diajeng.id - Burnt toast theory merujuk pada metafora tentang cara memandang kejadian kecil yang tidak menyenangkan sebagai sesuatu yang mungkin membawa dampak positif, atau istilahnya silver lining, di kemudian hari.
Konsep ini berkaitan dengan butterfly effect, yaitu gagasan bahwa peristiwa kecil dapat memicu dampak yang tidak terduga dan lebih luas.
Meski disebut “teori”, burnt toast theory bukanlah teori ilmiah. Gagasan ini sempat populer di TikTok dan mengajak kita melihat kejadian-kejadian sepele dari lensa lain.
Contohnya, seperti namanya, roti bakar yang gosong. Padahal, kamu sedang buru-buru menyiapkan roti tersebut untuk sarapan. Alhasil, kamu harus mengulang bikin roti bakar lagi. Akibatnya, kamu terlambat masuk ke kantor.
Menariknya, keterlambatan tersebut bisa jadi malah menyelamatkanmu dari kecelakaan atau mempertemukanmu dengan orang yang bisa membantumu menyelesaikan masalah.
Selain contoh roti bakar, burnt toast theory juga dapat diaplikasikan di konteks "kejadian apes" lainnya.
Misalnya, kamu tidak diterima di tempat kerja yang kamu idam-idamkan. Ternyata, beberapa saat kemudian kamu mendengar berita bahwa kantor yang menolak lamaran kerjamu terbelit kasus hukum. Atau, kamu keliru naik bus atau kereta. Di jalur tersebut, kamu berjumpa kawan lama yang menawarkan kesempatan kerja lebih baik.
Apa saja sisi-sisi baik yang bisa kita ambil dari pandangan burnt toast theory? Berikut penjelasannya.
Apa Sisi Baik Burnt Toast Theory?
Burnt toast theory mengajak kita untuk tidak langsung menghakimi sebuah kejadian buruk sebagai akhir dari segalanya.
Bisa jadi, ada hal baik, atau setidaknya hikmah, yang baru terlihat setelah kita merenunginya dari sudut pandang yang berbeda. Berikut adalah sisi baik yang bisa kita petik dari konsep burnt toast theory.
1. Mengajarkan Welas Asih pada Diri Sendiri
Saat mengalami "kecelakaan" kecil seperti roti atau telur yang gosong, kita sering menyalahkan diri sendiri. Padahal, kejadian tersbut sangat lumrah terjadi pada siapa saja.
Teori ini mengingatkan bahwa kamu tidak perlu terlalu keras pada diri sendiri hanya karena mengalami hal yang membuat kesal. Kamu boleh merasa kecewa atau marah sejenak, tetapi setelah itu cobalah mengingat bahwa perasaan tersebut wajar.
2. Membuat Kita Lebih Mindful
Halangan-halangan kecil atau sepele bisa membuat kita membayangkan kemungkinan terburuk. Misalnya, roti gosong membuatmu terlambat berangkat kerja, lalu kamu mulai berpikir akan mendapat masalah besar di kantor. Padahal, kemungkinan terjadinya kejadian buruk sebenarnya tidak sebesar yang kita bayangkan.
Alih-alih mengikuti rasa takut dan membuat masalah kecil terasa semakin besar, kita diajak kembali pada realitas yang sedang terjadi pada momen tersebut.
3. Membantu Melihat Sesuatu Lebih Jernih
Kadang-kadang, sesuatu yang awalnya terasa menyebalkan bisa mengarahkan kita pada pilihan lebih baik. Misalnya dalam kehidupan, kehilangan pekerjaan impian bisa membantu kita menyadari bidang yang sebenarnya ingin ditekuni.
Dengan memaknai kejadian tersebut, kita bisa menemukan arah baru yang sebelumnya tidak terpikirkan.
4. Membantu Kita Melangkah ke Depan
Kita sering mencari-cari alasan atas hal-hal yang menyakitkan, seperti kehilangan pekerjaan, tidak mendapat promosi, atau ditinggalkan kekasih. Menelusuri penyebabnya memang bisa membantu proses penerimaan, akan tetapi terlalu lama mencari jawaban sebenarnya malah berisiko membuat kita terjebak di masa lalu.
Coba kita lihat pengalaman tersebut sebagai jalan menuju kesempatan baru untuk bergerak maju. Sembari itu, tetaplah berikan ruang bagi diri kita untuk merasakan dan memproses kesedihan.
5. Afirmasi Positif
Afirmasi dapat membantu menggantikan pola pikir negatif dengan kalimat yang lebih menenangkan. Kamu bisa mengulangi contoh kalimat berikut di dalam hati ketika sedang menghadapi situasi yang membuat cemas atau frustrasi.
“Aku bisa menghadapi ini.”
“Badai ini pasti akan berlalu.”
“Aku berhak merasa tenang.”
Penulis: Risa Fajar Kusuma
Editor: Sekar Kinasih