diajeng.id - “Kalau dia main sama kelompok itu, fotonya selalu di-post, tapi kenapa sama aku enggak, ya?”
“Sedih deh, dia gak pernah chat aku semenjak aku berhenti reach out duluan.”
“Ini aku excited sendirian gak sih?”
Kalau kamu pernah menanyakan hal serupa, besar kemungkinan kamu berada di dalam relasi yang tidak berimbang. Hubungan yang dimaksud di sini bukan cuma hubungan dengan partner romantis, melainkan juga teman dekatmu.
One-sided friendship merujuk pada pertemanan yang berlangsung dengan satu orang memiliki upaya yang lebih besar dibandingkan orang lainnya.
Artinya, satu orang meluangkan banyak usaha untuk menjaga agar pertemanannya tetap berjalan, sedangkan pihak lainnya kurang memerhatikan hubungan yang dimiliki.
Berbeda dengan jenis pertemanan toxic, one-sided friendship sulit diketahui sebab tidak ada pihak yang bisa dianggap “jahat”.
Bisa jadi, temanmu hanya tidak memahami bahwa dirinya kurang memberikan upaya pada hubungan kalian. Di satu sisi, kamu sibuk mencari pembenaran sehingga enggan untuk mengakui kenyataan bahwa hubungan kalian bersifat satu arah.
Hubungan ini juga termasuk sulit dilepaskan sebab kamu mungkin merasa bersalah untuk menuduh temanmu “jahat”.
Demi menyelamatkan hubungan, kamu membenarkan tindakan temanmu karena dia bisa saja sedang sibuk mengurus kehidupannya sendiri sehingga tidak sanggup menjaga hubungan kalian.
Meskipun temanmu bisa jadi memang benar-benar sibuk, kamu perlu mencari tahu lebih lanjut terkait kebenarannya.
Bagaimana pun juga, one-sided friendship bukanlah hubungan yang sehat. Kita harus aham kapan harus menarik diri dari hubungan yang menimbulkan kekecewaan seperti itu.
Tanda-Tanda One-Sided Friendshi
Melansir artikel Healthline, ada beberapa tanda yang bisa kamu amati untuk menyingkap one-sided friendship.
Ciri utama one-sided friendship adalah upaya tidak berimbang antara kedua belah pihak untuk mempertahankan relasi.
Coba perhatikan, apakah di setiap janji pertemuan, kamu yang paling banyak mengerahkan energi atau melakukan effort?
Misalnya, kami jadi pihak paling sibuk sendiri mencari tempat nongkrong yang cocok dengan preferensi kalian berdua. Sekali cari belum tentu menemukan, kamu akhirnya menghabiskan banyak waktu dan mengorbankan jam kerja atau jam belajar demi merencanakan pertemuan tersebut.
Selain itu, begitu kalian bertemu, dia lebih banyak membicarakan dirinya sendiri. Cerita yang kamu sampaikan selalu dipotong olehnya. Kalau pun pembicaraan berlanjut, dia akan selalu mengalihkan topiknya kembali ke dirinya sendiri.
Meskipun lelah, kamu tetap bersikeras bertemu dengannya lagi. Seperti bisa diduga, pertemuan kalian selanjutnya berjalan dengan pola sama.
One-sided friendship juga dapat terlihat pada teman yang cenderung kurang terbuka. Kamu terlalu banyak menceritakan kisahmu, sedangkan dia diam mendengarkan saja. Kalian jadi tidak merasakan keterhubungan.
Hubungan satu arah ini akhirnya membuat kamu sulit merasa percaya terhadap temanmu. Pendek kata, pertemanan kalian tidak lagi terasa menyenangkan untuk dijalani.
Melepaskan Diri dari One-Sided Friendship
Menurut coach hubungan personal Seth Eisenberg, situasi tersebut bisa melelahkan secara mental.
“One-way relationships sering kali identik dengan tindak resiprositas yang minimal dan komunikasi satu arah. Dinamika ini bisa membuatmu terkuras secara emosi. Alih-alih merasa bahagia dalam pertemanan, kamu merasa lelah karena selalu menjadi pihak yang memberi tanpa pernah menerima,” terang Eisenberg dikutip dari Verywell Mind.
Ketika kamu menyadari upayamu yang tidak pernah berbalas, kamu bisa memancing temanmu supaya lebih berkontribusi pada hubungan kalian.
Sebagai contoh, ketika membuat janji untuk bertemu lagi, kamu bisa mendorongnya untuk ikut memilih kegiatan yang akan kalian lakukan atau lokasi yang akan dituju bersama.
Seandainya kamu sudah melakukannya, tetapi perilaku temanmu masih sama, sampaikan perasaanmu yang sesungguhnya. Utarakan keluh-kesah yang selama ini kamu rasakan dalam hubungan kalian.
Hubungan pertemanan tidak seharusnya menguras emosi. Kamu pun berhak menarik diri sepenuhnya jika merasa energimu terlalu banyak terbuang dan kamu tidak menerima porsi perhatian yang sama.
Memutuskan hubungan pasti akan terasa tidak enak, tetapi inilah bentuk sayang terhadap diri sendiri. Jangan merasa bersalah karena meninggalkan temanmu. Kamu pantas mendapatkan hubungan yang lebih baik.
Editor: Sekar Kinasih