Menuju konten utama

Khawatir Pasangan Berselingkuh: Intuisi atau Paranoia?

Pengalaman masa lalu, seperti pernah dikhianati atau menyaksikan orang terdekat alami trauma pengkhianatan, dapat membuat paranoia sulit dikendalikan.

Khawatir Pasangan Berselingkuh: Intuisi atau Paranoia?
Header Diajeng paranoia pasangan selingkuh. foto/istockphoto

diajeng.id - Kisah perselingkuhan dalam rumah tangga sudah cukup sering kita temukan dalam unggahan konten di media sosial atau mungkin pernah kita dengar dari pengalaman nyata orang-orang di sekitar kita. Belakangan ini, semakin banyak pula film yang mengangkat topik perselingkuhan.

Tanpa disadari, paparan terhadap cerita-cerita seperti itu sangat mungkin menimbulkan ketakutan dan pertanyaan liar, bagaimana kalau pasanganku ternyata juga diam-diam berselingkuh?

Di balik itu, ada pertanyaan lebih penting. Sebenarnya, yang kita rasakan ini sekadar kekhawatiran, ketakutan, paranoia, atau memang sebuah insting berdasarkan indikasi dan pertanda "red flags" dari pasangan yang berselingkuh?

Mengapa Kita Bisa Paranoid Pasangan Berselingkuh?

Ketakutan akan perselingkuhan tidak muncul begitu saja, termasuk jika pasangan kita tidak pernah berbuat salah.

Dilansir Verywell Mind, psikoterapis Malka Shaw mengungkapkan bahwa berdasarkan studi yang dilakukan pada 160 budaya, perselingkuhan terjadi di sekitar 20 persen pernikahan dan 70 persen relasi antara orang dewasa.

Menariknya, rasa takut itu tidak selalu berasal dari pengalaman hubungan sebelumnya atau tren sosial.

“Rasa takut yang mendalam acap kali lebih dari sekadar hubungan yang terjadi saat ini. Biasanya berasal dari jejak psikologis dan emosional yang terbentuk jauh sebelum dewasa,” kata Shaw.

Pengalaman masa lalu, seperti pernah dikhianati oleh mantan pasangan atau menyaksikan orang terdekat kita mengalami trauma pengkhianatan (betrayal trauma), dapat membuat rasa paranoid itu jadi sulit dikendalikan.

Paranoia menimbulkan kekhawatiran bahwa sejarah suram tersebut akan terulang kembali.

Seperti pengakuan Enny (39 tahun) kepada Diajeng, karyawan swasta di Bandung ini sangat khawatir pernikahan yang baru dijalaninya selama 5 tahun akan berakhir dengan perselingkuhan.

Kekhawatiran ini muncul lantaran pernikahan sebelumnya berakhir dengan pengkhianatan dari suaminya. Orang tua Enny pun berpisah karena ayahnya ketahuan menjalin hubungan dengan perempuan lain dalam pernikahan.

"Aku memang agak trauma, orang tua berpisah karena ayahku ada WIL (wanita idaman lain), mantanku dulu juga ketahuan selingkuh dengan teman sekantornya. Jadi masih was-was juga sama pernikahan yang sekarang," ujar Enny.

Meski suaminya meyakinkan Enny bahwa tidak pernah berniat untuk menduakan dirinya, tetapi ibu satu anak ini masih belum bisa percaya 100 persen.

"Aku tadinya sudah enggak ada niat buat punya suami lagi, tapi dia [suami sekarang] keukeuh, yang bikin aku jadi luluh terima lamarannya dulu dan plusnya juga sayang sama anakku. Cuma ya memang pikiran-pikiran jelek itu susah banget hilangnya," kata Enny.

Bukan hanya trauma pengkhianatan, gaya kelekatan atau attachment style juga memainkan peran besar.

Orang dengan gaya kelekatan anxious cenderung membutuhkan pengakuan terus-menerus dan sering terjebak dalam pemikiran buruk tentang komitmen pasangan mereka.

Pengaruh budaya populer dari media sosial serta industri perfilman Hollywood juga memperparah kondisi ini dengan "melumrahkan" praktik perselingkuhan dan menciptakan standar hubungan yang tidak realistis.

Selain itu, rendahnya harga diri pun dapat memicu perasaan bahwa diri kita mudah digantikan, sehingga muncul ketakutan yang irasional dengan berpikir pasangan akan mencari seseorang yang "lebih baik" daripada dirimu.

Membedakan Paranoia dan Indikasi Perselingkuhan

Melansir penjelasan dari BetterHelp, penting untuk membedakan antara paranoia dengan kekhawatiran yang sesungguhnya agar tidak sampai merusak kepercayaan tanpa bukti nyata.

Paranoia hubungan umumnya berasal dari diri sendiri yang dipicu oleh kecemasan, trauma masa lalu, atau rendahnya rasa percaya diri. Biasanya, paranoia tidak disertai dengan tanda-tanda perubahan pada perilaku pasangan.

Sebaliknya, indikasi perselinguhan bisa terlihat dari perubahan perilaku yang ditunjukkan pasangan.

Beberapa indikasi yang perlu jadi perhatian, di antaranya, adalah jarak emosional yang muncul dalam berinteraksi. Ini terjadi ketika pasangan menarik diri dari percakapan atau aktivitas bersama tanpa alasan jelas.

Selain itu, pasangan yang biasanya tidak keberatan kalau kamu mengecek smartphone-nya, tiba-tiba saja membuat batasan dengan mengganti kata sandi. Kamu tidak boleh tahu apa kata sandinya. Pasanganmu juga terkesan lebih overprotektif pada smartphone-nya. Pada satu titik, wajar kamu jadi curiga pada pasangan.

Perubahan pola sosial, seperti banyaknya waktu yang dihabiskan di luar rumah tanpa ada penjelasan atau enggan melibatkan dirimu dalam rencana baru, juga merupakan tanda-tanda yang lebih berat bobotnya daripada sekadar "firasat" semata.

Intuisi memang patut dihormati, tetapi perasaan tersebut juga harus didukung oleh bukti perilaku yang nyata sebelum kamu menarik kesimpulan.

Bagaimana Agar Tidak Terlalu Khawatir dengan Potensi Diselingkuhi

Situs O'Sullivan Counseling menawarkan beberapa strategi praktis. Pertama, kita harus memahami perbedaan antara pikiran otomatis dan rumination (perenungan).

Pikiran yang mempertanyakan "bagaimana jika pasangan berselingkuh" memang muncul secara otomatis dan tidak bisa dikontrol, akan tetapi kita punya pilihan untuk meresponsnya. Apa kita mau berhenti memikirkannya? Apa kita mau terus memikirkan dan menganalisisnya dengan risiko memperparah kecemasan?

Strategi penting lainnya adalah berhenti mencari kepastian (reassurance seeking) secara berlebihan, seperti terus bertanya atau mengecek smartphone pasangan.

Kepastian 100 persen bahwa pasangan tidak akan pernah selingkuh adalah sesuatu yang mustahil dicapai. Semakin kita mengejar kepastian, semakin kita merasa khawatir dengan ketidakpastian.

Alih-alih mencari bukti, cobalah untuk menjadi pengamat pasif terhadap pikiran buruk tersebut, ibarat melihat sistem cuaca yang lewat tanpa harus terlibat di dalamnya.

Gunakan bagian otak yang disebut "Grandparent Brain"—sisi bijak dan logis—untuk menenangkan "Child Brain" kita yang sedang ketakutan.

Dengan belajar menoleransi ketidakpastian dan mengidentifikasi keyakinan inti (core beliefs) yang membuat kita merasa tidak layak dicintai, kita dapat melatih otak untuk merespons rasa takut dengan cara yang lebih sehat dan tidak destruktif bagi hubungan.

Simak juga artikel lainnya seputar relationship di sini.

Baca juga artikel terkait RELATIONSHIP atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih