Menuju konten utama

Mankeeping: Saat Perempuan Jadi "Manajer Emosional" Pasangannya

Apa jadinya jika kita sering bertindak sebagai "manajer sosial dan emosional" tidak resmi bagi pasangan kita?

Mankeeping: Saat Perempuan Jadi
Header Diajeng Mankeeping. foto/istockphoto

diajeng.id - Selama menikah atau menjalin hubungan dengan laki-laki yang kamu cintai, apa kamu merasa jadi pihak yang selalu mengingatkan dan "ngemong/mengasuh" pasanganmu?

Misalnya, di tengah kesibukanmu bekerja di kantor atau mengurus anak serta rumah tangga, kamulah yang senantiasa mengingatkan pasanganmu tentang hari ulang tahun orang tuanya, jadwal cek kesehatan ke dokter, agenda makan malam dengan temannya, sampai ukur badan ke penjahit untuk pesanan kemeja kerja.

Selama kalian hidup bersama, kamulah sosok yang bisa menenangkan pasanganmu setiap dia merasa stres karena tekanan kerja. Kamulah yang membantunya memproses berbagai emosi yang sulit diungkapkannya sendiri.

Dalam dinamika relasi, situasi tersebut dikenal dengan istilah mankeeping.

Istilah yang dicetuskan oleh peneliti Angelica Ferrara ini, menurut laman Mamamia, menggambarkan bentuk kerja emosional tak kasatmata (invisible emotional labor) yang dilakukan perempuan untuk mengelola kehidupan sosial dan emosional pasangan laki-lakinya.

Meskipun memberi dukungan emosional pada pasangan adalah realitas yang wajar dalam dinamika hubungan, mankeeping terjadi ketika peran ini menjadi beban sepihak yang berjalan terus-menerus tanpa disadari oleh kedua belah pihak.

Apa yang Dilakukan Pihak Perempuan dalam Mankeeping?

Diterapkan dalam praktik sehari-hari, mankeeping terlihat seperti peran pengasuhan emosional yang spontan atau lumrah, akan tetapi pada waktu sama sangat menguras energi. Dalam hal ini, perempuan sering bertindak sebagai "manajer sosial dan emosional" tidak resmi bagi pasangannya.

Salah satu tindakan yang dilakukan pihak perempuan dalam konteks mankeeping, seperti dijelaskan situs Calm, adalah mengingatkan pasangan untuk memberi kabar atau menjaga hubungan dengan keluarga dan teman-temannya.

Contoh lainnya; membantu merangkai kata-kata saat pasangan hendak mengirim pesan teks penting, menjadi tempat pelampiasan dan penenang utama saat pasangan mengalami tekanan pekerjaan, hingga membantu pasangan mengurai dan memproses emosi yang sulit diutarakan sendiri.

Yang perlu dikritisi, karena dianggap lumrah, seluruh energi yang dikerahkan oleh pihak perempuan tersebut cenderung "terlewat" untuk diakui, diapresiasi, atau diberi pujian oleh pihak laki-laki.

Jika situasinya dibiarkan seperti apa adanya, kerja-kerja ekstra yang dilakukan pihak perempuan bisa-bisa diwajarkan sebagai peran bawaan perempuan.

Apa Penyebab Terjadinya Mankeeping?

Mankeeping dipengaruhi oleh kombinasi faktor sosial, budaya, dan pola hubungan. Salah satunya karena kesepian yang dialami laki-laki. Penelitian dari Stanford University tahun 2024 menunjukkan bahwa jaringan pertemanan laki-laki semakin menyempit dalam beberapa dekade terakhir.

Fenomena yang dinamakan male-friendship recession ini membuat banyak laki-laki menjadikan pasangan kekasihnya sebagai satu-satunya jaring pengaman dan muara emosional.

Penyebab lainnya berkaitan dengan maskulinitas dan norma gender.

Sejak kecil, ekspektasi sosial sering menempatkan laki-laki sebagai sosok yang kuat sehingga mereka dipandang tidak perlu sampai menunjukkan elemen vulnerability atau sisi kerentanan dalam kesehariannya.

Akibatnya, laki-laki jarang membicarakan perasaan secara mendalam dengan sesama temannya.

Ketika akhirnya laki-laki tersebut menjalin hubungan asmara serius atau menikah, pasangan perempuan cenderung menjadi pihak yang dilimpahi "tanggung jawab" untuk memfasilitasi dan menampung segala kebutuhan emosionalnya.

Dampak Negatif Mankeeping bagi Kesehatan Mental

Menjadi satu-satunya penopang emosional orang lain secara terus-menerus dapat memicu berbagai dampak psikologis.

Pihak perempuan dapat merasa burnout dan kelelahan mental berlebihan karena menjadi orang yang harus selalu siap memberikan energi dan perhatian tanpa henti demi menjaga suasana hati pasangannya.

Dampak negatif selanjutnya adalah kekecewaan dalam hubungan. Ketika perhatian yang diberikan dianggap sebagai kewajiban biasa dan tidak berbalas, hubungan bisa menjadi lebih seperti beban kerja alih-alih ikatan cinta.

Kondisi tersebut juga akan memicu stres dan kecemasan kronis. Sebab, perempuan dituntut untuk selalu waspada terhadap perubahan emosi pasangan dan merasa bertanggung jawab atas kesejahteraan mental pasangannya.

Menjadi pihak yang senantiasa mengayomi pasangan juga berisiko membuat kita kehilangan diri sendiri, karena seluruh fokus hidup tersedot untuk mengurus perasaan pasangan, sehingga kebutuhan, hobi, dan tujuan pribadi terabaikan.

Apa yang Bisa Diupayakan Bersama?

Ada beberapa langkah yang bisa diusahakan oleh pihak laki-laki dan perempuan begitu menyadari mankeeping terjadi di dalam relasi.

Pertama, kenali dan komunikasikan pola ini. Sadari bahwa kerja emosional ini adalah beban nyata. Tulislah tugas-tugas tak kasatmata yang selama ini ditanggung sepihak, lalu bicarakan secara terbuka dengan pasangan untuk membagi beban tersebut secara adil.

Kemudian, tetapkan boundaries atau batasan yang jelas. Alihkan peran sebagai pengingat ke alat bantu independen, seperti aplikasi reminder atau kalender digital di smartphone milik pasangan.

Dorong pasanganmu untuk membangun lingkarannya sendiri, seperti memelihara pertemanan, bergabung dalam komunitas hobi, atau berkonsultasi dengan terapis agar dia tidak menggantungkan seluruh regulasi emosinya ke kamu.

Selain itu, mendukung laki-laki untuk mau bertanggung jawab secara mandiri. Laki-laki perlu mengambil alih tanggung jawab penuh atas kesehatan mental dan kesejahteraan emosionalnya sendiri.

Dukungan emosional dalam relasi yang sehat seharusnya bersifat timbal balik (reciprocal) dan didasari kesadaran bersama. Dengan membagi beban ini, kedua belah pihak dapat saling mendukung tanpa ada salah satu yang jiwanya merasa lebih terkuras.

Artikel lainnya terkait relasi juga bisa dibaca di sini.

Baca juga artikel terkait TIMELESS atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih