diajeng.id - Menjalin persahabatan yang sudah berlangsung cukup lama dengan sosok yang terlihat mendukungmu belum tentu berarti hubungan kalian benar-benar tulus.
Ada kalanya, orang yang kamu anggap sebagai teman tersebut hanya muncul di depanmu ketika mereka membutuhkan sesuatu; memintamu untuk jadi tempatnya berkeluh-kesah, meminjam uang, atau meminta pertolongan teknis lainnya.
Sebaliknya, ketika kamu butuh bantuan mereka, responsnya akan sulit didapat. Sikap mereka tidak konsisten, kadang-kadang membalas pesan, kadang-kadang tidak. Janji-janji pun jarang ditepati. Ketika kalian bersua, percakapan hanya berlangsung satu arah darimu saja. Ketika kamu kesulitan, dia tidak berusaha untuk bersimpati apalagi berempati.
Apabila temanmu menunjukkan pola perilaku demikian, mereka bisa disebut bukan teman sejati alias fake friend.
Apa Arti Fake Friends?
Dikutip dari Verywell Mind, psikolog klinis Aimee Daramus, PsyD, mendefinisikan teman seperti di atas sebagai fair-weather friends. Mereka hanya menunjukkan sikap layaknya seorang teman ketika hubungan tersebut membawa keuntungan bagi dirinya.
Padahal, teman yang benar-benar tulus bisa menjadi tempat untuk mendapatkan dukungan, baik secara emosional maupun dalam menghadapi berbagai persoalan sehari-hari.
Ketika kamu berteman dengan orang yang tidak tulus, mereka akan sulit diandalkan saat kamu butuh dukungan, empati, atau sekadar seseorang untuk mendengarkan. Teman seperti ini bisa tiba-tiba tidak tertarik ketika kamu sedang membutuhkan bantuan.
Tanda-tanda Fake Friends
Pertemanan palsu sering terasa sepihak karena salah satu pihak hanya fokus pada dirinya sendiri. Kurangnya empati dan perhatian terhadap kebutuhanmu bisa menjadi tanda bahwa hubungan tersebut tidak benar-benar tulus. Berikut tanda-tanda fake friends.
1. Menumpahkan Bad Mood, Menjadikanmu Pelampiasan Emosi
Tidak ada yang salah dengan curhat ke teman tentang hari yang buruk. Namun, teman yang baik tidak akan terus-menerus melampiaskan suasana hatinya yang buruk ke orang-orang di sekitarnya.
Mendengarkan ceritanya tentu lumrah-lumrah saja. Namun, jika di setiap pertemuan dia selalu mencurahkan masalah tanpa memedulikan kondisi atau batasanmu, kamu akan merasa terkuras secara emosional.
3. Lebih Peduli Pandangan Orang
Ada beberapa orang yang lebih mementingkan bagaimana pertemanannya terlihat di media sosial daripada hubungan yang sebenarnya.
Kalau kamu memerhatikan bahwa temanmu hanya ingin menunjukkan kedekatan kalian di medsos atau di hadapan orang lain, tanpa ada usaha untuk menjalin komunikasi bermakna dalam setiap momen pertemuan kalian, maka kamu perlu mempertanyakan ulang persahabatan kalian.
4. Suka Bersaing
Persaingan yang sehat dalam pertemanan sebenarnya sah-sah saja. Namun, jika temanmu selalu ingin mengunggulimu karena iri, ingin merasa lebih hebat, atau tidak ikut bahagia atas keberhasilanmu, kamu berhak untuk mempertimbangkan kembali apa pertemanan kalian layak dipertahankan.
5. Membuatmu Merasa Rendah Diri & Meragukan Diri Sendiri
Dalam beberapa kesempatan, temanmu memang memuji kebaikan atau prestasimu. Namun, kalimat-kalimatnya sering memuat sindiran, komentar yang menghakimi, atau ekspresi tidak suka yang membuatmu merasa tidak nyaman dan terluka.
Dalam contoh lain, mereka juga suka mengkritik pilihan, perilaku, atau cara berpikirmu. Selain itu, mereka melakukan gaslighting, memutarbalikkan keadaan sampai kamu mulai meragukan ingatan, perasaan, atau penilaianmu sendiri.
Kalau temanmu sering melakukan hal-hal di atas, pahami bahwa relasi kalian sudah menuju arah tidak sehat.
6. Trash-Talk, Membicarakan dan Mengkhianatimu di Belakang
Fake friends bisa saja bersikap baik di depanmu, akan tetapi mereka juga bisa diam-diam membicarakan atau menjelekkanmu ke orang lain. Sikap seperti ini menunjukkan bahwa mereka tidak menghargai kepercayaan dalam pertemanan.
Kepercayaan adalah salah satu dasar pertemanan yang sehat. Teman yang tulus akan menjaga cerita pribadi yang kamu sampaikan. Sebaliknya, teman bermuka dua bisa membocorkan rahasia atau menggunakan informasi pribadimu untuk kepentingannya sendiri.
7. Selalu Ingin Jadi Pusat Perhatian
Beberapa orang memiliki "main-character energy"; mereka selalu ingin dibicarakan, sulit menerima kritik, mudah tersinggung, atau terus membutuhkan perhatian dari orang lain. Dalam beberapa kasus, mereka menikmati drama yang mereka timbulkan sendiri.
Akibatnya, relasi yang terbentuk menjadi sangat dangkal dan melelahkan. Kamu pun berhak mempertimbangkan kembali dinamika pertemanan tersebut.
9. Sering Menekanmu
Fake friends akan mendorongmu melakukan sesuatu yang sebenarnya bertentangan dengan nilai, prinsip, atau kenyamananmu. Tekanan ini bisa disampaikan secara langsung maupun terselubung.
10. Sering Mengabaikan
Teman yang tulus akan selalu ingin melibatkanmu dan meluangkan waktu bersama. Kalau dia terus-menerus mengabaikanmu atau membatalkan rencana pertemuan berkali-kali, mungkin dia memang menganggap hubungan kalian tidak penting.
Penulis: Risa Fajar Kusuma
Editor: Sekar Kinasih