Menuju konten utama

Mengapa Pasangan Sering Bertengkar karena Perkara Sepele?

Reaksi emosional yang muncul biasanya berkaitan dengan hal lain, seperti rasa lelah, ekspektasi tak tersampaikan, atau kebiasaan komunikasi kurang sehat.

Mengapa Pasangan Sering Bertengkar karena Perkara Sepele?
Header Diajeng Pasangan Berselisih. FOTO/iStockphoto

diajeng.id - Hubungan asmara, baik saat berpacaran maupun yang sudah berada dalam ikatan pernikahan, tidak selalu dipenuhi momen indah bak kisah putri dan pangeran kerajaan.

Di balik kebersamaan, ada juga pertengkaran kecil yang kerap muncul dalam keseharian. Menariknya, konflik tidak selalu dipicu oleh masalah besar atau isu kompleks.

Hal-hal sepele seperti lupa mematikan lampu, tidak mencuci piring, atau mengabaikan tugas rumah tangga sangat mungkin jadi pemicu pertengkaran.

Apa sebenarnya yang menyebabkan pasangan berselisih atas persoalan remeh-temeh?

Sekilas, persoalan ini terlihat sepele dan seharusnya mudah diselesaikan. Namun, kenyataannya tidak sesimpel itu.

Reaksi emosional yang muncul biasanya berkaitan dengan hal lain, seperti rasa lelah, ekspektasi yang tidak tersampaikan, atau kebiasaan komunikasi yang kurang sehat.

Berikut ini adalah beberapa alasan mengapa pasangan bisa berselisih karena perkara yang sepele, apa kamu merasa salah satunya?

1. Kebutuhan Emosional yang Tidak Terpenuhi

Ketika kebutuhan emosional seperti ingin dipahami, dihargai, dan merasa dekat tidak terpenuhi, rasa kesal bisa muncul tanpa disadari. Alih-alih diungkapkan secara langsung, emosi ini sering dilampiaskan lewat hal-hal kecil. Pertengkaran sepele sebenarnya bisa menjadi “kode” bahwa salah satu pihak sedang ingin diperhatikan atau merasa terluka.

2. Komunikasi Tidak Efektif dan Berasumsi Sendiri

Banyak pertengkaran terjadi karena komunikasi yang tidak jelas. Kebiasaan memendam perasaan atau menganggap pasangan “seharusnya sudah tahu” berpotensi membuka peluang besar untuk salah paham.

Nada bicara, ekspresi wajah, atau sarkasme bisa memicu konflik meski kata-katanya terdengar biasa. Ditambah lagi, pasangan bisa saja komunikatif di satu topik, tetapi buntu di topik lain seperti topik keuangan atau urusan rumah tangga.

3. Stres dari Luar yang Terbawa ke Hubungan

Tekanan pekerjaan, masalah keuangan, urusan keluarga, atau kesehatan acap kali “terbawa” ke dalam hubungan. Kondisi ini membuat kita lebih sensitif dan mudah tersulut emosi.

Saat pasangan sama-sama lelah secara mental, kesabaran menurun dan empati jadi lebih tipis. Akibatnya, urusan seperti piring kotor atau ucapan spontan bisa terasa lebih menyakitkan dari seharusnya.

4. Kepribadian dan Perbedaan Cara Merespon Konflik

Setiap orang punya karakter dan cara merespons konflik yang berbeda. Ada yang cepat marah, ada yang memilih bungkam. Ada yang suka keteraturan, ada juga yang lebih santai. Awalnya mungkin terlihat sepele, tetapi jika tidak dipahami, perbedaan ini bisa memicu perselisihan.

5. Akumulasi Kekesalan

Pertengkaran kecil yang berulang biasanya berakar dari masalah lama yang belum selesai. Kekecewaan kecil, harapan yang tidak terpenuhi, atau konflik yang dihindari bisa menumpuk dan perlahan merusak rasa aman dalam hubungan.

Jadi, pertengkaran yang terlihat sepele biasanya bukan hanya soal kejadian saat itu, melainkan akumulasi luka yang belum terselesaikan.

6. Pekerjaan Rumah Tangga

Pembagian tugas rumah, mulai dari mencuci piring hingga urusan seperti bayar tagihan, kerap memicu pertengkaran kecil yang berulang. Banyak orang merasa dirinya lebih banyak berkontribusi, sedangkan pasangannya dianggap kurang peduli atau tidak menghargai usaha tersebut.

Meski terlihat sepele, perasaan ini bisa menumpuk dan memicu ketegangan dalam hubungan.

Baca juga artikel terkait SUPPLEMENT CONTENT atau tulisan lainnya dari Risa Fajar Kusuma

diajeng.id - Diajeng
Kontributor: Risa Fajar Kusuma
Penulis: Risa Fajar Kusuma
Editor: Sekar Kinasih