Menuju konten utama

Mengenal Trauma Bonding, Penyebabnya dan Cara Mengatasinya

Trauma bonding adalah siklus perlakuan buruk dan manis yang datang bergantian hingga menimbulkan kebingungan sekaligus ketergantungan emosional.

Mengenal Trauma Bonding, Penyebabnya dan Cara Mengatasinya
Ilustrasi Trauma Bonding. FOTO/iStockphoto

diajeng.id - Trauma bonding merupakan keterikatan emosional yang intens namun tidak sehat antara seseorang dan pelaku kekerasan atau pelecehan. Hubungan ini terbentuk melalui pola perlakuan yang menyakitkan secara berulang, yang kemudian diselingi sikap baik seperti pujian, hadiah, atau permintaan maaf.

Siklus perlakuan buruk dan perlakuan manis yang datang bergantian ini menimbulkan kebingungan sekaligus ketergantungan emosional. Akibatnya, korban tetap merasa terikat dan sulit melepaskan diri meskipun berada dalam hubungan yang menyakitkan.

Penyebab Trauma Bonding

Apa itu bonding? Bonding adalah proses terbentuknya ikatan emosional antara dua orang atau lebih. Ikatan ini bisa muncul karena kedekatan, pengalaman bersama, rasa aman, perhatian, atau keterhubungan yang terjalin secara konsisten.

Trauma bonding tidak terjadi begitu saja, melainkan terbentuk melalui pola hubungan yang penuh manipulasi dan ketidakseimbangan kekuasaan.

  • Siklus perlakuan menyakitkan yang diselingi perhatian atau kasih sayang semu membuat korban perlahan merasa terikat secara emosional.
  • Untuk memahami kondisi ini lebih dalam, penting mengetahui apa saja faktor yang bisa menjadi penyebab munculnya trauma bonding.
  • Manipulasi membuat pelaku kerap memakai taktik seperti gaslighting untuk membuat korban meragukan pikiran dan penilaiannya sendiri.
  • Kebutuhan untuk disayangi membuat keinginan kuat untuk dicintai dan diterima dapat menjadikan seseorang lebih rentan terjebak dalam hubungan yang tidak sehat.
  • Siklus kekerasan terjadi ketika perlakuan menyakitkan berulang dan diselingi permintaan maaf atau sikap manis, sehingga menimbulkan kebingungan dan ketergantungan emosional.
  • Isolasi terjadi saat korban dijauhkan dari teman dan keluarga sehingga semakin bergantung secara emosional pada pelaku.

Gejala Trauma Bonding yang Perlu Diwaspadai

Trauma bonding sering kali tidak disadari karena dibungkus dalam dinamika hubungan yang terlihat “rumit” atau penuh drama. Padahal, ada ciri-ciri trauma bonding tertentu yang menunjukkan seseorang terjebak dalam keterikatan emosional yang tidak sehat.

  • Mengenali gejalanya sejak awal penting agar kamu bisa lebih waspada dan melindungi diri dari hubungan yang merugikan secara emosional.
  • Kesulitan meninggalkan hubungan meski kamu sadar hubungan tersebut tidak sehat.
  • Sering menyalahkan diri sendiri atas sikap atau perilaku buruk pelaku.
  • Tetap merasa simpati, bahkan ingin membela atau melindungi pelaku yang telah menyakitimu.
  • Menjauh atau merasa terputus dari teman dan keluarga.
  • Memiliki harapan berlebihan bahwa suatu hari pelaku pasti berubah menjadi lebih baik.
  • Merasa cemas, takut, atau dihantui rasa bersalah ketika tidak bersama pelaku.

Cara Mengatasi Trauma Bonding

Melepaskan diri dari trauma bonding bukan hal yang mudah, terutama karena keterikatannya terbentuk secara emosional dan berlangsung dalam waktu lama. Namun, kondisi ini bukan sesuatu yang tidak bisa diatasi. Berikut adalah cara mengatasi trauma bonding.

  • Dengan kesadaran, berdamai, dukungan yang tepat, dan langkah yang konsisten, kamu tetap bisa memulihkan diri dan membangun hubungan yang lebih sehat ke depannya.
  • Cari dukungan dengan berbicara kepada teman, keluarga, atau terapi pada profesional kesehatan mental karena dukungan orang lain sangat membantu proses pemulihan.
  • Putuskan kontak jika memungkinkan agar kamu memiliki ruang untuk pulih secara emosional tanpa terus terpapar pelaku.
  • Akui bahwa kamu berada dalam hubungan yang tidak sehat dan sedang mengalami trauma bonding sebagai langkah awal untuk berubah.
  • Fokus pada diri sendiri dengan memprioritaskan self-care dan melakukan aktivitas yang membuatmu merasa lebih tenang dan berharga.
  • Tetapkan batasan yang tegas dan ingat bahwa kamu berhak diperlakukan dengan hormat.
  • Jalani terapi untuk membantu memproses trauma, membangun kembali kepercayaan diri, dan mempelajari pola hubungan yang lebih sehat.

Baca juga artikel terkait SUPPLEMENT CONTENT atau tulisan lainnya dari Risa Fajar Kusuma

diajeng.id - Diajeng
Kontributor: Risa Fajar Kusuma
Penulis: Risa Fajar Kusuma
Editor: Risa Fajar Kusuma & Dhita Koesno