Menuju konten utama
World Alzheimer's Month 2026

Merawat Diri sebagai Caregiver untuk Orang Tua dengan Demensia

Merawat pasien demensia bukan berarti harus mengorbankan seluruh diri. Caregiver juga perlu istirahat, berbagi peran, dan meminta bantuan.

Merawat Diri sebagai Caregiver untuk Orang Tua dengan Demensia
Header diajeng Liputan Alzheimer Jumat. FOTO/iStockphoto

diajeng.id - Merawat orang tua yang mengalami demensia bukan sekadar memastikan sejauh mana kebutuhan mereka terpenuhi.

Bagi caregiver, ada banyak hal lain yang harus tetap berjalan dalam waktu bersamaan; dari pekerjaan, keluarga, anak-anak, hingga menjaga kesehatan diri sendiri.

Ketika semua tuntutan datang bersamaan, rasa lelah dapat perlahan menumpuk dan berujung pada burnout.

Dalam rangka World Alzheimer’s Month 2026, Alzheimer Indonesia (ALZI) bersama Kementerian Kesehatan RI mengadakan webinar dengan tema “Mencegah Burnout di Usia Muda: Strategi Bertahan untuk Caregiver Demensia Generasi Y & Z (Sandwich Generation)” yang berlangsung Jumat, 18 September 2026.

Salah satu bahasannya adalah tentang urgensi caregiver untuk menjaga diri agar dapat memberikan perawatan yang aman dan berkelanjutan pada orang tua dengan gejala penurunan fungsi otak atau demensia, yang kebanyakan disebabkan oleh Alzheimer.

Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes RI, dr. Imran Pambudi, M.P.H. mengatakan, Indonesia saat ini memasuki fase penduduk menua.

"Kasus demensia semakin meningkat. WHO memperkirakan 57 juta orang hidup dengan demensia di dunia, dengan hampir 10 juta kasus baru setiap tahunnya. Di Indonesia, jumlah orang dengan demensia diproyeksikan akan mencapai 4 juta orang pada tahun 2050," ujar dr. Imran dalam paparannya.

Seiring meningkatnya jumlah lansia, kasus demensia juga menjadi perhatian karena dampaknya tidak hanya dirasakan oleh orang dengan demensia, tetapi juga keluarga yang mendampinginya.

Situasi cenderung lebih menantang bagi generasi Y dan Z yang berada dalam posisi sandwich generation. Di samping merawat orang tuanya, mereka juga tetap bekerja, membangun keluarga, dan menghadapi berbagai tuntutan kehidupan.

Menurut dr. Imran, beban tersebut acap kali invisible alias tidak terlihat.

"Lelah dianggap biasa. Stres dianggap konsekuensi. Sementara kebutuhan merawat diri sendiri ditempatkan di urutan terakhir. Padahal, ini bila berlangsung terus-menerus, kondisinya bisa berujung pada burnout. Dan ketika caregiver-nya ini burnout, maka keselamatan orang yang dirawatnya itu juga ikut terancam. Karena itu, mendukung caregiver adalah bagian yang tidak terpisahkan dari komitmen keselamatan pasien," jelas dr. Imran.

Terdapat tiga pesan utama yang disampaikan dr. Imran untuk caregiver Gen Y dan Gen Z. Pertama, keselamatan pasien atau keselamatan orang yang dirawat dimulai dari keselamatan caregiver.

"Jangan abaikan tanda-tanda burnout. Rawat diri sendiri dengan istirahat, aktivitas fisik, dan dukungan emosional. Caregiver yang sehat adalah fondasi dari perawatan yang aman," ucap dr. Imran.

Yang kedua, lanjutnya, bangun jejaring dukungan sebagai sistem keselamatan. Kita libatkan keluarga, komunitas, tenaga kesehatan, dan juga teknologi. Dukungan sosial bukan hanya bantuan, tetapi juga mekanisme keselamatan yang melindungi caregiver juga pasiennya.

"Dan yang ketiga, deteksi dini untuk pasien dan caregiver. Penting, karena mengenali tanda-tanda kognitif pada lansia dan tanda kelelahan pada diri sendiri ini adalah langkah penting agar perawatan tetap aman, berkelanjutan dan bermutu," papar dr. Imran.

Pengalaman sebagai family caregiver juga dibagikan drg. Stella Lesmana, Sp.KGA.

Di tengah perannya sebagai dokter gigi, istri, dan ibu dari tiga anak, drg. Stella mendampingi sang ayah yang mengalami demensia. Dalam proses tersebut, drg. Stella juga menyaksikan ibunya menjadi caregiver utama yang perlahan ikut mengalami kelelahan.

Ada masa ketika drg. Stella dan sang kakak sama-sama merasa sangat lelah. Bahkan ketika seorang caregiver resmi akhirnya didatangkan, Stella melihat caregiver tersebut pun dapat mengalami kejenuhan.

"Jadi ternyata dilihat-lihat, kok caregiver-nya kadang juga mulai burnout ya, mungkin jenuh. Dia masih muda, cuma memang yang sulitnya adalah kalau si caregiver-nya mau pergi sebentar, ibu saya enggak sanggup (mengurus sang ayah) sendirian," jelas drg. Stella.

Dari situ, drg. Stella menyadari bahwa caregiver juga membutuhkan jeda untuk istiragat. Kehadiran drg. Stella untuk sekadar membantu menyuapi, menemani, atau memberikan stimulasi kepada sang ayah dapat memberi kesempatan caregiver untuk beristirahat sejenak.

"Itu sudah bisa membuat caregiver-nya agak napas, dia bisa mandi dengan santai, bagaimana pun juga kan, sesama manusia ya, jadi kita harus menghargai juga," ucap drg. Stella.

Di tengah semua itu, drg. Stella juga belajar bahwa dirinya tetap memiliki hak untuk memperhatikan keluarga kecil dan kesehatan mentalnya sendiri. Maka, drg. Stella sepakat untuk berbagi tugas dengan saudara, baik dalam bentuk kehadiran, waktu, maupun dukungan finansial.

“Penerimaan adalah kunci,” katanya. Menerima bahwa kondisi demensia pada orang tua bersifat degeneratif bukan berarti drg. Stella dan keluarganya menyerah, tetapi mereka mengupayakan untuk memahami batas yang ada dan tetap melakukan yang terbaik.

"Mungkin sekarang saya juga udah di tahap acceptance itu, bahwa memang kita hanya bisa lakukan yang terbaik, terus berusaha, stimulasi," kata drg. Stella.

Merawat orang dengan demensia bukan berarti harus mengorbankan seluruh diri kita. Caregiver juga perlu beristirahat, berbagi peran, dan meminta bantuan, sebagai upayanya untuk menjaga kesehatan mental. Ketika caregiver mendapatkan dukungan yang cukup, kerja perawatan yang dilakukan pun akan berlangsung dengan optimal.

Artikel lainnya seputar kesehatan mental juga bisa dibaca di sini.

Baca juga artikel terkait KESEHATAN MENTAL atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih