diajeng.id - “Life is art. Art is life. I never separate it.”
Demikian diyakini seniman kontemporer Ai Wei Wei.
Meski begitu, setiap kali bicara karya seni, tak sedikit awam yang spontan mengasosiasikannya dengan segala wujud rupa serius yang memerlukan konsentrasi tinggi untuk betul-betul dapat memahaminya.
Tak ayal, seni acap kali dipandang sebagai ranah “dewasa” dan terlalu “berjarak” dari realitas sehari-hari, sehingga pada beberapa situasi ia jadi terkesan kurang merangkul audiens muda.
Membumikan seni agar lebih ramah anak itulah yang belakangan ini diupayakan oleh tim kreatif NuArt Sculpture Park di Bandung.
Selama 45 hari sampai 3 Agustus nanti, museum koleksi mahakarya maestro patung Nyoman Nuarta ini menyelenggarakan program besar bertajuk Family Art Month (FAM) dengan tema “Dreams & Stories”.
Ketika Logam Bertemu Warna
Digagas sejak 2024, FAM tahun ini menampilkan instalasi spesial dari dua seniman tamu, perupa multidisiplin Erwin Windu Pranata dan pegiat seni media baru Jeffi Manzani.
Unsur imajinatif dan humor dari kain-kain inflatable karya tiga dimensi warna-warni Erwin, dimeriahkan dengan eksperimen digital gamifikasi dinamis Jeffi, kian menyemarakkan kawasan museum seluas ±3,5 hektar yang selama ini menjadi rumah bagi ratusan patung tembaga dan kuningan ikonik karya Nyoman.
Elemen kontras tapi saling melengkapi ini salah satunya terlihat pada “Ketok Mejik” yang merupakan karya komisi untuk Art Jakarta 2024, hasil kolaborasi antara seniman Erwin dan brand otomotif Mini Cooper.
Karya ini secara khusus dihadirkan untuk merespons karya "Tinggal Landas" (2001) milik Nyoman.
Erwin menciptakan sebuah instalasi berbahan kain inflatable berwarna oranye cerah. Bentuk yang dihadirkan tersebut menyerupai ledakan atau semburan energi—interpretasi visual dari dorongan dahsyat yang terjadi ketika sebuah pesawat lepas landas.
Demikian terang Dila Fatmala, manajer marketing dan program FAM.

Meicy Sitorus selaku project officer FAM menimpali, “Kami berusaha merancang program seni yang inklusif. Seniman didorong untuk menciptakan karya yang bisa dimengerti semua orang,bisa dinikmati secara serius maupun santai.”
“Secara umum, seni itu menenangkan, tentang permainan, kreativitas, kebebasan, tapi kadang kita lupa elemen ‘bermain’. Semangat itulah yang ingin kami tegaskan di FAM,” tambahnya lagi.

Ruang Ekspresi Seni Anak dan Keluarga
Dalam rangkaian tur museum yang diikuti orang tua dan anak-anak, pengunjung cilik didorong berinteraksi dengan seni melalui instalasi dinding kawat yang memungkinkan mereka menempel mainan-mainan kecil yang sudah disiapkan di lokasi.
Selain itu, di akhir tur, instalasi kolaborasi Erwin dan Jeffi mengajak anak-anak untuk lebih dekat dengan ekspresi seni.
Di arena tersebut, mereka dibebaskan untuk menyentuh balon tiup, memencet tombol lampu dan suara, sampai mencorat-coret lantai.

FAM tahun ini bekerja sama dengan lebih dari 40 kolaborator dan partner untuk menawarkan pengalaman rekreatif dan edukatif bagi pengunjung anak dan dewasa.
Sebut di antaranya tur museum bersama grup pendongeng Bengkimut dan semAta Art School, kelas model, pemutaran film, dan kegiatan kreatif lainnya yang melibatkan partner seperti grup penerbit Mizan serta berbagai seniman dan komunitas dari Taos, REcycle EXPerience (REEXP), sampai Parkour Bandung.
Satu hari penuh pada 22 Juni lalu didedikasikan untuk Family Days Out.

Di tengah kemeriahan pop up market, pengunjung dapat mengikuti ragam lokakarya dari mengolah cokelat atau onigiri bento, aktivitas kreatif seperti melukis, meronce manik-manik, menyusun terarium, hingga menikmati pementasan Fête de la Musique dari IFI (Institut Français d'Indonésie).
Kemudian, pada 5 Juli, sederet pertunjukan menghibur untuk anak-anak dibawakan oleh Borneo Art Play, Kentjan Ketjil, Waktunya Main, dan Ulang Alik.

Pementasan mereka merupakan bagian dari rangkaian "Road to Gulali Festival", program yang dibidani oleh Ria Papermoon dan Ayo Dongeng Indonesia, partner FAM sejak 2024.
Pada 3 Agustus nanti, FAM akan ditutup dengan special show dari grup musik Banda Neira.
Penampilan duo musisi ini, menurut tim kreatif FAM, diyakini dapat menggaungkan semangat FAM yang sarat kehangatan dan keakraban di tengah rimbun teduh kompleks museum.

Dari Keluarga untuk Keluarga
"Mayoritas tim kreatif di balik FAM adalah perempuan," ujar Dila.
“Perempuan punya sensibility, tingkat kepekaan, lebih tinggi. Pertimbangan yang diambil tidak hanya teknis, tapi ada intuisi—tanggap membaca situasi. Kami buka ruang di museum untuk kids lounge karena kami paham ibu dan orang tua memerlukan ruang jeda,” jelasnya lagi.

Meicy menimpali, “Meski cukup menantang, kami merasa puas dengan proses kerja FAM selama 1,5 bulan ini.”
Semangat kekeluargaan ini mustahil dipisahkan dari visi Anya Madiadipoera, CEO NuArt yang juga putri pertama Nyoman.
Menurut Dila dan Meicy, arahan dari Anya tentang fokus pada keluarga dan spirit inklusivitas menjadi penting dan relevan untuk mengimbangi elemen realis dari kekaryaan sang ayahanda selama ini.
Seiring waktu, tidak bisa dimungkiri pula semakin banyak art space atau ruang seni yang membuka gerbangnya untuk ekspresi kreatif anak.
Sejak 2019, ARTJOG mulai menyediakan area pameran khusus bagi karya seniman cilik.
Tahun ini, setelah dua tahun program pemanasan, untuk pertama kalinya biennale seni lintas disiplin khusus anak dan remaja, Kids Biennale Indonesia, diselenggarakan.

Pameran oleh perupa asal Australia, Patricia Piccinini yang berlangsung tahun lalu di Museum MACAN, Jakarta menjadi salah satu inspirasi Dila.
“Kontennya serius, tapi dikemas sedemikian rupa sehingga anak-anak bisa menikmati. Ada pengalaman sensorik, spot anak, ruang berkarya bersama.”
Meicy menambahkan, museum nasional di negara tetangga, seperti Singapura atau Australia, juga menginspirasi karena konsistensi pengelolanya untuk menyematkan program atau spot khusus bagi pengunjung cilik dan keluarga.

FAM perdana pada 2024 silam dimeriahkan dengan kehadiran 8.000 pengunjung.
Tahun ini, dan ke depannya, Dila dan Meicy berharap FAM dapat menjangkau lebih banyak audiens dengan jejaring kolaborator serta komunitas lebih luas.
“Kami ingin lebih banyak seniman muda terlibat di FAM, dengan menyelenggarakan lokakarya dan mengeksplorasi praktik seni mereka di lingkungan NuArt yang kolaboratif,” ujar Dila.
“Kami juga berharap FAM semakin diakui sebagai ruang seni inklusif yang berkelanjutan,” pungkas Meicy.
Family Art Month (FAM) di NuArt Park, Bandung akan berakhir seminggu lagi, persisnya 3 Agustus 2025. Agenda kegiatan dan akses tiket dapat dicek berkala di akun Instagram resmi @nuartpark.
Editor: Dhita Koesno