Menuju konten utama
Opini

Yang Perlu Dikritisi dari Tren Medsos "Princess Treatment"

Tren ini melanggengkan gagasan bahwa seseorang boleh membuat keputusan atas nama perempuan, meski perempuan sebenarnya bisa melakukannya sendiri.

Yang Perlu Dikritisi dari Tren Medsos
Header Diajeng Princess Treatment. FOTO/iStockphoto

diajeng.id - Di tengah ekonomi serbasulit hari ini, mungkin tidak banyak orang yang akan menolak jika diberi privilese untuk hidup bak bangsawan di kastil mewah, dengan segala kebutuhan dan keinginannya terpenuhi.

Dalam konteks relasi asmara pada era TikTok dan reels Instagram, “gaya hidup bangsawan” ini familier disebut “princess treatment”.

“Princess treatment” merujuk pada dinamika pasangan ketika salah satu pihak, perempuan khususnya, diperlakukan layaknya bangsawan. Seperti seorang putri kerajaan, perempuan dibanjiri kasih sayang lewat perlakuan pasangannya.

Apabila “bare minimum” berarti perilaku standar yang dilakukan pasangan, “princess treatment” mengacu pada gestur-gestur besar yang diterima perempuan dari pasangannya, mulai dari dibelanjakan berbagai produk perawatan kulit, dihadiahi smartphone keluaran terbaru atau mobil mewah, sampai diajak liburan dengan itinerary yang diatur sepenuhnya oleh pihak laki-laki.

Pada beberapa contoh, "princess treatment" diterapkan pada pihak perempuan yang sedari kecil sudah menjalani gaya hidup berstandar tinggi dengan segala keinginan dan kebutuhan dipenuhi oleh ayahnya atau keluarganya sendiri, sehingga pasangan atau suaminya kelak menerima tongkat estafet untuk meneruskan perlakuan dengan standar yang sama atau lebih tinggi.

Sementara pada pasangan yang sudah menikah, perlakuan ini juga bisa berkaitan dengan bentuk apresiasi suami terhadap istri yang sudah bekerja keras untuk anak dan keluarga mereka.

Meski berangkat dari narasi tentang romansa dan dinamika berpasangan yang menghargai perempuan, tren “princess treatment” yang bergaung keras di lini masa media sosial ini sebenarnya memunculkan implikasi cukup serius dalam kehidupan perempuan.

Bagi pihak-pihak yang tidak cukup memahami konteksnya, narasi “princess treatment” berpotensi menimbulkan impresi bahwa perempuan tidak perlu bekerja keras untuk sebuah relasi, melainkan cukup duduk manis untuk menikmati segala perlakuan istimewa yang sudah dipersiapkan pihak laki-laki.

Standar Baru (Lagi) untuk Perempuan

Seiring gencarnya konten dan video “princess treatment” di media sosial, berbagai figur internet menunjukkan caranya mendapat perlakuan serupa dari pasangan. Sayangnya, narasi yang berkembang dari mereka cenderung sangat dangkal.

Salah satunya adalah dengan menjaga penampilan diri lewat perawatan, seperti rutin mengaplikasikan masker wajah, menjaga kesehatan kuku, dan mengonsumsi makanan yang sehat untuk tubuh.

Anjuran lainnya mengajak perempuan untuk menempatkan dirinya sebagai seorang putri. Jika berada di sekitar pasangan, mereka dianjurkan untuk tidak berpakaian biasa-biasa saja atau hanya mengenakan kaos dan celana pendek.

Memang betul, perawatan dan penampilan adalah aspek penting yang harus diperhatikan semua orang, tak terkecuali perempuan. Pertaanyaannya, sehatkah jika hal ini dilakukan untuk menyenangkan orang lain?

Lagi-lagi, perempuan harus mencapai standar tertentu demi diperlakukan layak.

Apa perempuan hanya pantas untuk diperlakukan dengan terhormat ketika penampilannya juga baik? Ataukah perlakuan tersebut eksklusif untuk perempuan-perempuan cantik?

Di satu sisi, ada banyak aspek dalam diri perempuan yang patut dihargai. Kerja keras, ketekunan, kepekaan, kebaikan, hanya sedikit contoh dari aspek-aspek yang membentuk esensi diri pada setiap manusia.

Problem di Balik “Princess Treatment”

Yang bisa dikritisi lagi dari tren “princess treatment” adalah landasan pemikiran di dalamnya bahwa pasangan bisa mengambil alih suatu hubungan dan menentukan ritme atau arah relasi.

Dimaknai secara sempit begitu, perempuan dipandang tidak perlu memusingkan apapun dalam hidupnya karena segala hal telah diatur dan diurus oleh pasangannya.

Di video-video yang banyak beredar, sudah berapa banyak kita temukan klaim dari penerima “princess treatment” bahwa mereka merasa tidak pernah harus “ikut repot” dalam hubungan mereka?

Membuka pintu? Memasak? Memesan makanan? Memilih tempat kencan? Biarkan pasangan yang melakukannya. Bahkan, tren yang beredar mulai membangga-banggakan kemampuan perempuan untuk “mengistirahatkan otak” ketika berada di sekitar pasangan.

Narasi semacam ini menimbulkan permasalahan terhadap otonomi perempuan. Bukan hanya penampilan, perempuan terkesan perlu mengerdilkan diri atau menjadi invalid demi mendapat perlakuan tertentu.

Mengalihkan kontrol sepenuhnya terhadap pasangan juga memiliki risiko tertentu. Perempuan, sebagai manusia, tetap punya andil dalam menentukan keputusan terkait dirinya sendiri.

“Princess treatment” melanggengkan gagasan bahwa seseorang boleh membuat keputusan atas nama perempuan, meski perempuan sebenarnya bisa melakukannya sendiri.

Dinamika pasangan tersebut menempatkan perempuan sebagai sebuah objek pemujaan, alih-alih individu dengan agensi dan akal sehat. “Princess treatment” memperkuat ide bahwa perempuan adalah mahluk pasif yang harus dilayani terus-menerus.

Menurut terapis berlisensi Amanda White, narasi “princess treatment” sebenarnya bisa jadi bahan diskusi yang konstruktif tentang bagaimana pasangan mengakui “invisible mental load—beban mental tak kasat mata” yang selama ini dipanggul oleh banyak perempuan. Hal ini penting untuk dibahas lantaran peran besar perempuan dalam kerja-kerja perawatan dan rumah tangga selama ini kerap terpinggirkan dari diskursus publik.

Namun, di satu sisi, “princess treatment” dapat menciptakan dinamika relasi yang tidak menyehatkan.

“Kalau kamu terus memosisikan diri sebagai 'putri' dalam hubungan, pasanganmu tidak akan benar-benar kenal kamu. Akibatnya, rasa dicintai dan kedekatan emosional yang mendalam jadi sulit terbangun," tukas White dilansir dari The New York Times.

Hubungan yang sehat melibatkan kedua belah pihak yang sama-sama aktif berkomunikasi. Menjaga kualitas hubungan pun perlu menjadi upaya yang dilakukan bersama.

Dalam hubunganmu sendiri, seperti apa “princess treatment” yang menurutmu tetap membuat kedua belah pihak merasa dihargai dan saling terhubung?

Baca juga artikel terkait DIAJENG PEREMPUAN atau tulisan lainnya dari Maria Gratia Rosarina

diajeng.id - Diajeng
Kontributor: Maria Gratia Rosarina
Penulis: Maria Gratia Rosarina
Editor: Sekar Kinasih