diajeng.id - Banyak percakapan tidak dimulai dengan niat buruk.
Tujuan kita sekadar untuk bercerita. Tentang suasana kantor yang hari itu terasa berbeda. Tentang sepupu yang tak kunjung datang saat buka bersama. Tentang teman lama yang tiba-tiba berubah sikap.
Namun begitu, tanpa terasa, percakapan bergeser dari konteks kejadian menjadi fokus ke sosok orangnya. Dari apa yang terjadi, menjadi siapa yang salah.
Semua sering terjadi begitu saja. Di meja makan, di grup chat keluarga, di sela-sela menunggu azan magrib, atau di sudut ruangan kantor saat pekerjaan mulai lengang.
Memang kita tidak ada niat menyakiti atau berencana menjatuhkan, akan tetapi perlahan-lahan kata-kata menggiring kita ke arah yang tak selalu kita sadari.
Banyak tradisi spiritual menempatkan lisan sebagai hal yang paling sulit dikendalikan manusia.
Dalam Al-Qur'an, Surah Al-Hujurat ayat 11-12 mengingatkan agar kita tidak saling mengolok, tidak mudah berprasangka, dan tidak membicarakan keburukan orang lain.
Kata-kata yang terucap acap kali bertahan lebih lama tinggal di dalam pikiran dibandingkan rasa lapar yang sifatnya hanya sementara.
Itulah mengapa menjaga dan menahan lisan, terutama di bulan Ramadhan, sama pentingnya dengan menahan makan-minum. Keduanya sama-sama melatih kita untuk menjaga yang tak kasatmata, yaitu hati.
Mengapa Kita Suka Bergosip?
Manusia adalah makhluk sosial yang diciptakan untuk terhubung satu sama lain, bukan untuk hidup terpisah.
Salah satu bentuk koneksi itu, menurut Time, muncul dalam obrolan tentang orang lain, atau yang sering kita sebut gosip.
Dari sudut pandang psikologi, gosip bukan sekadar perilaku negatif yang disengaja. Bergunjing merupakan bagian alami dari komunikasi manusia yang ingin membangun kedekatan sosial dan merasa menjadi “satu kelompok”.
Ketika kita membicarakan orang lain yang tidak hadir, kita sesungguhnya sedang mengukur hubungan kita dengan orang-orang di sekitar, menilai batasan dan norma sosial yang berlaku dalam kelompok tersebut.
Dalam konteks tersebut, gosip juga membantu kita mengetahui siapa yang dapat dipercaya, siapa yang diperhatikan kelompok, dan siapa yang diprioritaskan dalam dinamika kelompok sosial.
Secara evolusioner, kemampuan untuk berdiskusi tentang orang lain membantu manusia pertama bertahan hidup dalam komunitas besar.
Gosip membantu kita “mengikat” satu sama lain, menciptakan rasa memiliki dalam kelompok, dan memberi kita pemahaman tentang aturan tak tertulis yang menjaga keharmonisan sosial.
Tentu, bukan berarti kita bergosip karena membenci atau ingin menyakiti orang lain. Sebaliknya, motivasi terbesar di balik bergosip adalah kebutuhan untuk merasa terhubung, diakui, dan diterima dalam sebuah kelompok.
Kita ingin berada “dalam lingkaran orang yang tahu” dan merasa posisi sosial kita aman dalam jaringan sosial. Berbagi informasi dan “membaca” orang lain bisa membuat kita merasa lebih mengerti lingkungan sosial kita, bahkan menurunkan kecemasan sejenak.
Namun, seperti dijelaskan dalam Psychology Today, efek menyenangkan dari bergosip ini hanya bersifat sementara.
Meski awalnya terasa ringan atau menghibur, setelahnya justru kerap meninggalkan sensasi tidak nyaman, kecemasan, rasa bersalah, atau kekhawatiran tentang bagaimana kita dipersepsikan.
Inilah titik di mana dorongan sosial yang manusiawi itu bisa menjadi beban batin jika tidak kita sadari dan kendalikan.
Namun, jika mau berpikir lebih dalam, kata-kata sebenarnya dapat memengaruhi keadaan batin kita sendiri.
Setiap kali kita membahas kekurangan orang lain, pikiran kita perlahan terbiasa mencari kekurangan.
Setiap kali kita membandingkan hidup orang lain dengan hidup kita, batin kita ikut terisi oleh perbandingan itu.
Semakin sering kita membicarakan orang, semakin pikiran kita dipenuhi prasangka, asumsi, dan penilaian.
Tanpa sadar, kebiasaan bergunjing malah melatih diri kita untuk melihat tentang siapa lebih berhasil, siapa kurang pantas, siapa salah, atau siapa benar.
Pola ini tidak berhenti di luar diri kita. Mindset ini bertahan hidup di dalam kepala kita, membentuk cara kita memandang orang lain, dan akhirnya, bagaimana kita memandang diri sendiri.
Di titik inilah menjaga lisan menjadi sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar etika sosial. Menghindari pergunjingan menjadi salah satu cara menjaga pikiran bersih.
Kata-kata yang keluar dari mulut kita bukan hanya memengaruhi hubungan dengan orang lain, tetapi juga membentuk suasana hati kita sendiri.
Ketika lisan lebih terjaga, pikiran menjadi lebih jernih. Ketika pikiran lebih jernih, hati pun lebih mudah merasa tenang.
Strategi Mengurangi Kebiasaan Bergunjing
Ketika kita mulai menyadari dorongan untuk membicarakan orang lain, laman Self dan Yoga Journal memberikan beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk menghindarinya.
1. Berhenti Sejenak
Beri jeda atau berhenti sejenak sebelum menambahkan komentar atau asumsi tentang seseorang. Saat obrolan mulai bergeser dari fakta ke penilaian, tarik napas dan tanyakan pada diri sendiri, “Apakah ini benar-benar fakta, atau hanya asumsi?”Latihan ini membantu kita memisahkan apa yang kita tahu dengan apa yang kita duga sehingga dapat mengarahkan kita untuk tidak melanjutkan percakapan negatif itu sama sekali.
2. Mengalihkan Topik Pembicaraan
Jika suasana mulai mengarah ke gosip, alihkan topik pembicaraan secara lembut. Kamu bisa memulai dengan bertanya tentang hal yang lebih netral, seperti rencana masak apa di akhir pekan, pengalaman positif, atau sesuatu yang sedang dipelajari bersama.Mengubah arah obrolan bukan berarti kita menutup diri secara sosial, tetapi menunjukkan bahwa kita punya kontrol atas fokus percakapan.
Selain itu, menyadari konsumsi percakapan negatif juga penting. Kurangi waktu yang dihabiskan di grup chat atau forum yang sering memicu diskusi yang menjatuhkan orang lain. Pilihlah ruang percakapan yang memberi inspirasi, alih-alih menimbulkan kecemasan.
3. Pilih Diam Tanpa Harus Menggurui
Praktik lainnya adalah memilih diam secara sadar tanpa harus menggurui orang lain.Diam bukan tanda kelemahan atau ketidakpedulian. Diam bisa menjadi bentuk kedewasaan komunikasi.
Sebelum berbicara, refleksikan dulu apa yang ingin diucapkan, apakah ini membangun, membantu, atau sekadar melepas uneg-uneg?
Ramadhan sering mempertemukan kita dalam banyak percakapan, entah itu ketika duduk semeja saat buka bersama, dalam obrolan santai setelah tarawih, atau saat tanpa sadar menggulir akun gosip di media sosial.
Di ruang-ruang dinamis itulah, kata-kata mengalir begitu saja, kadang ringan, kadang tajam.
Menahan diri untuk tidak ikut menambahkan komentar mungkin terlihat sepele, bahkan tidak tampak seperti ibadah besar.
Namun, justru di situlah latihan batin yang paling nyata terjadi.
Mungkin saja, menjaga lisan bukan hanya tentang tidak melukai orang lain. Bisa jadi, itulah cara kita menjaga hati sendiri, agar ia tidak dipenuhi penilaian, perbandingan, dan cerita-cerita yang sebenarnya tidak perlu kita bawa pulang setelah Ramadhan usai.
Simak juga artikel lainnya seputar Ramadhan di tautan ini.
Editor: Sekar Kinasih