diajeng.id - Selama ini, kita sering mendengar anggapan dan komentar bahwa perempuan umumnya lebih banyak omong alias "cerewet" daripada laki-laki.
Mulai dari suami yang mengeluh dan memberi label “istri suka mengomel”, rekan kerja perempuan yang dianggap terlalu banyak bicara, sampai stereotip bahwa perempuan gemar berkomentar soal hal-hal sepele.
Namun, realitasnya, itu semua hanyalah anggapan yang dipengaruhi oleh kebiasaan sehari-hari dan budaya yang diwariskan turun-temurun, alih-alih bukti ilmiah empiris.
Lalu, bagaimana sebenarnya penjelasan dari sudut pandang sains? Apakah perempuan memang secara alami lebih banyak bicara, ataukah kita hanya terjebak pada prasangka lama?
Tim peneliti dalam studi lawas di jurnal Science pada 2007 pernah mencoba menjawab pertanyaan klasik tersebut: siapa yang sebenarnya lebih banyak bicara, laki-laki atau perempuan?
Riset 2007: Laki-laki dan Perempuan Sama Bicaranya
Tim peneliti menggunakan alat perekam elektronik yang merekam percakapan secara acak dalam kehidupan sehari-hari, lalu menghitung rata-rata jumlah kata yang diucapkan.
Hasilnya cukup mengejutkan, karena tidak ada perbedaan signifikan. Laki-laki dan perempuan, secara kuantitatif, sama-sama banyak bicara.
Namun, temuan ini tidak serta-merta menutup perdebatan.
Menurut Deborah Tannen, dosen linguistik dari Georgetown University dalam wawancara NPR, menghitung jumlah kata saja tidak cukup untuk memahami perbedaan cara berkomunikasi.
Tannen tidak terkejut dengan temuan tersebut. Selama ini, kata Tannen, banyak penelitian justru menunjukkan bahwa laki-laki cenderung lebih banyak bicara dalam konteks publik, seperti rapat, kelas, atau forum diskusi. Sementara itu, perempuan lebih sering berbicara dalam konteks personal dan relasional, terutama ketika merasa aman secara emosional.
"Perbedaan terbesar adalah ketika kamu melihat konteksnya, laki-laki cenderung lebih banyak berbicara dalam apa yang saya sebut, situasi berbicara di depan umum, misalnya, di rapat atau acara dialog. Saya yakin kamu akan menerima lebih banyak telepon dari laki-laki daripada perempuan, bahkan jika itu adalah topik yang sangat menarik bagi perempuan," jelas Tannen.
Tannen pun menyoroti bagaimana stereotip memengaruhi persepsi orang-orang. Dalam beberapa situasi, meskipun laki-laki mendominasi percakapan, mereka tetap merasa perempuan "terlalu banyak bicara”.
Dengan kata lain, perdebatan soal siapa yang lebih cerewet sebenarnya bukan soal jumlah kata, melainkan soal konteks, kebiasaan sosial, dan ekspektasi kultural.
Cara laki-laki dan perempuan berbicara berbeda bukan karena satu lebih banyak bicara dari yang lain, tetapi karena mereka diberi ruang dan penilaian yang berbeda sejak awal.
Ya, Semua Tergantung Konteks
Stereotip bahwa perempuan lebih banyak bicara kembali diuji lewat sebuah penelitian dari Harvard yang dipimpin oleh Jukka-Pekka “JP” Onnela, dosen biostatistik di Harvard School of Public Health dan David Lazer dari Northeastern University pada 2014.
Hasilnya, diterbitkan di Scientific Reports, menunjukkan satu hal penting, yakni bukan jenis kelamin yang paling menentukan, melainkan konteks dan pengaturan tempat atau setting.
Cara kita berbicara sangat dipengaruhi oleh situasi sosial tempat kita berada, dan dengan siapa kita berinteraksi.
“Mungkin mengejutkan bahwa konteks membuat perbedaan yang begitu besar,” kata Onnela, “Temuan ini menunjukkan pentingnya pengukuran objektif dalam studi perilaku sosial manusia.”
Dalam sebuah eksperimen kolaboratif, mahasiswa laki-laki dan perempuan dikumpulkan untuk mengerjakan tugas bersama.
Hasilnya, perempuan cenderung berbicara lebih banyak, terutama dalam percakapan lebih panjang dan intens. Ini kemungkinan terjadi karena upaya kolaboratif untuk segera menuntaskan tugas bersama.
Menariknya, pola ini berubah ketika kelompok menjadi semakin besar atau mencakup lebih dari lima orang: laki-laki justru mengambil lebih banyak ruang bicara.
Sementara itu, dalam situasi santai seperti jam istirahat makan siang, hampir tidak ada perbedaan berarti antara laki-laki dan perempuan. Dalam percakapan pendek maupun panjang yang topiknya santai, baik laki-laki dan perempuan berbicara dalam kuantitas yang sama.
Penelitian ini menegaskan pentingnya melihat perilaku komunikasi secara objektif. Alih-alih mengandalkan survei atau pengamatan sesaat, para peserta mengenakan perangkat digital yang merekam interaksi sehari-hari secara alami.
Temuan ini pun memberi gambaran bahwa label “lebih cerewet” acap kali lahir dari generalisasi yang terlalu sederhana.
Cara seseorang berbicara lebih banyak dipengaruhi oleh konteks sosial, dinamika kelompok, dan tahap kehidupan, daripada sekadar apakah ia laki-laki atau perempuan.
Penelitian terbaru dari University of Arizona di Journal of Personality and Social Psychology (2025) menunjukkan bahwa anggapan "perempuan cerewet" tidak berlaku seumur hidup.
"Ada asumsi lintas budaya yang kuat bahwa perempuan berbicara jauh lebih banyak daripada laki-laki," kata salah satu peneliti, Colin Tidwell, dikutip dari situs resmi universitas. "Kami ingin melihat apakah asumsi ini berlaku atau tidak ketika diuji secara empiris."
Hasilnya, secara umum, laki-laki dan perempuan berbicara dalam jumlah yang hampir sama, kecuali pada satu fase tertentu.
Perbedaan baru terlihat pada usia dewasa awal hingga pertengahan, sekitar 25-64 tahun, ketika perempuan rata-rata mengucapkan lebih banyak kata per hari dibanding laki-laki.
Di luar rentang usia tersebut, pada masa remaja, dewasa muda, dan usia lanjut tidak ditemukan perbedaan berarti antara laki-laki dan perempuan.
"Jika faktor biologis seperti hormon menjadi penyebab utama, perbedaan gender yang cukup besar seharusnya juga ada di antara orang dewasa muda," begitu komentas Matthias Mehl, pemimpin studi ini sekaligus studi sebelumnya pada 2007 lalu tentang kuantitas bicara laki-laki dan perempuan.
"Jika perubahan generasi dalam masyarakat menjadi pendorongnya, seharusnya ada peningkatan perbedaan gender secara bertahap pada peserta yang lebih tua. Namun, tidak satu pun dari hal tersebut terjadi," tambah Mehl.
Studi terbaru ini juga menegaskan bahwa perbedaan antarindividu jauh lebih besar daripada perbedaan gender, serta menunjukkan bahwa manusia modern, tanpa memandang jenis kelamin, cenderung semakin sedikit bicara seiring meningkatnya komunikasi digital.
Anggapan dan stereotip "perempuan cerewet" tidak muncul begitu saja, melainkan terbentuk dari sejarah panjang cara budaya memandang suara perempuan.
Alasan Muncul Asumsi & Stereotip Perempuan Banyak Bicara
Dalam laman Psychology Today disebutkan, sejak zaman Yunani dan Romawi kuno, pembicaraan perempuan kerap dilekatkan pada hal-hal sepele, tidak jujur, atau bahkan berbahaya, sedangkan pembicaraan laki-laki dianggap penting dan layak hadir di ruang publik.
Perempuan yang berbicara di luar ranah domestik sering dinilai melanggar batas, tidak bermoral, atau mengganggu tatanan sosial.
Pandangan ini terus diwariskan selama berabad-abad melalui teks religi, sastra, hukum, hingga budaya populer, dan berfungsi sebagai alat kontrol sosial.
Tak heran jika hingga hari ini, meski riset ilmiah berulang kali membantahnya, stereotip tentang perempuan yang terlalu banyak bicara tetap terasa “alami”.
Ia bukan soal fakta, melainkan warisan budaya bias gender yang terlalu lama kita terima tanpa dipertanyakan.
Editor: Sekar Kinasih