diajeng.id - Tidak semua orang punya kemampuan alamiah menyampaikan isi kepalanya dalam bentuk teks untuk berkomunikasi dengan teman atau pasangan.
Dahulu, memang, kita bisa tahu gaya macam-macam dalam penulisan teks, dari yang belepotan sampai yang rapi sekali. Kita pun paham itu semua dibuat apa adanya oleh teman atau pasangan yang mengirimkan teks maupun tulisan tersebut.
Dalam konteks tersebut, apapun gaya penulisannya, kita bisa memaklumi karena ada jejak khas, termasuk kesalahan, yang manusiawi di sana.
Meski tentu tidak ada yang salah dari keputusan memanfaatkan AI untuk mempermudah komunikasi, ternyata tulisan yang diproduksi AI menyimpan risiko negatif.
Penggunan AI yang berlebihan di dalam teks untuk berkomunikasi dapat memunculkan anggapan negatif dalam relasi interpersonal. Salah satunya terkait keaslian, ketulusan, atau autentitas. Dengan andil AI, landasan sebuah hubungan tersebut bisa jadi malah hilang sepenuhnya.
Kata Riset tentang Pesan Berbasis AI
Menurut kajian oleh tim psikolog di University of Kent yang dipublikasikan pada awal tahun ini, pemakaian AI untuk komunikasi personal dinilai sebagai orang yang kurang tulus, kurang autentik, kurang dapat dipercaya, dan lebih malas, meskipun hasil tulisannya berkualitas bagus.
Dalam enam studi yang total melibatkan hampir 4.000 responden di Inggris, tim peneliti berusaha memahami bagaimana pandangan orang terhadap mereka yang memanfaatkan AI dalam kesehariannya, baik itu untuk menyelesaikan tugas, merencanakan tur buat teman, atau untuk kepentingan personal seperti mengirimkan pesan cinta, menulis permintaan maaf, hingga perjanjian nikah.
Senada dengan itu, peneliti lainnya Dr. Jim Everett menjelaskan bahwa memakai AI untuk pesan-pesan yang bermakna secara emosional untuk memperkuat relasi sosial berisiko membuat kita dihakimi karena terkesan tidak peduli dengan esensi relasi yang dibangun.
Namun begitu, pemakaian AI untuk hal-hal praktis atau teknis tidak terlalu menuai komentar negatif, seperti membuat resep masakan atau menyusun agenda kegiatan acara.
Menurut studi Ohio State University pada 2023, ketika seseorang menerima pesan yang mereka ketahui dibantu oleh AI, mereka merasa kurang puas dan merasa lebih tidak pasti tentang posisi mereka dalam hubungan tersebut.
Seorang psikolog, Dr. Vanessa Urch Druskat menjelaskan bahwa manusia secara biologis dirancang untuk mendeteksi ketidakaslian.
Penggunaan AI memang bisa membuat pesan yang dikirimkan jadi lebih rapi dan terlihat bagus. Namun, sekali lagi, peneliti mengingatkan bahwa hal itu akan membuat kita jadi tidak bisa mengembangkan ekspresi diri dan kecerdasan emosional.
Kita juga bisa kehilangan "rasa berjuang" dalam menemukan kata-kata. Padahal, karya yang kita buat sendiri itulah yang sebenarnya mencerminkan perasaan dan ekspresi kita dalam menyampaikan makna cinta dan perhatian yang sesungguhnya.
Kisah Persahabatan Summer dan Natasha yang Retak Karena AI
Dampak nyata dari penggunaan AI yang berlebihan ini tercermin dalam kisah Summer dan Natasha yang dimuat dalam The Guardian tahun 2025 lalu.
Summer, seorang tutor universitas berusia 30 tahun, telah bersahabat dekat dengan Natasha selama enam tahun. Hubungan mereka selama ini diwarnai oleh pertukaran pesan teks yang panjang, dalam, dan penuh perdebatan intelektual.
Namun, segalanya berubah ketika Natasha mulai menggunakan ChatGPT untuk membantu tugas pekerjaannya. Praktik ini kemudian merambah ke pesan pribadinya.
Seiring itu, Summer merasa ada yang berubah dalam nada bicara sahabatnya. Setiap penuturan dari Natasha terdengar seperti mesin, bukan gaya spontan yang khas dimilikinya selama ini. Summer mengaku merasa dikhianati.
"Dia tidak dapat menemukan makna inheren dalam pertukaran pesan yang kami lakukan sebagai manusia,” kata Summer.
Bagi Summer, penggunaan AI dalam hubungan seolah-olah mengasumsikan adanya ketidakmampuan dalam relasi tersebut.
Jadikan AI Teman Diskusi, Bukan Pengambil Keputusan
Lantas, bagaimanan caranya agar AI tidak merusak komunikasi kita dengan orang lain? Apa artinya kita harus benar-benar lepas dari penggunaan AI? Tidak juga. Kuncinya adalah niat dan transparansi.
AI seharusnya tidak dijadikan pengambil keputusan atau disuruh "membuatkan" jawaban yang bisa di-copy paste apa adanya, melainkan sebagai teman diskusi untuk brainstorming sebelum kita melakukan percakapan yang sesungguhnya.
Salah satu contoh sukses penggunaan AI seperti kisah Sara dan Nate yang ditulis situs Connect Couples Therapy.
Saat sedang dalam kondisi bertengkar, Nate berdiskusi dengan ChatGPT.
Nate akan menyampaikan apa yang sedang dirasakannya, situasi yang terjadi dan pertengkaran mereka, kemudian bertanya pada si mesin, "Apa yang sebaiknya aku katakan dan lakukan dalam situasi seperti ini?"
Alih-alih menyalin jawaban AI, Nate menggunakannya untuk memahami bahwa reaksinya mungkin berasal dari rasa cemas, alih-alih karena kesalahan pasangannya.
Dalam kasus ini, ChatGPT membantu Nate untuk menenangkan diri. Nate dipandu untuk berpikir secara lebih rasional sebelum bicara langsung dengan Sara.
Berikut adalah beberapa contoh prompt atau pertanyaan yang bisa kamu pertimbangkan untuk ditanyakan ke AI dalam rangka mendukungmu menjalin relasi lebih baik:
- “Here’s what I want to say xxxxxx how could I say this in a more constructive way?” (Ini yang ingin kusampaikan xxxxx bagaimana caranya supaya aku bisa menyampaikannya secara lebih konstruktif?)
- “What might I be missing about my reaction?” (Apa yang luput dari reaksiku sendiri?)
- “How can I apologize without sounding defensive?” (Bagaimana caranya minta maaf tanpa terdengar defensif?)
- “What can I do if my partner isn’t ready to talk yet?” (Apa yang bisa kulakukan kalau pasanganku belum siap diajak bicara?)
Pada esensinya memang betul bahwa AI bisa membantu kita mempersiapkan diri, akan tetapi "momen kebenaran" dan penyampaian pesan tersebut tetap harus menjadi otoritas diri kita sepenuhnya. Bagaimana menurutmu?
Artikel lainnya seputar pertemanan dan relasi bisa dibaca di sini.
Editor: Sekar Kinasih