diajeng.id - Dari 10.259 penonton Saemen Fest 2025 di Lapangan Parkir Stadion Mandala Krida, Yogyakarta, Minggu (14/12/2025), tidak ada satu pun laporan pelecehan seksual yang masuk ke booth God Save Women (GSW), menandakan acara berlangsung kondusif.
Booth tersebut disiapkan sebagai kanal lapor apabila terjadi insiden pelecehan seksual yang menimpa penonton. Dalam persiapannya, GSW telah menggandeng Rifka Annisa Women Crisis Center (WCC) dan LBH Yogyakarta sebagai mitra pendamping.
Meski tidak menerima laporan, booth GSW ramai dikunjungi penonton dengan ketertarikan yang beragam.
Sejumlah pengunjung datang untuk berfoto, membaca poster kampanye, atau mengambil stiker. Sebagian lainnya memilih duduk dan berbincang bersama tim GSW sembari mengikuti aktivitas membuat origami di bilik Unspoken Corner.
Pengunjung pertama yang singgah merupakan sepasang penonton yang datang untuk menyaksikan penampilan Morfem. Keduanya menghabiskan waktu sekitar 15 menit untuk menyelesaikan origami pada sore hari sekitar pukul 16.20 WIB.

Aktivitas tersebut menarik perhatian penonton lain yang melintas. Seorang penonton laki-laki berinisial B, yang datang sendiri dari Jakarta untuk menyaksikan penampilan Jenny, turut singgah dan berbagi pengalamannya selama menonton konser.
B menyebutkan bahwa fasilitas pelaporan pelecehan seksual masih jarang ditemui di konser musik. “Booth ini jadi langkah yang relevan bagi penonton untuk bertanya dan bercerita sih, karena kan gak semua tahu gimana cara lapor,” tuturnya, Minggu (14/12/2025).
Menjelang akhir acara, dua pengunjung perempuan lainnya terlihat memotret deretan origami yang telah terkumpul di bilik Unspoken Corner.
Ketertarikan mereka terhadap pesan-pesan yang tergantung mendorong percakapan lebih lanjut dengan tim GSW mengenai latar belakang ide booth dan tujuan kehadirannya di konser musik.
Kedua pengunjung tersebut kemudian mendapatkan kaos dari tim GSW sebagai bentuk apresiasi atas ketertarikan dan diskusi yang berlangsung.

Ketua Tim GSW, Ferisa Salwa Adhisti menyampaikan bahwa pelecehan seksual di ruang publik bukan persoalan hasrat, melainkan relasi kuasa dan kontrol yang kerap dilegitimasi oleh situasi dan lingkungan sekitar.
Ia menambahkan, perjuangan menciptakan ruang aman tidak dapat dilakukan secara individual. Kerja kolektif dan jejaring, menurutnya, menjadi kunci agar upaya pencegahan dan pendampingan dapat terus berjalan secara berkelanjutan.
“Kekuatan kolektif menjadi napas panjang untuk perjuangan yang dapat memayungi para penyintas, di luar sana,” pungkasnya, Selasa (16/12/2025).

God Save Women (GSW) adalah komunitas yang terdiri dari sepuluh Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) yang fokus pada advokasi pencegahan pelecehan seksual di konser musik. Informasi lebih lanjut dapat diakses melalui Instagram @godsavewomen_