diajeng.id - Kamu pasti pernah merasa kesal dengan sebuah serial atau film, tetapi anehnya kamu tetap termotivasi untuk menonton sampai selesai.
Alih-alih menikmati jalan cerita atau karakternya, kamu sibuk mencari bagian yang janggal, tidak masuk akal, atau mengecewakan, untuk kemudian dibicarakan bersama teman yang sama-sama mengkritisinya. Kebiasaan seperti ini dikenal sebagai hate-watching.
Hate-watching biasanya kita lakukan karena perasaan tidak suka yang kita miliki terhadap film atau serial tersebut. Semakin buruk atau absurd sebuah tayangan, semakin besar pula rasa penasaran kita untuk terus mengikuti ceritanya.
Jadi, meski tayangannya bikin kita kesal, aktivitas menontonnya tetap terasa menyenangkan.
Pertanyaannya, mengapa kita bisa menikmati sesuatu yang sebenarnya kita benci?
1. Merasa Lebih Unggul
Menurut teori perbandingan sosial, manusia cenderung menilai dirinya dengan membandingkan diri dengan orang lain.
Dalam konteks hate-watching, perbandingan ini bisa membuat kita merasa lebih unggul ketika melihat orang yang kita anggap memiliki perilaku atau kualitas yang lebih rendah. Perasaan tersebut terasa menyenangkan, apalagi jika orang lain seperti teman-teman kita ikut mengafirmasi atau menyetujui penilaian kita.
Jadi, ketika sebuah tayangan dianggap buruk atau tidak sesuai standar, kita sebagai penonton pun juga bisa merasa diri kita lebih pintar atau memiliki selera yang lebih baik.
2. Nostalgia Masa Lalu
Nostalgia juga bisa menjadi alasan kita tetap menonton tayangan yang sebenarnya mengecewakan. Hal ini sering terjadi pada reboot atau sekuel yang kita anggap tidak sebagus versi aslinya. Meski merasa kecewa, kita sebagai penonton tetap mengikutinya karena ingin mempertahankan kenangan terhadap tayangan yang pernah kita sukai tersebut.
Selain itu, seiring bertambahnya usia, kita bisa melihat karakter atau film favorit dengan cara berbeda. Elemen-elemen yang dulu membuat kita bersemangat mungkin sekarang malah terasa cringey atau aneh sehingga bikin kita malu. Pada waktu sama, kenangan yang melekat pada tayangan tersebut membuat kita tetap ingin menontonnya kembali.
3. Ada Rasa Penasaran yang Disembunyikan
Tidak semua hate-watching sepenuhnya didasari rasa benci.
Kadang-kadang, kita sekadar merasa penasaran atau tertarik dengan sesuatu yang ditampilkan dalam film maupun serial, tetapi enggan mengakuinya. Akibatnya, kita tetap mengikuti tayangan tersebut sambil terus berkomentar atau mengkritik bahwa kita tidak menyukainya.
4. Rasa Benci Bisa Terasa Menyenangkan
Secara biologis, ketika manusia mengalami emosi cinta, benci, dan bahagia, otak dapat melepaskan neurotransmiter seperti dopamin, serotonin, dan oksitosin yang berkaitan dengan perasaan positif. Inilah adalah alasan mengapa aktivitas yang dipenuhi rasa benci bisa memberikan sensasi menyenangkan.
Manusia juga tidak selalu merasa lebih baik saat menghindari emosi negatif. Membiarkan diri mengekspresikan rasa benci dapat memberikan rasa lega. Oleh karena itu, menertawakan, mengkritik, atau mengomentari sesuatu yang membuat kesal kadang-kadang terasa lebih memuaskan daripada memaksakan diri untuk selalu melihat sisi positifnya.
5. Membenci Bersama Bisa Mempererat Hubungan
Hate-watching juga dapat menjadi aktivitas sosial. Setelah menonton tayangan yang dianggap buruk, kita mungkin akan menelusuri komentar-komentar di media sosial, ikut berdiskusi di forum, atau mengajak teman menontonnya bersama sambil memberikan mengkritisi isi ceritanya.
Memiliki sesuatu untuk dibenci bersama dapat menciptakan rasa kebersamaan karena orang-orang merasa memiliki “musuh” atau bahan pembicaraan yang sama. Hal serupa juga dapat terjadi dalam aktivitas bergosip.
Membicarakan sesuatu yang sama-sama dianggap menyebalkan dapat menjadi cara bagi kita untuk membangun kedekatan dan memperkuat hubungan dengan orang lain.
Apa kamu juga punya film atau serial yang masuk dalam daftar hate-watching? Tayangan apa saja itu?
Penulis: Risa Fajar Kusuma
Editor: Sekar Kinasih