Menuju konten utama
Indonesian Dance Festival 2026

Jejak Pengalaman Perempuan & Identitas Budaya dalam Gerak Tarian

Bagaimana koreografer Hartati, Densiel Lebang, dan Nanako Matsumoto merawat praktik artistik di tengah pusaran perubahan zaman dari sudut pandang perempuan?

Jejak Pengalaman Perempuan & Identitas Budaya dalam Gerak Tarian
Keni Soeriaatmadja memoderatori sesi Bincang Tari “Berkarya dengan Irama Sendiri: Seni, Pekerjaan, Perawatan, dan Praktik Kehidupan” yang menghadirkan koreografer Hartati, Densiel Lebang, dan Nanako Matsumoto di Selasar Nashar, Paviliun Raden Saleh pada Minggu (1/11). foto/Syifa Khairunnisa Zahrah

diajeng.id - Mengusung tema “Underlying Drift”, Indonesian Dance Festival (IDF) 2026 berangkat dari refleksi tentang perubahan yang berlangsung di tengah kehidupan yang tidak pasti. Perubahan mendasar yang bersifat sangat personal ini membentuk cara manusia memahami tubuh, ingatan, pengetahuan, dan pengalaman hidup.

Sesi Bincang Tari bertajuk “Berkarya dengan Irama Sendiri: Seni, Pekerjaan, Perawatan, dan Praktik Kehidupan” pada Minggu (1/11) membedah bagaimana tiga koreografer perempuan lintas generasi dan latar belakang, Hartati, Densiel Lebang, dan Nanako Matsumoto, merawat praktik artistik di tengah pusaran perubahan zaman dari sudut pandang perempuan.

Seiring waktu, tubuh perempuan mengalami perubahan, pengalaman kian bertambah, dan tanggung jawab sosial pun turut bergeser. Tuntutan ekonomi, pekerjaan, dinamika keluarga, peran pengasuhan, hingga alokasi waktu dan energi senantiasa memengaruhi cara mereka berkarya.

Bagi seniman perempuan, seluruh proses negosiasi ini tak pernah lepas dari jerat ekspektasi gender yang melingkupinya.

Menstruation Sumo Dance

Nanako Matsumoto asal Jepang, bersama partner kerja Kengo Nishimoto sebagai Co-Director dalam grup tari Team Chiipro, adalah sosok di balik "Menstruation Sumo Dance", sebuah eksplorasi artistik yang mempertemukan pengalaman tubuh, menstruasi, dan berbagai norma serta konstruksi sosial yang menyertainya.

Karya "Menstruation Sumo Dance" dari Team Chiipro mengeksplorasi konteks sosial menstruasi melalui shiko, yaitu gerakan menghentakkan kaki khas dalam olahraga sumo.

Mengapa sumo?

Dibayangi stereotip dan nilai-nilai patriarki yang kuat, perempuan di Jepang hanya diterima dalam cabang sumo amatir dan dilarang keras menembus ranah profesional (ōzumo).

Larangan ini berakar dari keterikatan sumo dengan ritual Shinto yang mengagungkan kesucian seperti ritual shiko untuk mengusir roh jahat hingga penyucian arena (dohyō) oleh wasit.

Dalam tradisi tersebut, dohyō diyakini sebagai tempat tinggal dewa-dewa yang wajib dijaga dari hal-hal yang dianggap "tidak murni".

Atas nama menjaga kesucian dohyō itulah, aturan yang melarang perempuan melangkah ke arena diciptakan sejak era keshogunan. Menstruasi dijadikan alasan utama untuk melegitimasikan stigma bahwa tubuh perempuan itu "kotor".

Hal tersebut mempertegas catatan sejarah bahwa menstruasi kerap dijustifikasi untuk mengucilkan, membatasi ruang gerak, dan memperlakukan perempuan secara tidak setara.

Dalam tariannya, Nanako Matsumoto dan Kengo Nishimoto mengadopsi gerakan shiko, yakni gerakan menopang berat badan yang sangat besar pada satu kaki, menahannya di udara, lalu menghentakkannya ke tanah.

Menstruasi tidak bisa dipisahkan dari tekanan fisik berat seperti kram dan pegal pada area pinggul, rahim, dan paha. Lewat shiko, Nanako menjelaskan bahwa ini adalah salah satu cara menyejajarkan rasa berat atau tekanan fisik saat menstruasi dengan beban ketahanan fisik pegulat sumo.

Gerakan menghentakkan kaki ke tanah menjadi cara berekspresi untuk menyalurkan atau mengeluarkan rasa tidak nyaman dan tekanan bertubi-tubi yang dialami tubuh saat menstruasi.

“Dengan gerakan [shiko], seolah-olah kamu sedang mengeluarkan kesakitan yang kamu alami selama menstruasi dengan menghentakkannya ke tanah,” ujar Nanako saat memperagakan gerakan shiko pada sesi lokakarya yang berlangsung sebelum diskusi.

Selama lokakarya, peserta diperkenalkan pada praktik dasar seni tari yang terinspirasi dari shiko, sekaligus diajak terlibat dalam bagian inti dari proses kreatif karya tersebut. Nanako dan Kengo mengajak para peserta untuk menuliskan pengalaman pribadinya masing-masing terkait menstruasi.

Metode berbagi pengalaman ini menjadi salah satu proses yang dilakukan Nanako dan Kengo bersama Team Chiipro dalam membuat karya Menstrual Sumo Dance.

Dalam sesi wawancara bersama Diajeng, Kengo mengenang momen tahun 2021 yang menjadi pemantik lahirnya karya ini. Setelah sebuah pertunjukan usai, Nanako berbagi cerita bahwa dirinya menari di panggung saat sedang mengalami menstruasi.

Pernyataan itu mengejutkan Kengo. Kengo membayangkan betapa beratnya melakoni gerakan tari yang kompleks di tengah rasa sakit fisik akibat menstruasi. Di sisi lain, reaksi Kengo membuat Nanako terkejut. Dinamika menstruasi bagi penari perempuan cenderung dianggap sebagai rutinitas biasa yang dinormalisasi begitu saja. Dari respons itulah mereka memutuskan untuk mengangkat isu terkait realitas menstruasi yang selama ini luput dari perhatian publik.

Lewat pertunjukan "Menstruation Sumo Dance", Team Chiipro mengajak penari maupun penonton untuk merefleksikan kembali pengalaman menstruasi mereka. Karya ini mendorong publik agar lebih peka terhadap sinyal tubuh dalam merespons perubahan fisik serta dinamika emosional di sepanjang siklus menstruasi.

Bagi Nanako dan Kengo, pertunjukan seni ini sekaligus menjadi sarana untuk merayakan “siklus pertanyaan tanpa jawaban” sebuah proses perenungan terus-menerus yang bergerak sejajar dengan ritme siklus menstruasi itu sendiri.

Peran Ganda dan Suara Perempuan di Panggung Tari

Hartati adalah koreografer berdarah Minang lulusan Institut Kesenian Jakarta (IKJ) yang berkiprah selama 20 tahun di Gumarang Sakti Dance Company. Pendiri Yayasan Seni Tari Indonesia ini konsisten menghasilkan karya-karya tari kontemporer yang menyuarakan isu perempuan, seperti “Sayap yang Patah” (2001), “Membaca Meja” (2002), dan “Ritus Diri” (2004).

Berbagai karya Hartati berfokus menggugat superioritas patriarki, ketimpangan sistem matrilineal, hingga pergulatan perempuan di antara peran domestik dan karier. Atas konsistensinya dalam menyuarakan perspektif gender dan membangun ekosistem seni tari, Hartati meraih Hibah Seni Kelola serta penghargaan Empowering Women Artist (EWA) berturut-turut pada 2007-2009.

Momentum awal Hartati adalah karya “Sayap yang Patah” pada tahun 2001 yang menceritakan pengalaman empirisnya sebagai perempuan dengan segala persoalan dan fungsinya di ranah privat dan publik, di tengah urusan domestik dan karir. Dia menggambarkan perempuan yang terpenjara oleh berbagai pekerjaan rumah tangga sehingga kehabisan waktu untuk diri sendiri.

“Saya adalah generasi yang kalau di Indonesia itu generasi mindset-nya yang sudah tertanam sejak kecil perempuan, tanggung jawabnya di rumah, anak adalah tanggung jawab, semua harus beres di rumah karena perempuan,” tutur Hartati di sesi Bincang Tari.

Hartati mengaku bahwa dirinya merasakan jeda yang kerap menyiksa di antara rumah dan saat bekerja atau berkarya.

“Saya merasa gelisah karena tidak betul-betul berada di ruang kreatif atau ruang kerja saya. Dari rumah ke ruang kerja saya hanya sampai di tengah, mungkin fisik saya sampai di ruang kerja tapi pikiran saya itu individu, itu yang saya bilang bahwa saya patah sebelah,” lanjut Hartati.

Menurutnya, sebagai perempuan dan seorang ibu, selalu ada rasa bersalah serta ketakutan yang mengganjal saat harus melangkah keluar dan menyerahkan pengasuhan kepada orang lain.

Dalam kesempatan yang sama, Hartati turut berbagi cerita mengenai dinamikanya sebagai perempuan dengan berbagai peran ganda yang harus diemban sekaligus.

“Saya tidak bisa membandingkan, tidak pernah memosisikan diri [sebagai] perempuan, makanya saya sering bicara, saya perempuan dan saya laki-laki. Begitu orang menantang, ‘Kamu perempuan,’ saya bilang, ‘Saya laki-laki.’ Ketika ada yang bilang bahwa saya laki-laki, saya balas, ‘Tidak, saya perempuan.’ Karena peran saya di rumah seperti itu, ada orang yang mati, tanggung jawab saya, kemudian [atap] lagi bocor, tanggung jawab saya, nanti makanan tidak ada, juga tanggung jawab saya. Jadi saya tidak pernah masuk atau berada di dalam masyarakat yang menganggap saya perempuan atau laki-laki. Dua-duanya menjadi bagian dari hidup saya, sehingga mungkin itu juga yang membuat saya tidak pernah takut juga untuk menghadapi [tantangan] apa pun itu,” jelas Hartati.

Refleksi ini sejalan dengan karya-karya terdahulu seperti “Sayap yang Patah”. Perempuan kerap merasa tidak pernah utuh karena separuh pikirannya di rumah, separuh lagi di tempat kerja, dan pada waktu sama mereka tetap dituntut untuk terlihat kuat.

Menyelami Kompleksitas Identitas Manusia

Terakhir, Densiel Lebang dengan karyanya bertajuk “KONJO: Becoming Otherwise”. Karya tersebut berangkat pertanyaan perihal identitas dan hasil riset artistik tentang masyarakat Konjo di Bulukumba, Sulawesi Selatan.

Densiel Lebang adalah seorang seniman, koreografer, penampil, dan praktisi budaya kelahiran Bulukumba yang kini berkarya di Jakarta.

“Secara kesukuan saya orang Toraja dari ayah yang sebenarnya garisnya juga masih saya cari saat ini. Sepertinya ayah saya orang Konjo, jadi proses karya ini pertanyaan perihal identitas,” tutur Densiel dalam sesi Bincang Tari.

Densiel ingin membagikan soal proses pencarian identitas dan keluarganya. Ada kemungkinan ayah Densiel merupakan keturunan dari Konjo, etnik yang dikenal atas keahliannya membangun kapal besar.

“Jadi bertemu sama proyek ini 2023. Saya sendiri dari Sulawesi, hidup sama perempuan semua—sama mama, sama kakak—karena perempuan. Tidak tinggal sama ayah. Perihal identitas itu menarik terus dipertanyakan, tidak harus ada jawaban. Jadi identity itu membantu. Makanya ada becoming otherwise karena aku selalu merasa tubuh selalu [menjalani] proses becoming otherwise, itu yang asing. Bahkan tahun ini pun aku merasa banyak sesuatu yang asing terjadi. Ada nyawa di dalam tubuhku, kan aneh ya. Di tahun ini, semua perubahannya bukan bergeser lagi. Konteks saya langsung berpindah dari status, dari tanggung jawab kerja banyak hal yang baru yang harus dijalani dan disesuaikan,” tutur Densiel yang saat ini mengandung delapan bulan.

Lewat karyanya, Densiel merajut pengalaman budaya Bulukumba dan keahlian pembuatan kapal pinisi ke dalam bahasa tari, sekaligus merayakan perjalanan diri sebagai calon ibu. Di Sulawesi ada kepercayaan bahwa laut ibarat ibu dan kapal adalah anak.

Selama proses pembuatan karya ini Densiel mengatakan bahwa dirinya mendapat dukungan dari keluarga dan teman-temannya.

“Aku mendapat support dari suamiku dan kawan-kawan, tim juga sangat suportif,” ujar Densiel penuh syukur.

Keni Soeriaatmadja menutup sesi Bincang Tari dengan pernyataan soal public care. Bagi Keni, dukungan juga perlu diwujudkan secara institusional terhadap seniman perempuan.

“Artinya ini dijadikan sebuah sikap keberpihakan institusional. Sebuah festival, untuk mengakomodir perempuan—aging women, pregnant women—itu sebenarnya sebuah statement untuk public care. Ini sebuah upaya, dan upaya itu, buat siapa yang ingin menyokong kita, dan membangun solidaritas itu, menjadi praktek, bukan cuma omon-omon. Karena sangat mudah untuk kita omon-omon tapi sebenarnya kita tidak pernah benar melakukannya,” ujar Keni menutup sesi diskusi.

Melalui sikap memihak dan upaya mengakomodasi kebutuhan seniman perempuan, sebuah festival seni tidak berhenti sebagai formalitas, melainkan juga menjadi bentuk perjuangan sekaligus kepedulian publik (public care) yang mendasar.

Melalui acara ini, perubahan tidak dimaknai sesempit tuntutan produktivitas tanpa henti. Perubahan juga sebuah keberlanjutan yang memanusiakan keberanian untuk berkarya, mengambil jeda, mengubah intensitas, atau menemukan cara kerja baru. Pengalaman ketiga koreografer ini memperlihatkan bagaimana tubuh, kerja artistik, dan realitas hidup perempuan saling membentuk dan menguatkan satu sama lain.

Sejak 1992, Indonesian Dance Festival (IDF) telah menjadi bagian dari perjalanan tari kontemporer di Indonesia. Selain memberikan ruang bagi seniman untuk menghadirkan karya-karya baru, IDF berupaya memastikan para seniman mendapatkan kesempatan untuk terus berani mengekspolorasi dan mempertanyakan dunia melalui praktik penciptaan karya tari mereka.

Tahun ini, Indonesian Dance Festival telah berlangsung dari 29 Oktober sampai 1 November 2026 di Taman Ismail Marzuki, Institut Kesenian Jakarta, dan Komunitas Salihara Arts Center dengan rangkaian pertunjukan, lokakarya, diskusi, dan program pengembangan seniman.

Baca juga artikel terkait DIAJENG PEREMPUAN atau tulisan lainnya dari Syifa Khairunnisa Zahrah

diajeng.id - Binar
Kontributor: Syifa Khairunnisa Zahrah
Penulis: Syifa Khairunnisa Zahrah
Editor: Sekar Kinasih