Menuju konten utama

Mengapa di Usia 30 dan 40-an Kita Sering Kehilangan "Spark"?

Memasuki usia 30-an, kita mulai mengevaluasi keputusan masa lalu dengan sudut pandang lebih matang, bahkan menganggap pilihan masa muda tak lagi relevan.

Mengapa di Usia 30 dan 40-an Kita Sering Kehilangan
Header DIajeng Kehilangan Spark Usia 30 40. foto/istockphoto

diajeng.id - Apa kamu pernah terbangun di tengah malam, merenung, dan merasakan relung jiwa yang kosong?

Kamu punya pekerjaan dengan pendapatan stabil. Kamu hidup nyaman bersama pasangan, mungkin kalian sudah punya anak juga, dan sudah meraih pencapaian yang dari dulu dimimpikan. Namun, pada waktu sama, muncul pertanyaan yang mengusik, "Apa hidup begini-begini saja, ya?"

Kalau kamu menjawab iya, bisa jadi kamu mengalami "Millennial Betwixtmas", sebuah fase yang membuat kita merasa terjebak di antara masa muda yang bebas dan tuntutan kedewasaan yang kaku.

Mengapa "Spark" Itu Padam?

Kehilangan spark atau semangat hidup di usia 30-an atau 40-an bukan berarti kamu gagal dalam hidup. Tidak ada yang salah pula dalam hidup kita ketika semangat meredup.

Menurut Reach Link, perasaan tersebut tak lebih dari respons rasional terhadap tekanan yang menumpuk. Salah satu faktor utamanya adalah kelelahan identitas (identity fatigue) dan munculnya kesadaran bahwa warisan di masa lalu tidaklah berlaku lagi saat ini.

Selama ini, kita acap kali "menerima" jalan hidup berdasarkan skenario yang diwariskan oleh orang tua atau tuntutan budaya, seperti harus punya rumah atau karier stabil di usia tertentu, tanpa sekali pun tebersit dorongan untuk bertanya, "Apa betul itu yang kita perlukan? Apa itu memang yang kita mau?"

Selain itu, redupnya semangat di usia produktif muda ini juga bisa jadi pertanda bahwa kamu menyadari perubahan yang terjadi pada dunia di sekitar. Tolok ukur kedewasaan generasi terdahulu kini jauh lebih sulit dicapai karena faktor ekonomi bergejolak, persaingan pasar kerja, dan biaya hidup serta harga properti yang melambung.

Hal ini diperparah dengan jebakan perbandingan di media sosial. Kecanggihan teknologi di layar gawai ini memungkinkan kita melihat pencapaian teman yang berbeda-beda, ada yang baru punya anak, ada yang jadi direktur, ada yang keliling dunia, dan merasa diri kita tertinggal.

Secara biologis, otak manusia khususnya bagian prefrontal cortex, masih berkembang pada saat kita berada di usia 20-an. Memasuki usia 30-an, kita mulai mengevaluasi keputusan masa lalu dengan sudut pandang yang lebih matang. Pada momen itulah, kita sering merasa tersentil dengan penilaian bahwa pilihan-pilihan masa muda kita tidak lagi relevan.

Mengenali Sinyal Perubahan

Laman Shore Coaching menjelaskan, rasa kehilangan arah ini muncul karena kita terlalu lama menjadi "si ahli bertahan" (expert at coping). Tenang saja, kamu tidak sendirian. Situasi itu dirasakan oleh banyak orang.

Kita selama ini membangun identitas sebagai sosok yang bisa diandalkan, rajin, dan sukses. Di sisi lain, proses tersebut juga membuat kita kehilangan kontak dengan diri kita yang asli.

Maka dari itulah, membedakan antara transisi yang sehat dengan kondisi yang lebih serius perlu jadi perhatian khusus. Kalau kamu merasa arah hidupmu tidak pasti, tetapi kamu masih memiliki rasa ingin tahu, itu adalah transisi yang normal.

Namun, apabila muncul rasa putus asa yang terus-menerus, sampai-sampai kamu mengalami gangguan tidur, perubahan nafsu makan, atau merasakan lelah ekstrem meski sudah beristirahat, bisa jadi itu adalah tanda depresi atau burnout yang penanganannya perlu dibantu dengan profesional.

Cara Menemukan Kembali Semangat Hidup

Lalu, bagaimana cara kita menghadapi kondisi tersebut tanpa harus mengubur semua hal yang sudah kita capai?

Langkah paling krusial adalah dengan lepaskan bagian-bagian dari identitas warisan yang selama ini menyertai diri kita dan tanyakan pada diri sendiri, "Apa aku akan memilih hari ini dengan pengetahuan yang aku punya sekarang?"

Pisahkan mana nilai-nilai yang benar-benar milikmu seorang, mana yang datang dari ekspektasi atau harapan orang lain.

Selanjutnya, perjelas arahmu dengan nilai-nilai baru. Mulailah memilahnya, kira-kira apa yang penting saat kamu berasa di usia 30-an, karena mungkin ada banyak yang berbeda saat kamu masih di usia 20-an.

Pertimbangkan untuk menulis di jurnal, catat momen-momen kamu merasa paling hidup, paling terpuruk, dan bahkan paling bisa menjadi diri sendiri.

Kemudian, buatlah eksperimen kecil. Namun ingat, sebaiknya tidak perlu membuat perubahan dalam waktu cepat dan drastis. Lakukan langkah kecil yang bisa dibatalkan (reversible) untuk menguji minat baru, seperti mengambil kuliah malam atau menjadi sukarelawan sebelum memutuskan pindah karier.

Yang terakhir, kamu juga harus memahami hidup ini tidaklah harus hitam-putih, antara kehidupan liar atau hidup yang tenang. Kamu bisa mengakalinya dengan cerdik, misalnya tetap bekerja sambil mengerjakan proyek kreatif di akhir pekan.

Merasa tersesat di usia 30-an atau 40-an sebenarnya adalah bukti bahwa kamu sedang bertumbuh melampaui dirimu yang lama. Perasaan "tersesat" ini bisa dimaknai sebagai undangan untuk mengevaluasi lagi dorongan "bertahan hidup" dan mulai benar-benar "hidup" secara lebih autentik.

Fase ini bukan akhir dari hidup kita. Perlakukan fase ini sebagai transisi penting untuk menjadi diri sendiri yang lebih utuh dan mendalam. Jangan ragu untuk mencari dukungan dari profesional kesehatan mental apabila kamu masih merasa terjebak dalam lingkaran pikiran yang sama dalam waktu lama.

Artikel menarik lainnya juga bisa dibaca di sini.

Baca juga artikel terkait KESEHATAN MENTAL atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih