diajeng.id - Sebagian dari kita mungkin pernah tahu atau pernah melihat langsung sepasang kekasih yang penampilan dan gayanya sangat bertolak belakang. Khususnya di TikTok, beberapa waktu lalu sempat ramai pembahasan tentang ketimpangan "level keren" dalam relasi yang istilahnya disebut swag gap.
Namun, swag gap bukan sekadar tentang seberapa berbeda level keren pasangan. Swag gap dalam relasi juga membuka diskusi lebih luas tentang bagaimana kesenjangan gaya, popularitas, dan aura yang berbeda tersebut dapat menguji kekompakan, rasa minder, dan cara kita dipersepsikan oleh orang lain.
Apa itu Swag Gap?
Swag gap, menurut Medical News Today, adalah perbedaan mencolok antara sepasang kekasih yang sedang menjalin relasi romantis, seperti dalam hal gaya berpakaian, tingkat percaya diri, daya tarik penampilan, hingga aura sosialnya.
Misalnya, satu pihak tampak sangat modis dan selalu berusaha ekstra untuk penampilannya, sedangkan pihak lainnya terkesan sangat santai, kasual, atau cuek.
Meskipun istilah ini populer dari tren daring dan bukan merupakan diagnosis klinis psikologi, persepsi ketimpangan ini ditangkap secara nyata oleh publik terhadap banyak pasangan.
Contoh paling ikonik dari swag gap sering dialamatkan pada pasangan selebritas Justin dan Hailey Bieber.
Melansir BBC, dalam sebuah acara peluncuran merek produk kecantikan di New York, Hailey tampil sangat anggun dan memesona dengan gaun mini merah, sepatu, serta tas yang serasi.
Di sisi lain, Justin menemaninya dengan gaya sangat kasual menggunakan tracksuit abu-abu, topi merah muda, dan sandal Crocs kuning.
Pasangan Selena Gomez dan Benny Blanco juga kerap disebut warganet memiliki ketimpangan swag. Menariknya, konsep swag-gap tidak berhenti pada urusan pakaian.
Kepada Diajeng, Sasya (22) mengakui bahwa dia dan kekasihnya, Kemal (30) juga pasangan "swag-gap" dalam hal gaya berpakaian.
Sasya adalah tipe perempuan yang well-dressed. Ke mana pun bepergian atau kencan, Sasya selalu mengenakan kemeja dan jarang hanya kaos saja.
Bagi Sasya, swag-gap ini sudah ditangkapnya sejak mereka saling mengenal sebagai kekasih. Namun, perbedaan gaya tersebut tidak lantas membuatnya minder. Sasya justru melihatnya sebagai tantangan.
"Sadar itu udah dari awal kenal ya, dan aku pribadi tertantang untuk mencoba merubah gaya penampilanya agar lebih baik supaya dia bisa lebih dihormati orang lain," ucapnya.
Sasya juga mengaku tidak keberatan ketika ada anggapan bahwa salah satu pasangan hanya “numpang tenar” atau auranya tertutupi. "Solusinya yaitu menyeimbangkan supaya keliatan lebih cocok atau setara."
Swag-gap pada akhirnya bergantung pada karakter masing-masing pasangan. Perbedaan tersebut bahkan dapat menjadi bagian dari proses saling melengkapi.
"Bagi aku, hal ini bisa jadi salah satu hal saling melengkapi dengan kita bisa memberikan saran atau cara berpenampilan yang baik buat pasangan kita," tutup Sasya.
Swag-Gap Tidak Selalu Berdampak Buruk
Perbedaan gaya berpakaian atau tingkat ketenaran sebenarnya tidak masalah jika kedua belah pihak tidak menempatkan penampilan sebagai prioritas utama dan lebih menghargai kasih sayang, komitmen, serta kenyamanan emosional.
Seperti diungkapkan oleh Jessica Raiola (25) di BBC, perempuan berpakaian maximalist yang berpacaran dengan laki-laki bergaya skater, gaya busana pada dasarnya adalah spektrum pribadi, alih-alih hierarki yang menentukan siapa yang lebih unggul.
Banyak pasangan tetap harmonis karena saling melengkapi dan merasa bangga atas keunikan pasangannya.
"Satu-satunya cara agar kesenjangan gaya ini tidak menjadi masalah adalah jika pasangan yang gayanya kurang menonjol berkenan menjadi pendukung setia dan merasa bangga terhadap pasangannya, alih-alih merasa harga dirinya jatuh atau menyimpan rasa kesal," kata Jessica.
Kapan Swag-Gap dalam Relasi Perlu Diwaspadai?
Laman Medical News Today menjelaskan tanda-tanda ketika swag-gap mulai memberikan dampak negatif dalam relasi.
Pertama, kamu mulai merasa minder dan malu di depan umum. Akibatnya, kamu enggan membawa pasangan ke acara sosial karena khawatir kalian dianggap sebagai pasangan yang tidak setara oleh lingkungan sekitar.
Kedua, kamu merasa kecewa karena pasanganmu kurang memberikan usaha (effort) dalam menjaga penampilan, perencanaan kencan, atau kurang berkontribusi dalam meningkatkan kualitas hubungan secara keseluruhan.
Ketiga, salah satu pihak juga mulai krisis rasa percaya diri dan mengalami kecemasan. Biasanya pihak dengan tingkat swag lebih rendah merasa tertekan, cemburu terhadap perhatian yang diterima pasangannya, atau khawatir akan ditinggalkan suatu hari nanti.
Selain itu, ada kecenderungan salah satu pihak merasa lebih superior dan memanfaatkan penampilannya untuk lebih mengendalikan interaksi.
Tips Mengatasinya
Kalau kamu merasa dirimu menjalani hubungan dengan dinamika seperti ini, situs Body and Soul memberikan beberapa langkah praktis untuk menghadapinya.
Langkah awal adalah dengan melakukan komunikasi terbuka tanpa menghakimi. Sampaikan kegalauan isi hatimu ke pasangan dengan menggunakan kata "aku" ("Aku merasa...") agar pasangan tidak merasa diserang atau dikritik.
Kemudian, cobalah untuk bekerja sama dengan pasangan untuk mengambil jalan tengah, misalnya terkait pilihan pakaian atau gaya penampilan. Alih-alih menuntut perubahan secara sepihak, ajak pasangan berdiskusi atau saling bantu memilih pakaian sebelum menghadiri acara penting bersama.
Yang terpenting, kita tidak perlu sampai memaksa dan mencoba mengubah karakter atau gaya pribadi pasangan, karena hal tersebut berisiko membuat pasangan merasa tidak dihargai.
Namun, apabila ketimpangan ini memicu krisis percaya diri berkepanjangan atau masalah komunikasi yang pelik, pertimbangkan untuk berkonsultasi dengan konselor hubungan atau terapis pasangan. Semua bisa dibicarakan baik-baik.
Artikel lainnya seputar relationship juga bisa dibaca di sini.
Editor: Sekar Kinasih