Menuju konten utama

Happiness Guilt: Mengapa Kita Bisa Merasa Bersalah saat Bahagia?

Pernah merasa bersalah karena menikmati waktu istirahat di tengah tuntutan kerja yang tinggi? Atau bersalah setelah menerima rezeki di saat situasi krisis?

Happiness Guilt: Mengapa Kita Bisa Merasa Bersalah saat Bahagia?
Header Diajeng Bersalah karena Bahagia. foto/istockphoto

diajeng.id - Siapa yang tidak bahagia ketika harapan-harapannya tercapai? Siapa yang tidak sumringah ketika mendapati perjuangannya sekian lama membuahkan hasil?

Namun, ada juga orang yang merasa panik, cemas, bersalah, atau takut saat dirinya sedang berbahagia. Aneh, tetapi fenomena ini nyata adanya.

Kondisi psikologis orang mengalami kecemasan dan merasa bersalah saat dirinya bahagia disebut dengan happiness guilt. Kapan saja perasaan bersalah ini bisa muncul?

Saat Berduka dan Kehilangan

Laman HIA Health menyebutkan, salah satu perasaan bersalah saat bahagia yang sering muncul adalah ketika kita berada di tengah proses berduka setelah kehilangan orang yang dicintai.

Di saat rasa duka mulai mereda, pikiran kerap mempertanyakan apakah menikmati hidup berarti kita sedang melupakan orang yang telah meninggal dunia.

Contohnya, kita tiba-tiba tersenyum atau tertawa sejenak setelah masa-masa awal duka, lalu seketika merasa bersalah dan merasa lebih sedih dari sebelumnya.

Kondisi ini lumrah terjadi. Sebagai upaya untuk memproses perasaan tersebut secara sehat, kita perlu waktu dan ruang yang cukup untuk berduka.

Ingatkan diri sendiri bahwa orang terkasih yang telah tiada tentu menginginkan kita melanjutkan hidup dengan baik. Izinkan diri berada di lingkungan yang konstruktif dan sehat secara sosial sehingga kita tetap ingat untuk mengasihi sesama dan berwelas asih terhadap diri sendiri.

Kebahagiaan di Tengah Masa Sulit

Artikel berjudul "How To Cope With Happiness Guilt" tahun 2020 dari Refinery29 menjelaskan, ada pula rasa bersalah yang muncul akibat survivor's guilt atau membandingkan nasib baik kita dengan penderitaan di sekitar, seperti krisis sosial, masa pandemi, maupun kesusahan orang lain.

Pada titik tertentu, mengkritik diri sendiri karena merasa bahagia dapat memperburuk kondisi mental. Padahal, kebahagiaan bukanlah hal bernilai nol (zero-sum game) yang mengambil jatah kebahagiaan orang lain.

Misalnya, ada perempuan yang merasa sangat bersalah saat merayakan kehamilannya di tengah masa duka keluarga yang kehilangan atau situasi krisis di lingkungannya.

Jika ini terjadi, apa yang bisa dilakukan?

Pahami terlebih dulu bahwa kebahagiaan memberikan energi dan tujuan untuk menghormati kehidupan di masa sulit. Kemudian, salurkan energi positif tersebut untuk membantu sesama melalui aksi nyata; sesederhana melalui advokasi di media sosial dengan share atau repost konten, berdonasi, atau menjadi sukarelawan.

Selain itu, jika kamu nyaman, kamu bisa mempertimbangkan untuk merayakan momen bahagia secara pribadi atau melibatkan lingkaran sosial terdekat yang memahami betul situasimu.

Cherophobia dan Empati

Dinukil dari situs Serenium Wellness, dalam dunia psikologi, ketakutan di saat merasakan kebahagiaan ada juga yang dikenal dengan istilah cherophobia, yaitu keyakinan bahwa rasa bahagia selalu diikuti oleh kesialan (jinx).

Penyebabnya meliputi pesan masa kecil dari keluarga, kultur masyarakat, rasa bersalah komparatif, serta sifat empati tinggi yang salah arah.

Contohnya, ada rasa tidak nyaman, kecenderungan mengkerdilkan arti pencapaian, atau kecemasan bersiap menghadapi hal buruk tepat setelah mendapatkan promosi kerja atau kekasih yang baik hati.

Kondisi ini bisa dinavigasi dengan berlatih mempraktikkan teknik savoring, yaitu menikmati dan menghargai momen bahagia secara sengaja.

Jangan lupa terapkan belas kasih pada diri sendiri (self-compassion), bagikan kabar baik kepada orang-orang terdekat yang membuatmu merasa aman.

Namun, kalau perasaan bersalah masih terus menetap, tidak ada salahnya untuk berkonsultasi dengan pakar atau terapis.

Jebakan Produktivitas

Selanjutnya, ada yang disebut dengan istilah productivity guilt trap. Menurut laman Exploring Therapy, rasa bersalah saat bahagia bisa juga disebabkan dari jebakan produktivitas yang mengukur harga diri dari seberapa sibuk diri kita sehari-hari.

Biasanya kondisi ini sering dialami orang-orang dengan good person syndrome, yaitu kecenderungan untuk selalu mendahulukan orang lain. Mereka kerap pula merasakan kecemasan akan datangnya bencana setelah bahagia (fear of the other shoe dropping).

Selain itu, pola pengasuhan dari kecil yang menganggap aktivitas bersenang-senang sebagai tindakan malas juga turut membentuk pola pikir ini.

Contohnya, mahasiswa yang merasa bersalah saat menikmati acara kampus karena merasa harus terus belajar agar dapat mempertahankan nilai yang baik, atau pekerja yang merasa bersalah saat mengambil waktu untuk beristirahat.

Kondisi ini bisa diatasi dengan menanamkan pemikiran bahwa bersenang-senang bukanlah kemewahan, melainkan kebutuhan dasar (fun is fuel).

Kamu juga harus berani mempertanyakan suara bersalah dalam diri, mulailah dari tindakan bahagia yang kecil (sesimpel makan es krim atau beli kopi di kafe), lepaskan keinginan untuk selalu "mengoptimalkan" atau menjustifikasi setiap waktu luang.

Artikel terkait lainnya juga bisa dibaca di tautan ini.

Baca juga artikel terkait KESEHATAN MENTAL atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih