diajeng.id - Bayangkan, kamu sedang memilih-milih baju yang akan dibeli di sebuah mal dengan pasangan kencanmu.
Tiba-tiba, laki-laki tersebut berceletuk, "Selera bajumu mirip sama X (mantanku), ya!"
Atau, di tengah-tengah momen menikmati makan malam yang romantis, lilin menyala redup, dan percakapan mengalir hangat, pasanganmu berkomentar, "Dulu, si X (mantan) sering banget pesen menu ini, dia bilang ini favoritnya, lho!"
Suasana pun langsung berubah. Seketika saja, makanan di piringmu terasa hambar. Dadamu mulai sesak dengan rasa kesal dan cemburu.
Sebelum emosi menguasai pikiranmu, lihat dulu situasi yang ada dengan kepala dingin.
Langkah Strategis saat Pasangan Mengingat Mantan
Langkah pertama yang paling utama adalah memeriksa seberapa aman dirimu sendiri.
Terapis pernikahan dan keluarga Jennifer L. McBride McNamara di laman Elite Daily menyebutkan bahwa kegelisahan saat pasangan menyebut nama mantan sering mencerminkan gejala dari ketidakyakinan kita terhadap hubungan yang sedang dijalani.
"Fokus yang berlebihan itu menjadi penanda letak ketidakamanan dalam hubungan tersebut," katanya.
Namun, wajar saja kamu merasa kesal karena merasa "kehadiran" orang ketiga tersebut merusak momen kebersamaan dengan pasanganmu
Lantas, mengapa pasangan melakukan hal ini? Tulisan Margaret Cook berjudul "My boyfriend talks about his ex. Should I mind?" di The Guardian menyebutkan beberapa kemungkinan.
Pertama, bisa jadi itu adalah bentuk trauma pasca putus yang menyakitkan. Keputusan untuk berbicara tentang masa lalu bisa jadi semacam cara untuk berdamai dengan kehilangan tersebut.
Kedua, indikasi masalah keterampilan komunikasi. Beberapa orang merasa kesulitan membiarkan percakapan mengalir secara alami sehingga mereka "menyusun" topik-topik tertentu yang sayangnya rentan beririsan dengan masa lalu yang paling mereka ingat.
Kecenderungan tersebut membuat beberapa laki-laki tidak sadar bahwa pujian atau cerita tentang pasangan di masa lalunya dapat melukai perasaan pasangan yang saat ini sedang bersamanya.
Namun, kamu juga perlu waspada terhadap tanda-tanda" red flag". Kamu patut curiga kalau pasanganmu mulai bersikap defensif atau merahasiakan komunikasinya dengan sang mantan.
Amati juga, apakah frekuensi mereka berbicara, baik secara langsung maupun lewat pesan, sampai menyamai atau bahkan melebihi frekuensi komunikasi denganmu?
Yang pasti, orang yang serius menjalin hubungan dengan kita idealnya tidak akan menjadikan mantannya sebagai topik utama pembicaraan, terutama di awal hubungan yang seharusnya fokus pada kalian berdua.
Cara Menghadapi Pasangan yang Sering Bahas Mantannya
Apa yang bisa kita lakukan jika pasangan secara spontan mengungkit mantan kekasihnya?
Komunikasi terbuka adalah kunci. Jangan langsung menuduh, tetapi lakukan observasi pada pola komunikasinya selama beberapa waktu agar kamu memiliki bukti yang jelas untuk disampaikan.
Sampaikan perasaanmu dengan tenang. Pasangan yang benar-benar sayang pada kita akan mendengarkan kekhawatiran kita dan bersedia bekerja sama untuk menetapkan batasan (boundaries) yang baru terhadap hubungan masa lalunya.
Sebaliknya, kalau dia meremehkan perasaanmu atau bersikap defensif, itu bisa menjadi sinyal bahwa hubungannya dengan mantannya memang lebih dekat dari yang kamu duga.
Hubungan yang sehat seharusnya didasarkan pada rasa saling percaya dan hormat.
Apabila pasanganmu kamu masih menghargai mantannya sebagai teman secara platonis tanpa ada niat terselubung, itu bisa jadi tanda bahwa dia adalah pribadi yang baik.
Namun, prioritas utama tetaplah hubungan yang sedang kalian jalani saat ini. Jangan biarkan bayang-bayang masa lalu merusak masa depan yang sedang kamu bangun bersama pasangan.
Jika hubungan kalian kuat dan terbukti tahan dengan berbagai cobaan, beberapa cerita tentang masa lalu tidak akan mampu menggoyahkannya. Di sisi lain, jika topik seputar mantan terus menjadi beban, mungkin sudah saatnya kamu mengevaluasi apakah hubungan ini layak dipertahankan.
Dalam psikologi modern, seperti dilansir The Pleasant Relationship, perilaku membicarakan mantan secara berlebihan kadang-kadang dikaitkan dengan "backburner relationship" atau upaya mencari validasi, sehingga penting untuk tetap memercayai intuisi yang kamu miliki sambil tetap mengedepankan komunikasi terbuka.
Artikel lainnya terkait relationship juga bisa dibaca di sini.
Editor: Sekar Kinasih