputar untuk bisnis lain; mendirikan salon di rumah.
Pada 2022, Aam dipercaya untuk menjadi mentor bagi peserta BFBL. Selama menjadi mentor, Aam juga mengajak sesama alumni untuk membantunya sebagai asisten.
“Intinya harus percaya diri dan skill harus bagus. Jadi aku ajarin sama temen-temen [peserta BFBL] semua kalo untuk keluar dari BFBL jangan sampai putus di tengah jalan. Harus kembangkan terus; kualitas, skill, bakat, biar kita menjadi orang sukses,” pesan Aam.
Keterampilan dari BFBL tak sekadar memberi Aam kemandirian finansial, melainkan modal untuk merangkul perempuan lain. Aam tumbuh dari seorang pembelajar hingga menjadi pemilik usaha kecantikan dan pengajar yang aktif meningkatkan keterampilan kerja sesama perempuan.

3M (Munjiha Make-up Merapit)
Munjiha (39) memperkenalkan dirinya sebagai seorang istri, ibu, guru ngaji, guru PAUD, dan pemilik toko kelontong di Kampung Merapit.
Keterbatasan penghasilan rumah tangga mendorong Munjiha untuk membantu perekonomian keluarga dengan mencari peluang lewat program BFBL pada 2021.
Munjiha bercerita, dia memberikan hadiah berupa makanan ringan dari tokonya sebagai tanda terima kasih untuk anak-anak yang dijadikannya model makeup-nya.
Setelah tiga tahun lulus dari BFBL, Munjiha mengakui belum juga mendapatkan pelanggan. Namun, Munjiha pantang menyerah. Suatu hari, sebuah usaha dekorasi pernikahan menghubungi dan mengajaknya untuk menjadi mitra bisnis. Lewat kolaborasi tersebut, akhirnya pelanggan mulai berdatangan.
“Pantang menyerah, berkarya lebih kreatif lagi supaya jadi wanita mandiri, berkualitas, berani, dan tangguh. Jangan berharap pada orang lain, tapi tetaplah berharap pada diri sendiri supaya kita lebih maju lagi. Jangan lupa berdoa, semangat, dan pantang menyerah,” kata Munjiha.
Berawal dari ruangan yang sangat simpel di rumahnya, usaha kecantikan yang Munjiha namai 3M (Munjiha Make-up Merapit) perlahan berkembang menjadi makeup gallery yang lebih luas dan lengkap, dengan koleksi gaun serta aksesori beragam.
Munjiha dikenal dengan ciri khas tata rias “Barbie Look” yang menjadi primadona di daerah sekitar tempat tinggalnya.

Yani: Fleksibilitas Kerja dari Profesi Merias
Nurhayani, akrab disapa Yani (36), adalah peserta BFBL angkatan ke-16 tahun 2022. Yani merupakan murid pertama yang dilatih oleh Aam.
Sebelum bergabung di BFBL, Yani bekerja di pabrik. Setiap hari, Yani berangkat kerja pada dini hari dan pulang larut malam. Keadaan ini menyita momen-momen hangat Yani bersama keluarganya, terutama anaknya yang masih bayi.
Suatu hari, Yani menyadari bahwa anaknya mulai tidak mengenalnya sehingga memperlakukannya seperti orang asing. Momen itulah yang mendorong Yani untuk berhenti bekerja di pabrik.
Ketika mendengar tentang pelatihan makeup gratis BFBL, Yani pun memantapkan hati untuk menekuninya dengan serius.
Kerja kerasnya berbuah manis. Sebagai MUA profesional, dalam sebulan Yani dapat memperoleh rata-rata 4-7 klien untuk acara pernikahan. Kariernya sebagai MUA juga memberinya kesempatan untuk mengembangkan keterampilan di Malaysia.
“Harapannya, pokoknya jangan putus semangat, kita harus percaya diri. Tidak hanya untuk seorang ibu rumah tangga, tapi kita juga harus menjadi wanita yang berkualitas, berpenghasilan, dan kita yang mengatur waktu, bukan waktu yang mengatur kita,” pungkas Yani.
Penulis: Syifa Khairunnisa Zahrah
Editor: Sekar Kinasih