diajeng.id - Kehidupan di zaman modern menuntut manusia untuk serbacepat dan superefektif; terutama dalam kesehariannya sebagai pekerja dengan segudang tuntutan di tengah ekonomi yang tidak pasti.
Apa yang bisa dilakukan untuk memaksimalkan produktivitas di tempat kerja? Bagaimana kalau target perusahaan gagal tercapai tahun ini? Bagaimana caranya menambah kerja sampingan untuk pemasukan ekstra di tengah tekanan untuk menghemat pengeluaran rumah tangga?
Dalam realitas masyarakat pekerja modern yang kewalahan di bawah tekanan "hustle-culture" itulah, mindfulness mendulang popularitas sebagai "obat penawar".
Menurut laman mindful.org, mindfulness pada dasarnya adalah kemampuan manusia untuk dapat hadir secara penuh, sehingga kita sadar di mana kita berada sekarang, apa saja yang sedang kita lakukan, serta menjaga diri agar tidak bereaksi berlebihan dan merasa terbebani dengan apa yang terjadi di sekitar kita.
Meski memiliki akar dalam tradisi dan praktik meditasi Buddhis, konsep mindfulness kemudian berkembang dan diadopsi dalam berbagai konteks kehidupan modern.
Salah satunya sebagai “alat bantu” atau strategi untuk menghadapi lingkungan dengan tingkat stres tinggi, termasuk dalam konteks kerja dan upaya mengurangi risiko burnout pada pekerja.
Di balik definisinya yang terkesan simpel, konsep mindfulness sering mengalami penyempitan makna atau bahkan miskonsepsi lantaran penyebutannya yang semakin populer, baik di media sosial dan berbagai aplikasi kesehatan mental.
Apa saja poin-poin yang paling sering disalahpahami tentang mindfulness?
Miskonsepsi yang Sering Muncul tentang Mindfulness
1. Mindfulness Tidak Sama dengan Meditasi
Dinukil Quick and Dirty tips, ada banyak orang yang menggunakan kedua istilah ini secara tumpang-tindih, padahal keduanya berbeda.Mindfulness adalah bentuk kesadaran (awareness) untuk memerhatikan momen saat ini tanpa memberikan penilaian (non-judgmental), sedangkan meditasi adalah salah satu bentuk latihan atau praktik terstruktur yang dapat digunakan untuk melatih kesadaran tersebut.
Kita tidak perlu alat bantu atau bantal khusus meditasi untuk menjadi orang yang mindful dalam kehidupan sehari-hari.
2. Mindfulness Tidak Mengajak Kita untuk Mengosongkan atau Mengendalikan Pikiran
Ada banyak orang yang merasa gagal saat mencoba untuk mindful lantaran menganggap masih ada banyak isi pikiran di kepala.Menghentikan pikiran bukan perkara mudah. Mindfulness bukan pula bertujuan mengosongkan pikiran atau menekan emosi, melainkan latihan untuk mengamati pikiran dan perasaan yang datang dan pergi tanpa terjerat atau terlarut di dalamnya.
3. Mindfulness Tidak Harus Dilakukan dengan Duduk dalam Diam
Mindfulness sering diidentikkan dengan duduk bersila dalam kesunyian. Padahal, praktik ini sangat fleksibel dan dapat diterapkan dalam aktivitas harian, seperti saat berjalan kaki, menikmati makanan, mendengarkan musik, hingga membersihkan rumah.Posisi fisiknya pun fleksibel, bisa dilakukan sambil duduk di kursi, berdiri, berjalan, atau berbaring.
4. Mindfulness Tidak Sama dengan Relaksasi atau Rasa Tenang Instan
Laman Contextual Consulting menuliskan, meskipun dapat mengurangi stres dalam jangka panjang, relaksasi bukanlah tujuan utama mindfulness.Saat mempraktikkannya, kita mungkin merasakan bosan, gelisah, atau emosi yang tidak menyenangkan.
Mindfulness melatih kita untuk menerima seluruh rentang emosi tersebut dengan keterbukaan dan ketenangan batin.
5. Mindfulness Bukan Ritual Keagamaan atau Praktik Spiritual Eksklusif
Meski mindfulness memiliki sejarah dalam tradisi kontemplatif kuno, mindfulness modern telah banyak diadaptasi ke dalam konteks sekuler, termasuk psikoterapi, layanan kesehatan, dan kehidupan sehari-hari. Sejumlah bentuk intervensinya juga sudah pernah diteliti secara ilmiah.
6. Mindfulness Bukan "Solusi Instan" Alih-alih diumpamakan seperti pil ajaib yang bisa menyelesaikan semua masalah hidup dalam sekejap, mindfulness adalah keterampilan yang perlu selalu diasah.
Mindfulness membutuhkan konsistensi, latihan rutin, dan kesabaran jangka panjang untuk membangun ketahanan mental atau resiliensi.
Kritik untuk Mindfulness sebagai Sebuah Konsep
Penting untuk membedakan mindfulness sebagai praktik bentuk kesadaran dan mindfulness sebagai konsep yang dikemas dan diaplikasikan dalam kehidupan modern.
Sebagian kritik terhadap mindfulness sebenarnya tidak ditujukan pada praktik kesadarannya, tetapi bagaimana konsep tersebut dipakai dalam konteks sosial tertentu, termasuk dunia kerja dan industri kesehatan mental.
Dalam situasi seperti ini, mindfulness tidak tepat untuk diterapkan semata-mata sebagai cara bagi individu untuk menyesuaikan diri dengan kondisi yang sebenarnya membutuhkan perubahan pada tingkat sistemik.
Pihak-pihak berwenang memiliki tanggung jawab untuk membenahi persoalan struktural yang berdampak pada pekerja dan masyarakat. Namun, narasi mindfulness berisiko menggeser beban untuk menghadapi dampak permasalahan tersebut kepada individu melalui berbagai praktik perawatan diri berbalut kesehatan mental. Praktik semacam ini pun cenderung lebih mudah diakses oleh kelompok kelas menengah.
Melalui kerangka inilah, kritik terhadap mindfulness tidak selalu ditujukan pada praktiknya, melainkan pada cara konsep tersebut digunakan untuk mengelola dampak dari persoalan yang lebih kompleks.
Kritik serupa juga muncul ketika mindfulness masuk ke dunia korporasi. Program mindfulness di tempat kerja, misalnya, perlu diapresiasi sebagai upaya mendukung kesehatan mental pekerja.
Namun, praktik ini juga perlu dilihat secara kritis ketika kesejahteraan pekerja dihargai terutama karena hal tersebut dianggap dapat membantu mempertahankan atau meningkatkan produktivitas perusahaan.
Di tengah berbagai perdebatan yang baru-baru ini muncul tentang mindfulness, konsep ini perlu direnungkan kembali: tidak diterima begitu saja sebagai tren atau solusi praktis untuk menghadapi persoalan kesehatan mental, tetapi tidak pula harus ditolak mentah-mentah.
Kita perlu memahami apa yang dapat dan tidak dapat ditawarkan mindfulness, sekaligus menyadari bahwa merawat diri secara individual tidak akan pernah bisa menggantikan kebutuhan akan perubahan sosial dan struktural.
Artikel terkait lainnya juga bisa dibaca di sini.
Editor: Sekar Kinasih