diajeng.id - Kamu atau sebagian perempuan yang sudah menjadi ibu, kemungkinan pernah memikirkan soal ini: "kenapa hidupku jadi banyak berubah setelah jadi seorang ibu ya?"
Pikiran itu memang tidak salah, kamu mungkin akan menemukan perubahan-perubahan yang terjadi, mulai dari waktu untuk diri sendiri yang semakin sedikit, berbagai aktivitas terasa melelahkan, dan hal-hal yang dulu membuatmu bahagia perlahan terlupakan.
Pengalaman-pengalaman tersebut kerap digambarkan melalui istilah flamingo era, sebuah tren yang membicarakan perjalanan perempuan dalam menjalani peran sebagai ibu sekaligus menemukan kembali identitas dirinya.
Apa Itu Flamingo Era?
Jika bisa diuraikan, flamingo era adalah fase kehidupan yang menggambarkan perubahan fisik, emosional, dan identitas perempuan, khususnya setelah menjadi ibu.
Dalam artikel "Reality of Flamingo Era in New Mom" di situs Medium, Shelma Atira menyoroti tantangan ibu baru yang harus menyesuaikan diri dengan perubahan tubuh, kurang tidur, dan tanggung jawab rumah tangga.
Meski begitu, flamingo era artinya bukanlah menjadi ibu menghilangkan jati diri perempuan selamanya. Menurut American Psychological Association (APA), pengalaman menjadi ibu juga dapat memperluas identitas dan membantu perempuan mengembangkan perspektif baru.
Fase-Fase dalam Flamingo Era
Fase flamingo era tidak memiliki tahapan resmi. Namun, sebagai gambaran, perjalanan ini dapat dipahami melalui tiga pengalaman.
Pertama, fase adaptasi, ketika perempuan berusaha menyesuaikan diri dengan perubahan tubuh, rutinitas, dan tanggung jawab setelah melahirkan.
Kedua, fase kehilangan ruang diri, ketika kesibukan mengasuh anak membuat waktu untuk beristirahat, bersosialisasi, atau menjalani hobi semakin terbatas.
Ketiga, fase menemukan kembali diri sendiri, ketika perempuan mulai membangun rutinitas yang lebih seimbang, kembali menikmati minat pribadi, dan mengenali identitasnya di luar peran sebagai ibu.
Diajeng sempat menanyakan beberapa ibu terkait perihal ini.
Ayuni (31), ibu satu anak asal Klaten mengatakan, ia memasuki fase ketiga flamingo era setelah anaknya berusia tiga tahun lebih.
"Sejak anakku Sakhi sekolah PAUD, pas usianya 3 tahun lebih atau hampir 4 tahun, aku merasa sudah mulai bisa menemukan diri sendiri lagi," ujarnya.
Menurut perempuan yang hobi berenang ini, pada fase tersebut, dirinya benar-benar sudah bisa menikmati olahraga kesukannya dengan tenang, meskipun kondisinya tidak benar-benar sama seperti pada saat ia belum menikah.
Hampir mirip dengan Ayuni, Lisa (44) menyebutkan, usai melahirkan, lalu mengurus anak satu-satunya hingga usianya mencapai masuk sekolah, Lisa baru benar-benar merasa agak "bebas".
"Abis melahirkan itu memang aku fokusnya ke anak, sebenarnya enggak terlalu memikirkan soal diri sendiri juga sih, dan semua dijalani aja. Nah setelah anak udah agak gede, mau masuk sekolah, baru berasa enggak terlalu habis waktunya dibanding waktu dia masih balita," jelas Lisa.
Saat ini, lanjut Lisa, ia mengaku sudah ada waktu untuk sekadar pergi ke salon dan terkadang janjian buat ngopi bareng temannya.
"Sekarang anakku usianya 10 tahun, sudah kelas 4 SD, udah sibuk sama sekolah dan banyak kegiatan kayak ekskul dan les-les. Jadi waktu ketemu anak itu paling sebelum sekolah, sore di atas jam 5, sama hari Minggu aja, ga seintens dulu. Makanya sekarang udah bisa aktif ngegym lagi, bisa skincare-an, atau kadang-kadang ya ngopi juga sama teman," terang Lisa.
Berbeda dengan Yula (35), yang mengaku selalu berusaha menjaga agar dirinya tetap utuh di tengah berbagai perubahan. Alih-alih larut dalam flamingo era, ia justru memilih untuk terus menyediakan ruang bagi dirinya sendiri tanpa harus menunggu anak mencapai usia tertentu.
Bagi ibu dari dua anak usia 9 dan 6 tahun ini, menjadi ibu bukan berarti harus menunda hal-hal yang membuatnya merasa hidup dan bahagia.
Ia selalu berusaha menemukan cara agar tetap memiliki ruang untuk diri sendiri, sekaligus menjalankan perannya sebagai ibu. Mulai dari mengikuti kompetisi, terlibat dalam komunitas, menonton film di bioskop, hingga bepergian dan melakukan berbagai aktivitas yang disukainya.
Baginya, proses tersebut bukan tentang menunggu waktu yang tepat untuk kembali menjadi diri sendiri, melainkan tentang bagaimana tetap bersinar di tengah berbagai peran dan tanggung jawab.
"Jadi, mungkin bukan sepenuhnya kembali menemukan diri sendiri, karena aku merasa diriku enggak pernah benar-benar hilang. Aku cuma terus mencari cara untuk tetap punya ruang bagi diri sendiri, di tengah kehidupan yang sudah banyak berubah," tukasnya.
Berapa Lama Flamingo Era?
Sebenarnya, tidak ada durasi pasti untuk flamingo era karena pengalaman setiap perempuan berbeda.
Ada yang mulai merasa lebih seimbang setelah beberapa bulan, sementara yang lain membutuhkan waktu lebih panjang karena kondisi keluarga, dukungan pasangan, dan kebutuhan anak.
Karena itu, perempuan tidak perlu membandingkan prosesnya dengan orang lain. Meminta bantuan dan menyediakan waktu untuk diri sendiri juga merupakan bagian penting dari penyesuaian tersebut.
Kenapa Dinamakan Flamingo Era?
Nama ini terinspirasi dari burung flamingo yang warna bulunya berkaitan dengan pigmen dalam makanannya.
Dalam situs San Diego Zoo Wildlife Alliance dijelaskan, induk flamingo memberi anaknya crop milk untuk memenuhi kebutuhan nutrisi. Fenomena biologis ini kemudian menjadi metafora populer tentang energi yang tercurah selama pengasuhan.
Apa Perbedaan Flamingo Era dan Butterfly Era?
Keduanya dapat saling berkaitan. Setelah melewati masa penyesuaian, perempuan bisa mulai membangun kehidupan yang lebih sesuai dengan kebutuhannya.
Atau mungkin seperti yang diceritakan Yula di atas, yang menunjukkan bahwa perjalanan perempuan setelah menjadi ibu tidak selalu tentang kehilangan dan menemukan kembali diri sendiri.
Ada pula perempuan yang memilih untuk terus merawat identitasnya sejak awal, menyesuaikan diri dengan perubahan, sekaligus memberikan ruang bagi kebutuhan pribadinya. Dengan begitu, menjadi ibu tidak harus berarti berhenti menjadi diri sendiri.
Pada akhirnya, flamingo era mengingatkan bahwa menjadi ibu bukan berarti harus kehilangan diri sendiri. Perempuan tetap berhak beristirahat, berkembang, dan menikmati hidup tanpa mengurangi kasih sayangnya kepada anak.
Artikel terkait lainnya juga bisa dibaca di sini.
Editor: Dhita Koesno & Sekar Kinasih