Menuju konten utama
Seni Menerima

Dapat Hadiah yang Tidak Diinginkan? Begini Cara Menyikapinya

Memakainya dengan setengah hati? Menyumbangkannya ke pihak yang membutuhkan? Apa saja yang bisa dilakukan terkait pemberian tak dikehendaki?

Dapat Hadiah yang Tidak Diinginkan? Begini Cara Menyikapinya
Header Diajeng Menerima Hadiah. FOTO/iStockphoto

diajeng.id - Beberapa tahun lalu, sahabatku sedang mengandung anak pertama.

Anak ini kelak jadi cucu pertama di kedua belah pihak keluarga sahabatku dan suaminya. Kehadiran cucu pertama ini sungguh dinantikan semua orang di keluarga mereka.

Ibu mertua sahabatku begitu bersemangat menyambut kedatangan si bayi dan kerap mengirimkan paket berisi macam-macam pakaian bayi. Salah satunya adalah pakaian bayi yang dibeli dalam jumlah grosir dengan desain sama.

Entah mungkin saat itu sahabatku sedang merasa emosional karena pengaruh hormon atau merasa lelah, dia menangis penuh kekecewaan.

Menurutnya, baju bayi grosiran dari sang ibu mertua itu dibeli secara asal dan sembarangan, tidak mempertimbangkan sisi estetika dan kualitas.

Terlebih, sebagai calon ibu, sahabatku punya selera desain dan kualitas sendiri untuk pakaian bayinya.

Aku pun berusaha menenangkan sahabatku, "Tidak apa-apa, terima saja dulu. Kalau kamu tidak suka, bisa dihadiahkan ke orang lain suatu hari nanti."

Sahabatku terdiam, kemudian minta ditemani untuk belanja pakaian bayi di toko dekat rumah. Suasana hatinya kembali membaik setelah dia berhasil menemukan baju bayi yang memang dia inginkan.

Momen kecil itu membuatku merenungi makna sebuah pemberian.

Ternyata, memberikan sesuatu kepada orang lain tidak sesederhana itu. Apa yang kita anggap praktis dan bagus, mungkin tidak dimaknai begitu oleh si penerima.

Baru-baru ini, di linimasa Threads, juga sering ditemukan utas seseorang yang menerima pemberian hadiah, sebut di antaranya tas tangan atau pakaian dari jenama premium.

Harga per itemnya mungkin bisa menembus jutaan atau belasan juta rupiah. Si pembuat utas ini kemudian bertanya kepada warganet, apakah hadiah pemberian ini barang asli? Faktanya, versi palsunya banyak.

Sebagian warganet menerangkan bahwa barang tersebut palsu karena berbagai alasan.

Di satu sisi, sebagian warganet menyebut tidak etis kalau kita mempertanyakan keaslian barang pemberian tersebut. Cukup diterima saja dan berterima kasih, karena namanya juga pemberian.

Sekali lagi, kejadian ini membuatku berpikir ulang tentang etika menerima hadiah atau barang pemberian. Pada dasarnya, kita ingin memberi yang terbaik untuk orang yang kita sayangi dan kita pedulikan, bukan?

Yang jadi persoalan, tidak semua orang melihat sesuatu dari lensa kita. Toh pada dasarnya kita adalah manusia yang punya preferensi berbeda-beda.

Meski terdengar menguras energi, sebelum memberikan barang pada seseorang mungkin ada baiknya kita mencoba menyelami latar belakang sosial, ekonomi, atau pendidikannya.

Coba jawab dulu pertanyaan-pertanyaan seperti, apa barang yang sehari-hari dia pakai? Bagaimana pandangannya tentang barang-barang premium? Bagaimana pandangannya tentang barang-barang yang berkualitas?

Di balik itu semua, etika memberi-diberi ini memang rumit.

Seberapa pun kita keras mencoba dan mencari tahu tentang seseorang yang akan kita beri barang, akan ada titik di mana usaha itu jadi tidak terlalu berarti karena barang pemberian tidak sesuai dengan yang mereka sukai, butuhkan, atau sesimpel bukan preferensi mereka.

Lalu, apabila kita berada di posisi sebagai penerima hadiah yang tidak kehendaki, apa yang bisa dilakukan?

Tips Ketika Menerima Pemberian Hadiah yang Tidak Dikehendaki

Diajeng telah merangkum artikel dari situs Good on You, The Minimalist Vegan, dan Kliplinger di bawah ini untuk tips menangani pemberian hadiah yang tidak diinginkan:

1. Strategi Finansial dan Praktis

Kalau kamu lebih mengutamakan nilai guna atau finansial, beberapa opsi ini bisa menjadi pertimbangan:

  • Menukar di Toko (Exchange): Menukar barang adalah cara termudah untuk mendapatkan nilai penuh dari hadiah tersebut. Ada beberapa toko franchise besar menawarkan kebijakan pengembalian yang fleksibel untuk mendapatkan kredit toko yang bisa digunakan untuk membeli barang lain yang benar-benar kita butuhkan.
  • Menjual Kembali (Re-sell): Manfaatkan platform seperti Facebook Marketplace atau TikTok Shop untuk mengubah barang tersebut menjadi uang tunai. Hasil penjualannya bahkan bisa dimasukkan ke tabungan untuk memperkuat dana darurat yang kita miliki.
  • Mengembalikan kepada Pemberi (Return): Jika kamu memiliki hubungan yang sangat jujur dan terbuka, maka kamu pun bisa menjelaskan secara taktis mengapa barang tersebut kurang sesuai, misalnya karena sudah punya barang serupa.

2. Berbagi dan Sustainability (Sisi Altruistik)

Memberikan hadiah tersebut kepada pihak yang lebih membutuhkan bisa memberikan kepuasan batin tersendiri, seperti:

  • Donasi yang Bertanggung Jawab: mendonasikan barang ke yayasan amal, rumah singgah, atau bank makanan (untuk hadiah berupa makanan) juga merupakan langkah efektif. Selain membantu orang lain, di beberapa tempat, donasi ini bisa digunakan sebagai pengurang pajak.
  • Acara Tukar Kado (Swap): Buatlah tradisi baru seperti "New Year Gift Swap" bersama teman-teman. Barang yang menurut kita tidak cocok, bisa jadi merupakan "harta karun" bagi orang lain.

3. Kreativitas dan Etika Personal

Mengubah fungsi atau memindahkan kepemilikan juga bisa jadi jalan tengah yang baik:

  • Alih Fungsi (Repurpose): Gunakan kreativitas untuk mengubah barang tersebut. Misalnya, vas bunga yang kurang disukai bisa dijadikan wadah alat tulis di meja kerja.
  • Menghadiahkan Kembali (Regift): Berikan kado tersebut kepada orang lain yang kita yakin bahwa ia akan sangat menyukainya. Namun, pastikan untuk mencatat siapa pemberi aslinya agar tidak terjadi kesalahan yang memalukan dengan memberikan kembali kado tersebut kepada orang yang sama.

4. Refleksi Hubungan dan Masa Depan

Secara reflektif, penting untuk mengingat bahwa "tujuan sebuah kado adalah untuk diterima" sebagai bentuk perhatian.

  • Menyimpan Demi Sentimen: Kalau kado tersebut memiliki nilai emosional yang tinggi (seperti warisan keluarga), menyimpannya meskipun tidak digunakan secara praktis adalah bentuk penghormatan terhadap hubungan.
  • Komunikasi Preventif: Untuk mencegah hal serupa di masa depan, bisa dimulai dengan menetapkan ekspektasi secara halus (menceritakan gaya hidup minimalis diri sendiri) atau secara langsung (membagikan daftar keinginan/wishlist) kepada orang-orang terdekat.
Dengan memahami bahwa kepemilikan barang telah berpindah sepenuhnya kepadamu, maka kamu memiliki hak penuh untuk memutuskan apa yang terbaik bagi barang tersebut tanpa harus merasa bersalah.

Artikel terkait lainnya juga bisa dibaca di sini.

Baca juga artikel terkait HADIAH atau tulisan lainnya dari Sekar Kinasih & Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Sekar Kinasih & Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih