diajeng.id - “Kami bangga sebagai petani, khususnya sebagai mama-mama, kami mampu menghidupi diri kami sendiri, membantu suami kami, menolong anak-anak kami—kuliah, sekolah—dan itu tujuan kami!”
Demikian tutur Yasinta BL De Rosari atau akrab disapa Mama Yasinta saat menjadi pembicara dalam Suara Tani, salah satu sesi dalam Festival Raya Tani 2026 oleh Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) di Taman Ismail Marzuki, Jakarta pada Sabtu (31/10).
Suara Tani dibuka dengan cerita Yasinta mengenai kehidupannya sebagai petani rumput laut di Kelurahan Sulamu, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Dengan penuh semangat, Yasinta bercerita bagaimana perempuan-perempuan di kampungnya menggerakkan perekonomian keluarga melalui budidaya rumput laut.
Sebelum mengembangkan budidaya rumput laut, masyarakat Sulamu bergantung pada hasil tangkapan di laut. Namun, perkerjaan sebagai nelayan, menurut pengamatan Yasinta, tidak selalu memberikan penghasilan pasti.
“Sehingga terkadang hasil tangkapannya lumayan banyak bisa menghasilkan uang, tapi terkadang melaut juga kembali tidak menghasilkan uang, Hampir juga tidak tutup ongkos biaya ongkos untuk perjalanan melaut,” ujar Yasinta.
Pada 2001, sebuah yayasan memperkenalkan program budidaya rumput laut kepada masyarakat setempat sebagai alternatif mata pencaharian.
Seiring waktu, semakin banyak perempuan yang tertarik untuk menjadi petani rumput laut. Pada 2017, jumlah petani mulai meningkat. Mayoritas adalah perempuan.
“Setiap hari itu kami punya waktu bekerja di laut sekitar 2 atau 3 jam,” jelas Yasinta tentang durasi yang dihabiskan di laut untuk merawat lumput laut.
“Begitu hebat perempuan Sulamu. Mereka tidak malu untuk harus bekerja di laut berjam-jam. Kalau kami melaut untuk bekerja, kurang lebih tiga atau empat jam kami harus merendam badan di laut,” tuturnya.
Saat ini, terdapat sekitar 633 petani perempuan yang berasal dari dua kelompok masyarakat, yakni suku Bajo dan Rote. Meski memiliki latar agama yang berbeda, keduanya hidup berdampingan dan bergotong-royong dalam mengembangkan budidaya rumput laut.
“Sehingga 633 perempuan itu tergabung dari suku Bajo dan suku Rote, kami bertoleransi dan hidup berkerukunan yang baik sekali,” jelas Yasinta.
Namun, pekerjaan sebagai petani rumput laut tidak dijalankan tanpa tantangan. Kondisi garis pantai yang kering dan paparan panas berisiko membuat rumput laut rusak.
“Jadi kalau panas, rumput laut tidak bisa bertahan, dia akan rusak. Ada juga penyakit yang namanya ice-ice.”
Penyakit ice-ice menjadi tantangan terbesar pada budidaya rumput laut karena menyebabkan bagian tubuh tanaman menjadi mudah patah.
Perbedaan kondisi lokasi budidaya juga membuat cara para petani perempuan bekerja tidak selalu sama. Di wilayah yang mengalami pasang surut, mereka menyesuaikan waktu turun ke laut dengan kondisi air. Sementara petani di wilayah lain menggunakan sampan untuk menjangkau lokasi rumput laut.
Di luar tantangan keadaan alam, para petani perempuan di Sulamu juga menghadapi kendala dalam mengakses modal usaha.
Yasinta menuturkan, kelompok petani rumput laut pernah mengajukan proposal pinjaman ke bank. Namun, pengajuan tersebut ditolak karena usaha rumput laut dianggap tidak menjanjikan. “Bank tidak menerima proposal kami, dari mama-mama, karena usaha rumput laut [dianggap] tidak menjanjikan, sehingga bank tidak mengizinkan kami untuk meminjam,” kata Yasinta.
Meski begitu, para mama tidak kehilangan harapan. Yasinta bersyukur karena layanan pembiayaan dan pemberdayaan pelaku usaha mikro Permodalan Nasional Madani (PNM) memberikan dukungan kepada para perempuan petani rumput laut di Sulamu.
“Kami juga sebagai mama-mama bersyukur bahwa ada satu lembaga yang membantu kami, yaitu PNM. Dia sangat menolong kami. Di Sulamu, rata-rata mama-mama petani rumput laut dibantu oleh PNM,” jelasnya.
Menghubungkan Petani dan Konsumen dari Kota
Perjuangan perempuan dalam menjaga pangan juga hadir di wilayah perkotaan. Hal ini diceritakan oleh Vania Febriyantie, Co-Founder sekaligus CEO Seni Tani, usaha sosial dan komunitas pertanian perkotaan yang dikembangkan di Bandung sejak 2020.
Berangkat dari pengalamannya berinteraksi dengan petani sayur, Vania melihat bahwa petani perempuan acap kali memikul tanggung jawab ganda. Selain mengurus pekerjaan domestik, mereka juga harus bekerja di lahan pertanian.
Selama bertani, petani menghadapi ketidakpastian cuaca, harga jual, hingga hambatan distribusi hasil panen. Di sisi lain, Vania menyoroti semakin jauhnya hubungan masyarakat perkotaan dengan sumber pangan yang mereka konsumsi.
Meskipun membeli dan mengonsumsi sayuran setiap hari, banyak orang tidak mengetahui siapa yang menanamnya dan bagaimana proses pangan tersebut sampai ke meja makan.
“Saya melihat sebagai warga kota bahwa kita sudah terputus dengan asal makanan kita sendiri. Kita tidak tahu siapa yang menanam, siapa yang merawat tanaman kita, bagaimana ditanamnya, dan dengan cara apa ditanamnya. Sehingga adanya keterputusan, ketidak koneksian dengan asal makanan kita,” ujar Vania.
Melihat kondisi itu, Seni Tani berupaya menghidupkan kembali lahan-lahan kosong di perkotaan menjadi kebun pangan. Gerakan ini juga menghubungkan petani kecil dengan warga kota melalui program Community Supported Agriculture (CSA).
Gagasan ini datang dari kegelisahan Vania saat pandemi COVID-19. Kala itu, distribusi pangan ke sejumlah wilayah, termasuk pulau Jawa, sempat terhenti. Akibatnya, banyak sekali bahan pangan yang ikut terbuang.
“Kami melihat kegelisahan itu ketika COVID-19. Saat distribusi pangan di salah satu wilayah di Pulau Jawa dihentikan, kami melihat banyak berita tentang distribusi pangan yang terhenti. Tapi di sisi lain, pangan juga terbuang. Kami melihat bahwa sulit juga mendapatkan makanan kalau jaraknya jauh,” jelas Vania.

Berangkat dari kegelisahan tersebut, Vania bersama rekan-rekannya mulai mencari cara agar masyarakat perkotaan bisa lebih dekat dengan sumber pangan.
Mereka kemudian berinisiatif menghidupkan lahan tidur di kawasan Arcamanik, Bandung, tempat tinggal Vania.
Lahan yang berada di bawah jalur Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) ini kemudian dijadikan tempat berkebun bersama.
Namun, upaya Vania dan teman-teman untuk menghidupkan lahan tidak semudah yang dibayangkan. Ketika mereka membersihkan area, mereka menemukan banyak sampah rumah tangga yang menumpuk.
“Ternyata lahan yang ijo royo-royo, itu ilusi ya. Ada koper, ada garpu, ada lemari, wow gitu ya, bertemu dengan banyak harta karun, tapi kita nggak patah semangat.”
Kendati demikian, menurut Vania kondisi itu tidak membuat mereka menyerah untuk mengolah lahan menjadi kebun pangan.
“Kami membangun satu sistem namanya Community Supported Agriculture, yang tujuannya adalah membangun hubungan antara petani-petani kecil dengan warga Kota Bandung supaya terkoneksi, sehingga mereka bisa berkenalan satu sama lain, [warga kota] bisa tahu asal taninya dari mana, dan tahu sebenarnya keresahan petani itu apa,” jelas Vania.
Vania juga berupaya mengubah cara pandang konsumen terhadap petani. Menurutnya, konsumen bukan sekadar pihak yang membeli dan menerima hasil panen, melainkan bagian dari hubungan yang saling mendukung.
Dalam sistem CSA, risiko pertanian juga dibagi bersama. Ketika salah satu jenis sayuran mengalami gagal panen, petani dapat menggantinya dengan jenis sayuran lain yang tersedia.
Dengan begitu, anggota tetap menerima hasil panen, sementara petani tidak sepenuhnya menanggung risiko sendiri.
“Ketahanan pangan menurut kami bukan berarti semua selalu tersedia. Ketahanan pangan juga berarti kita belajar untuk saling percaya dan berbagi risiko,” tambah Vania.
Vania memperkenalkan pula proses pertanian milik Seni Tani yang disebut “Tani Sauyunan”.
Melalui Tani Sauyunan, para petani diajak memanfaatkan sampah organik di lingkungan sekitar sebagai kompos, kemudian menggunakannya untuk menjaga kesuburan tanah.
Selain itu, petani juga didorong menanam sayuran yang lebih sesuai dengan kondisi iklim dan lingkungan setempat.
Sejak dimulai pada 2020 hingga Agustus 2026, Tani Sauyunan telah menjalankan 62 periode pengiriman sayuran. Program ini melibatkan 15 petani kota, dengan sekitar 35 anggota aktif setiap bulannya. Sebanyak 65 jenis sayuran telah ditanam dan sekitar 167 kilogram sayuran diserap setiap bulan.
Di balik usaha yang sudah digencarkannya, Vania menyadari bahwa inisiatif seperti Seni Tani masih membutuhkan dukungan agar dapat terus berkembang, terutama akses terhadap lahan di perkotaan dan pasar yang adil bagi petani.
Bagi Vania, perjuangan menjaga pangan tidak bisa dipisahkan dari tanggung jawabnya sebagai seorang ibu. Vania ingin memastikan anak-anaknya dapat memperoleh makanan yang sehat, aman, dan berkualitas.
“Maka dari saya, dari petani perempuan saya belajar menjaga kebaikan pangan. Dan dari menjadi seorang ibu, saya memahami mengapa perjuangan itu harus diteruskan. Karena anak saya juga perlu makanan yang sehat, makanan yang aman, dan makanan yang berkualitas,” pungkas Vania.
Penulis: Arrazani Hafidza
Editor: Sekar Kinasih