diajeng.id - Saat berada di tengah-tengah pertemuan, diskusi, atau acara sosial lainnya, apa kamu pernah menganggap lawan bicaramu menjenuhkan?
Di sudut lain, kamu mencuri dengar percakapan seru diselingi tawa orang-orang yang ada di sana. Rasanya, kamu ingin segera berpindah ke mereka.
Sebenarnya, apa yang membuat beberapa orang terkesan sebagai sosok membosankan? Atau, lebih tepatnya, mengapa kita bisa mengecap orang tertentu memiliki karakter yang menjenuhkan?
Narsisme dan Kurangnya Timbal Balik
Dilansir Psychology Today, berdasarkan sebuah studi awal tahun 1980 -anyang meneliti masalah ini, salah satu alasan utama kita menganggap orang lain membosankan adalah kurangnya interaksi timbal balik.
Umumnya, orang yang dianggap membosankan cenderung tidak peduli pada lawan bicaranya, berbicara lebih sedikit, dan sangat jarang menceritakan tentang diri mereka sendiri secara tulus.
Selain itu, sifat narsisme, baik yang bersifat terang-terangan (overt) maupun tersembunyi (covert) juga berperan dalam hal ini.
Orang yang membosankan biasanya juga tidak punya selera humor. Dalam beberapa contoh, mereka "main aman" alias bersikap diplomatis dengan tidak melontarkan pendapat pribadi tentang isu yang diangkat dalam pembicaraan.
Saat Kita Terjebak di Kepala Sendiri
Di sisi lain, menurut The Inspirational Lifestyle, rasa bosan dalam sebuah obrolan tidak selalu berkaitan dengan kekurangan pada lawan bicara kita, melainkan seberapa jauh kita bisa terlibat di dalamnya. Masalahnya, kita bisa saja "terjebak di dalam kepala sendiri".
Alih-alih mendengarkan secara aktif, kita malah sibuk menyusun respons berikutnya, menghakimi apa yang mereka katakan, atau merencanakan taktik obrolan selanjutnya.
Ketika kita tidak hadir secara penuh, percakapan akan terasa dangkal dan terbatas pada basa-basi. Di satu sisi, keheningan atau jeda dalam percakapan sebenarnya bukan sesuatu yang membosankan.
Yang betul-betul membosankan adalah ketika kita memaksakan percakapan berjalan secara otomatis (autopilot) tanpa adanya rasa ingin tahu yang tulus.
Stereotip Instan dan "Opportunity Cost"
Menariknya, artikel berjudul "Why we snap-judge some people as 'boring'" dari BBC mengungkapkan bahwa kita kerap melakukan penilaian sepihak bahkan sebelum lawan bicara sempat membuka mulutnya.
Tanpa disadari, kita biasanya sering membuat label membosankan kepada orang lain, entah itu dari pekerjaan atau hobi yang dilakoninya; seperti orang yang bekerja sebagai akuntan atau analis data atau mereka yang hobi maraton menonton televisi.
Menyadari betapa tersiksanya berada dalam situasi yang membosankan ini bisa membuat kita merasa frustasi karena kehilangan kesempatan untuk menjalin koneksi lebih dalam dengan orang lainnya yang terlihat lebih menarik.
Apakah Masalahnya Ada pada Kita?
Bagaimana jika ternyata masalah sesungguhnya tidak terletak pada orang lain, melainkan pada diri kita sendiri?
Penjelasan di artikel The Guardian bertajuk "If you find everyone else boring you only have yourself to blame" mungkin bisa jadi perspektif menarik.
Di artikel tersebut, penulisnya menekankan bahwa diri kita sendirilah yang patut dipertanyakan jika kita menganggap orang-orang lain membosankan.
Sebuah pepatah lama menyebutkan; tidak ada hal yang membosankan di dunia ini, yang ada hanyalah orang-orang yang membosankan.
Kebosanan, pada akhirnya, berada di mata orang yang melihatnya.
Menghakimi orang lain secara tidak adil sebagai sosok membosankan bisa jadi cuma tameng untuk menutupi rasa tidak aman dan kurangnya keterbukaan pikiran kita sendiri.
Alih-alih terburu-buru melabeli orang lain sebagai sosok yang membosankan, kita perlu belajar untuk mendengarkan dengan lebih baik, membuka pikiran, dan menantang ego kita sendiri.
Seperti halnya dirimu, di balik setiap setiap pribadi yang kita temui, selalu ada hal unik dari pengalaman hidupnya yang menanti untuk dijelajahi dan dipelajari, sepanjang kita cukup peduli untuk mau memahaminya.
Artikel terkait lainnya juga bisa dibaca di tautan ini.
Editor: Sekar Kinasih