Menuju konten utama
Menstruasi Sehat

Kita Perlu Ruang Kerja & Sekolah yang Ramah Perempuan Menstruasi

Fasilitas menstruasi memadai dan ruang beristirahat sejenak menciptakan rasa aman dan dihargai. Perempuan merasa didukung, dapat berkarya lebih optimal.

Kita Perlu Ruang Kerja & Sekolah yang Ramah Perempuan Menstruasi
Header diajeng Pengalaman Menstruasi. tirto.id/Quita

diajeng.id - Selama ini, menstruasi kerap dianggap urusan pribadi yang tabu untuk dibicarakan.

Padahal, pengalaman menstruasi yang nyaman sangat memengaruhi kinerja dan produktivitas perempuan di sekolah maupun kantor.

Akses terhadap produk menstruasi yang memadai bukan hanya soal kebutuhan dasar, melainkan juga bentuk dukungan nyata untuk menciptakan lingkungan yang inklusif dan ramah bagi perempuan.

Menstruasi acap kali datang bersama nyeri, tubuh yang lebih cepat lelah, dan emosi yang naik turun.

Pada saat yang sama, banyak perempuan tetap dituntut untuk mengikuti pembelajaran di kelas, menyelesaikan tugas, atau bekerja seperti biasa tanpa diberikan ruang toleransi lebih untuk beristirahat.

Realitasnya, menstruasi adalah proses biologis yang normal dan dialami hampir setiap perempuan.

Maka dari itulah, ketersediaan produk dan fasilitas menstruasi yang layak memegang peranan penting dalam menjaga kenyamanan, kehadiran, dan produktivitas perempuan.

Fasilitas Menstruasi di Institusi Pendidikan

Bagi banyak pelajar perempuan, menstruasi menjadi tantangan tersendiri di lingkungan pendidikan.

Minimnya akses terhadap pembalut, toilet yang kurang layak, hingga ruang istirahat yang terbatas membuat proses belajar terasa lebih berat.

Padahal, fasilitas menstruasi yang memadai di institusi pendidikan berperan penting dalam menjaga kenyamanan, rasa aman, dan keberlanjutan aktivitas belajar perempuan.

Menurut artikel “Project Period: a workplace health promotion innovation in a higher education setting” di jurnal Perspectives in Public Health (2024), akses seperti pembalut, toilet yang bersih dan layak, ketersediaan air bersih, serta ruang untuk mengganti pembalut merupakan faktor penting dalam mendukung kesehatan dan keberlanjutan pendidikan pelajar perempuan.

Menstruasi bukan hanya persoalan biologis, tetapi juga berkaitan erat dengan kondisi lingkungan sekolah yang memungkinkan pelajar perempuan mengelola menstruasinya dengan aman, nyaman, dan bermartabat.

Sebaliknya, ketika fasilitas menstruasi tidak tersedia atau tidak memadai, dampaknya besar.

Sejumlah studi menunjukkan bahwa perempuan cenderung memilih absen dari sekolah saat menstruasi, terutama ketika mereka khawatir darah menstruasi akan bocor atau tembus di rok atau celana, tidak memiliki pembalut, atau harus menggunakan toilet yang tidak layak (air tidak mengalir, lampu padam).

Kondisi tersebut juga memicu pelajar kesulitan berkonsentrasi di kelas, merasa malu, cemas, hingga stres psikologis, yang akhirnya mengganggu proses belajar dan memengaruhi performa akademik.

Namun begitu, situasi tersebut dapat berubah ketika sekolah menyediakan fasilitas menstruasi yang memadai.

Ketersediaan produk menstruasi dan lingkungan yang mendukung terbukti berkontribusi pada meningkatnya kehadiran perempuan di kelas, rasa aman, dan kepercayaan diri selama menstruasi.

Seiring kebutuhan dasarnya terpenuhi, perempuan dapat mengikuti pelajaran dengan lebih fokus dan berpartisipasi secara optimal dalam kegiatan belajar, tanpa harus dibebani oleh kekhawatiran yang seharusnya bisa dicegah.

Fasilitas Menstruasi di Tempat Kerja

Realitas berkata, jam kerja berlangsung seperti biasa seiring proses menstruasi berlangsung.

Yang disayangkan, tidak semua tempat kerja menyediakan fasilitas yang memungkinkan perempuan mengelola menstruasinya dengan nyaman dan aman.

Padahal, ketersediaan produk menstruasi dan fasilitas pendukung di tempat kerja berperan penting dalam mengurangi kecemasan, menjaga fokus, serta mendukung kesejahteraan dan produktivitas pekerja perempuan.

Penelitian di Queensland, Australia yang berjudul “Workplace menstrual product policies and worker well-being: Insights from Queensland, Australia” (2025) menunjukkan bahwa fasilitas menstruasi di tempat kerja memiliki peran penting dalam mendukung kenyamanan dan kesejahteraan pekerja perempuan.

Melalui penyediaan produk menstruasi gratis di toilet kantor publik, para pekerja yang menstruasi merasa lebih aman dan tenang saat bekerja.

Sebelum fasilitas tersebut disediakan, banyak pekerja mengalami kecemasan karena takut tidak memiliki pembalut saat dibutuhkan, yang berdampak pada stres mental dan menurunkan konsentrasi kerja.

Setelah produk disediakan, pekerja melaporkan peningkatan suasana hati, fokus, serta kesejahteraan mental selama menstruasi.

Contoh kasus di Australia ini menegaskan bahwa akses terhadap fasilitas menstruasi di tempat kerja bukan sekadar bentuk kepedulian, melainkan faktor pendukung penting bagi kenyamanan dan produktivitas perempuan.

Penyediaan fasilitas dan produk menstruasi di tempat kerja memberikan dampak positif tidak hanya bagi pekerja perempuan, tetapi juga bagi perusahaan.

Ketika kebutuhan menstruasi terpenuhi, pekerja merasa lebih tenang dan mampu berkonsentrasi dengan lebih baik. Dampaknya berpengaruh pada peningkatan produktivitas kerja.

Ketersediaan produk menstruasi juga membantu menekan absensi akibat kecemasan atau ketidaknyamanan saat menstruasi.

Selain itu, kebijakan ini membuat pekerja perempuan merasa diperhatikan dan dihargai oleh institusi, sehingga memperkuat rasa aman, loyalitas, dan kesejahteraan mental di lingkungan kerja.

Penyediaan fasilitas menstruasi yang memadai dan ruang untuk beristirahat sejenak menciptakan rasa aman dan dihargai. Ketika perempuan merasa didukung, mereka cenderung lebih fokus, percaya diri, dan mampu berpartisipasi secara optimal.

Inilah mengapa menciptakan sekolah dan tempat kerja yang ramah menstruasi bukan sekadar isu perempuan, melainkan bagian dari upaya membangun lingkungan yang sehat, adil, dan produktif bagi semua.

Baca juga artikel terkait SUPPLEMENT CONTENT atau tulisan lainnya dari Risa Fajar Kusuma

diajeng.id - Binar
Kontributor: Risa Fajar Kusuma
Penulis: Risa Fajar Kusuma
Editor: Sekar Kinasih