diajeng.id - * Artikel ini merupakan kerja sama Diajeng Tirto dengan komunitas Senja sebagai bagian dari Seri Edukasi Anak Senja
"Nyokap gue tuh kayaknya beda deh sekarang. Aktif sih, masih mau jalan pagi, tapi gampang banget capek. Baru sebentar udah ngeluh pegel."
Malam itu, tanpa direncanakan, obrolan di meja kopi bergeser dari soal kerjaan ke pembahasan tentang orang tua. Kalimat yang dilontarkan Rara di atas kemudian disahut oleh Ditto.
"Bokap gue juga," ujar Dito, "Abis medical check-up, diam-diam aja. Gue yakin ada yang diumpetin. Ditanya hasilnya, bilang biasa aja, tapi mukanya beda."
"Sama persis," sahut Nisa. "Ya nyokap gue selain emang lagi sering kambuh, episode kejangnya bikin stres. Terus kalau diingetin soal makan atau istirahat, malah sensitif. Kayak kita yang salah nanya."
Salah satu dari mereka mengangguk pelan, kemudian mengucapkan kalimat yang baik disadari maupun tidak, juga sering kita ucapkan ketika membahas tentang orang tua.
Meski terdengar penuh pengertian dan pemakluman, kalimat tersebut bisa jadi jebakan yang berisiko memperparah kondisi pada orang tua berusia lanjut.
"Ya Namanya Orang Tua": Jebakan Mindset
Lumrah bagi kita untuk memaklumi kondisi kesehatan orang tua yang semakin menurun. Pemakluman ini merupakan salah satu bentuk rasa sayang kita pada orang tua. Yang jadi masalah, konteks "memaklumi" bisa saja berubah jadi aksi "membiarkan."
Memang betul, ada perubahan alamiah yang terjadi pada tubuh di usia 45–50 tahun. Sains membuktikan bahwa di kisaran usia tersebut, homeostasis tubuh mulai bergeser secara signifikan.
Homeostasis adalah kemampuan otomatis tubuh untuk menjaga kestabilan internal, seperti suhu badan, kadar gula darah, tekanan darah, agar tetap dalam rentang normal meski kondisi luar berubah.
Memasuki usia 60 tahun, kemampuan ini semakin berkurang. Itulah mengapa lansia rentan terhadap perubahan cuaca, lebih sulit pulih dari infeksi, dan lebih mudah terguncang oleh stres fisik maupun emosional.
Para pakar di bidang healthy aging (penuaan sehat) telah mengidentifikasi 12 tanda penuaan yang terjadi di tingkat seluler.
Kedua belas tanda penuaan tersebut meliputi ketidakstabilan genom, pemendekan telomer, perubahan epigenetik, hilangnya proteostasis, gangguan makroautofagi, disregulasi pengindraan nutrisi, disfungsi mitokondria, penuaan seluler, kelelahan sel punca, perubahan komunikasi antarsel, peradangan kronis, dan disbiosis.
Jika gangguan terkait tanda-tanda tersebut dibiarkan, bukan tidak mungkin semua akan terakumulasi menjadi penyakit degeneratif.
Namun begitu, perubahan yang terjadi secara alamiah bukan berarti tidak bisa dikelola.
Kenapa Orang Tua Menyembunyikan Hasil Medical Check-Up?
Dito bukan satu-satunya anak yang merasa orang tua menyembunyikan sesuatu. Banyak Anak Senja menceritakan hal yang sama.
Sepulang dari kunjungan ke dokter, orang tua mereka tidak bercerita apa-apa. Jika pun bercerita, informasi yang disampaikan sepotong-sepotong.
Ada beberapa alasan yang melatari keputusan diamnya orang tua.
Pertama, tidak ingin merepotkan. Sebagian orang tua kita tumbuh dengan prinsip menolak menjadi beban anak. Menyembunyikan masalah kesehatan, bagi mereka, adalah bentuk kasih sayang pada anak, alih-alih menipu.
Kedua, takut kehilangan otonomi. Mereka khawatir kita akan panik, mengambil alih kontrol, atau membatasi kebebasan mereka. Tidak sedikit lansia yang merasa kehilangan kendali atas hidupnya sendiri ketika anak-anaknya mulai "terlalu mengurus."
Ketiga, denial atau penyangkalan. Secara psikologis, menerima bahwa tubuh berubah itu tidak mudah, terutama bagi mereka yang selama ini selalu sehat dan mandiri. Hasil lab yang bergeser dari normal bisa menjadi kenyataan yang belum siap mereka hadapi sendiri, apalagi bersama kita sebagai anak.
Sindrom Metabolisme: Sinyal yang Sudah Tercetak di Kertas
Kembali ke cerita Dito, hasil medical check-up orang tua perlu dilihat sebagai peta perjalanan kesehatannya.
Salah satu kondisi yang paling sering terlewat adalah sindrom metabolisme. Sindrom metabolisme bukan penyakit, tetapi alarm tubuh.
Kita bisa disebut mengalami sindrom metabolisme jika memiliki tiga atau lebih dari lima kondisi berikut:
- Lingkar perut melebihi setengah dari tinggi badan. Lingkar perut yang membesar adalah pertanda overeating, artinya asupan makanan lebih besar dari kebutuhan
- Trigliserida: ≥ 150 mg/dL. Trigliserida berlebih adalah tanda bahwa seseorang sering mengalami lonjakan kadar glukosa.
- Glukosa puasa: ≥ 100 mg/dL. Konversi glukosa menjadi trigliserida adalah tindakan pengamanan oleh liver, karena lonjakan glukosa bisa berbahaya.
- Kolesterol HDL rendah < 40 mg/dL untuk laki-laki dan < 50 mg/dL untuk perempuan. HDL yang rendah bisa berarti seseorang terlalu banyak duduk (sedentary lifestyle) atau kurang gerak.
- Tekanan darah: ≥ 130/85 mmHg. Tekanan darah yang beranjak naik adalah sinyal awal kerusakan pada lapisan dalam pembuluh darah. Semua gejala di atas bisa dinormalkan kembali melalui pola hidup yang baik.
Langkah konkret untuk merespons sindrom metabolisme tidak rumit.
Ajak orang tua untuk mempelajari hasil medical check-up bersama-sama. Kita tidak bermaksud untuk menghakimi, tetapi memahami bersama. Setelah itu, diskusikan, dan mulai lakukan perbaikan. Cukup satu langkah kecil pada satu waktu.
Percakapan Tidak Perlu Berakhir Jadi Pertengkaran
Kembali ke meja kopi, Nisa juga sempat bercerita bahwa ibunya jadi sensitif jika diingatkan soal makan. Keluhan Nisa tentang sikap orang tuanya adalah respons yang sangat manusiawi.
Ketika orang tua merasa diawasi atau dikontrol oleh anaknya sendiri, mereka kerap merespons secara defensif. Bukan artinya orang tua tidak peduli kesehatan sendiri, tetapi karena cara anak menyampaikannya terasa mengancam otonomi dan martabat mereka.
Coba pertimbangkan pendekatan lain, seperti rasa ingin tahu, alih-alih kekhawatiran.
"Pap, tadi hasil labnya gimana? Aku penasaran deh," berbeda jauh dengan, "Papa harus jaga kesehatan, kenapa hasilnya diumpetin?"
Kalimat pertama berpotensi membuka pintu percakapan, sedangkan kalimat kedua menutupnya.
Coba kita perlakukan diri sendiri sebagai pendamping yang menemani perjalanan orang tua, alih-alih pengawas mereka.
"Aku mau ikut nemenin periksa bulan depan, boleh nggak?" terdengar seperti bentuk keingintahuan.
Sementara kalimat berikut, "Aku mau memastikan semuanya beres," kesannya seperti audit.
Yang juga penting, akui bahwa perubahan fisik tidak mudah diterima oleh setiap manusia dari segala usia.
Orang tua terlihat "susah diatur" mungkin karena mereka sedang berjuang dengan realitas bahwa tubuhnya tidak lagi seperti dulu. Mereka belum menemukan cara yang nyaman untuk mengungkapkan kegundahannya.
Sebagai anak, kita perlu belajar untuk mendahulukan empati, baru solusi kemudian.
.
Perubahan hormon pada manusia terjadi di rentang usia 45-60 tahun. Pada perempuan, perubahan ini tecermin dari menopause, sementara pada laki-laki melalui penurunan testosteron secara bertahap.
Perubahan hormonal terbukti berkontribusi pada perubahan suasana hati, termasuk iritabilitas dan kelelahan yang sering kita salah pahami sebagai perubahan kepribadian.
Merawat Orang Tua: Jauh Sebelum Krisis Tiba
Sindrom metabolisme adalah peringatan agar pola hidup segera diubah.
Terdapat lima pilar yang perlu dipelajari dan dijalani baik oleh orang tua dan anak, yaitu pola makan, pola olahraga, pola tidur, pola pikiran, dan pola pergaulan sosial.
Dari kelima pilar tersebut, ada satu elemen mendasar yang tidak bisa diakali atau dimanipulasi, yaitu niat. Niat harus lahir dari dalam diri, alih-alih baru muncul ketika sudah sakit. Pastikan bahwa keinginan untuk tetap sehat tersebut hadir jauh sebelum krisis tiba.
Merawat orang tua kerap diasosiasikan dengan aktivitas membantu orang tua yang telah jatuh sakit. Di satu sisi, kerja-kerja perawatan orang tua juga melibatkan proses belajar membaca sinyal tubuh mereka dan bertindak sebelum sinyal tersebut berubah menjadi krisis.
Rasa kehilangan ini, jika tidak dikelola, dapat memicu kecemasan dan penarikan diri dari lingkungan yang berisiko memperburuk kondisi fisik.
Cara kita berkomunikasi dengan orang tua pun menjadi sangat menentukan. Alih-alih terlalu sering “mengingatkan” orang tua, utamakan kehadiran yang konsisten.
Dengan begitu, orang tua cenderung didengar, alih-alih merasa diatur-atur, sehingga mereka berpotensi menjadi semakin terbuka untuk berubah ke arah lebih baik.
Lalu, langkah apa saja yang bisa kita mulai segera?
Tanyakan hasil medical check-up orang tua. Alih-alih menggunakan nada bicara yang khawatir, landasi dengan rasa ingin tahu yang tulus. Perhatikan angka-angka yang mengiringi informasi terkait lima aspek berikut: trigliserida, glukosa, HDL, tekanan darah, dan lingkar perut. Pahami artinya bersama-sama.
Kemudian, jadwalkan agenda makan bersama. Selain fokus pada nutrisi makanan, momen makan bersama juga penting untuk membangun koneksi. Sembari makan, tanyakan ke orang tua, "Apa yang paling bikin capek belakangan ini?" Dengarkan jawabannya tanpa langsung memberi solusi.
Bantu orang tua terhubung dengan komunitas sebaya. Sebab, orang tua yang punya teman aktif jauh lebih bersemangat menjaga kesehatannya.
***
Tentang Penulis
Nur Pamudji. Praktisi hidup sehat berbasis functional medicine, Senja Ambassador, dan penulis ilmiah populer seri edukasi kesehatan preventif dan kuratif lewat perubahan pola hidup.Ai Sasmita. Co-Founder Senja, platform yang membantu family caregiver Indonesia, anak yang sedang merawat orang tuanya dengan Hadir, Ilmu dan Cinta, sehingga mendorong orang tua lanjut usia mereka untuk hidup sehat, mandiri, berdaya, dan menua dengan kualitas hidup yang baik.
Tentang Komunitas Senja
Senja adalah platform perawatan keluarga berbasis ilmu yang menghimpun ahli gerontologi, akademisi, dan praktisi berpengalaman untuk mendukung Anak Senja dalam merawat orang tua secara preventif, sebelum semuanya terlambat.Anak Senja, sebutan untuk family caregiver yang aktif di komunitas Senja, berperan besar dalam menangkap perubahan-perubahan kecil pada orang tua, mendorong mereka untuk terus bergerak dan terhubung, serta memastikan perawatan dapat dipenuhi sebelum terjadi penurunan kondisi kesehatan.
Terdapat lima prinsip yang dipegang setiap Anak Senja dalam mendampingi orang tua:
1. Amati lebih teliti. Langkah yang mulai goyah, berat badan turun, antusiasme menghilang. Perubahan konsisten selama 2-3 minggu perlu ditindaklanjuti.
2. Jadwalkan evaluasi geriatri komprehensif. Selain cek tensi dan gula darah, pastikan juga mobilitas, kognitif, nutrisi, dan kondisi emosional. Lakukan minimal sekali setahun.
3. Dorong olahraga yang ada temannya. Program seperti SenjaFIT yang dikerjakan dalam kelompok jauh lebih efektif dan memotivasi dibanding olahraga sendirian di rumah.
4. Bantu mereka punya komunitas. Berbasis minat, agama, atau lokasi. Komunitas aktif adalah pencegahan terbaik untuk isolasi sosial dan depresi.
5. Perhatikan nutrisi, bukan hanya porsi. Pastikan asupan protein 1-1,2 gram/kg berat badan per hari, makanan beragam, dan makan dalam suasana yang menyenangkan. Aktivitas makan idealnya dilakukan bersama orang lain.
Di tengah kesibukan merawat orang tua, Anak Senja juga perlu merawat diri sendiri. Caregiver burnout adalah kondisi nyata yang berdampak langsung pada kualitas perawatan yang diterima orang tua. Kita bisa merawat dengan penuh hanya jika kita sendiri juga dirawat dengan cukup.
Penulis: Nur Pamudji & Ai Sasmita
Editor: Sekar Kinasih