diajeng.id - Jakarta Film Week 2026 tidak hanya berhasil menjadi ruang pertemuan strategis bagi sineas dan penonton, festival ini juga memiliki berbagai cara untuk bercerita tentang kehidupan manusia.
Salah satunya melalui Next Step Studio, proyek kolaborasi Indonesia dan Prancis yang membidani empat film pendek hasil kerja sama penulisan dan penyutradaraan sineas dari kawasan Asia Tenggara.
Di antara keempat film yang diputar pada Kamis (22/10) lalu, Original Wound (2026) dan Mothers Are Mothering (2026) berfokus pada pengalaman perempuan.
Original Wound mengisahkan adik dan kakak yang berduka setelah kematian ibu mereka. Film ini dibuka dengan suasana sunyi dan visual bernuansa remang-remaang, yang perlahan membangun perasaan tidak nyaman sekaligus menyiratkan luka di antara kedua tokohnya.
Di tengah duka tersebut, keduanya berusaha menghadapi kehilangan dengan cara yang berbeda. Adik laki-laki (Omara Esteghlal) dan kakak perempuan (Agnes Naomi) yang namanya tidak pernah disebutkan sepanjang film ini menyimpan kenangan yang bertolak belakang tentang sang ibu.
Melalui serangkaian fragmen ingatan dari sudut pandang masing-masing tokoh, penonton diajak memahami kompleksitas hubungan mereka dengan sang ibu, termasuk pengalaman yang membentuk cara mereka menghadapi kehilangan.
Sepanjang film, tokoh kakak kerap menunjukkan raut wajah yang menyiratkan trauma dan ketakutan. Sebaliknya, sang adik tampak larut dalam kesedihan atas kematian ibunya.
Perbedaan ekspresi ini memperlihatkan bahwa mereka tidak hanya menghadapi duka dengan cara yang berbeda, tetapi juga memiliki pengalaman masa lalu yang sangat berbeda bersama ibunya.
Dalam salah satu dialog, tokoh kakak mengungkapkan kekecewaanya atas kesepian yang selama ini dirasakan.
Alih-alih menanggapi curhatan sang kakak, si adik mempertanyakan sikap kakaknya dan menegaskan bahwa mereka seharusnya berduka atas kepergian sang ibu.
Adegan tersebut memperlihatkan bagaimana pengalaman dan luka yang dialami tokoh kakak tidak mendapat ruang untuk didengar.
Salah satu dialog menarik muncul ketika karakter adik berkata, “Yang penting, aku masih ada kamu,” saat kakaknya mengingatkan bahwa manusia pada akhirnya akan selalu sendirian.
Meskipun terdengar seperti ungkapan kasih sayang, kalimat yang dilontarkan sang adik memperlihatkan perbedaan cara keduanya memandang hubungan keluarga. Karakter adik kerap bergantung pada kakak yang tidak benar-benar melupakan luka yang pernah dialami.
Melalui dialog singkat maupun adegan tanpa kata, Shelby Kho dan Sein Lyan Tun berhasil menggambarkan beban emosional yang dipikul oleh anak perempuan tertua dalam keluarga.
Sementara Mothers Are Mothering garapan Khozy Rizal dan Lam Li Shuen mengambil tema yang tak kalah berani melalui perpaduan black comedy dan fiksi ilmiah.
Film ini mengisahkan Nia (Happy Salma) perempuan berusia 50 tahun yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Lelah menjalani kehidupan yang tak lagi diinginkannya, Nia berharap dapat kembali ke tempat asalnya.
Hingga suatu sore, Nia secara tidak sengaja bertemu dengan mantan kekasihnya. Pertemuan tersebut membangkitkan kembali gairah dan keinginan yang selama ini terpendam dalam dirinya.
Perpaduan komedi gelap dan fiksi ilmiah membuat Mothers Are Mothering menghadirkan sejumlah adegan yang berhasil mengundang tawa dari para penonton.
Dalam sesi tanya jawab, Khozy Rizal menjelaskan bahwa ide cerita film ini berangkat dari hal-hal yang dekat dengan kehidupan sehari-harinya, termasuk kebiasaan menonton sinetron bersama sang ibu.
“Aku mengambil tema-tema yang familier kayak pas nonton sama Mama, karena aku sama Mama dulu suka sinetron,” ujar Khozy.
Khozy juga menceritakan proses pengembangan cerita bersama Lam Li Shuen, terutama ketika keduanya memadukan kisah yang dekat dengan kehidupan sehari-hari dan unsur fiksi ilmiah yang tidak biasa,.
“Aku bilang ke Li Shue, boleh deh tambah-tambahin tema sci-fi alien…” jelas Khozy.
Di balik adegan vulgar dan pedekatan cerita yang terkesan tidak serius, Mothers Are Mothering menyimpan persoalan yang sangat krusial tentang kebebasan perempuan dalam menentukan pilihan hidupnya.
Melalui karakter Nia, film ini memperlihatkan keinginan seorang perempuan untuk melepaskan diri dari kehidupan rumah tangga yang penuh kekerasan.
Meskipun hadir dalam pendekatan dan genre yang berbeda, Original Wound (2026) dan Mothers Are Mothering (2026) sama-sama mengangkat realitas menantang dalam episode kehidupan perempuan, baik melalui luka emosional yang tumbuh dalam keluarga maupun keinginan perempuan untuk melepaskan diri dari hubungan yang toksik.
Penulis: Arrazani Hafidza
Editor: Sekar Kinasih