diajeng.id - “Membaca fiksi melatih kita untuk berempati terhadap penderitaan orang lain.”
Demikian tutur mantap Sasti Gotama.
Satu kata tidak akan pernah cukup untuk merangkum kecemerlangan sosok Sasti.
Sasti adalah seorang ibu. Ia pernah mengabdikan diri sebagai dokter di daerah pinggiran kota.
Sejak 2019, ia aktif menulis cerpen di berbagai platform media, beberapa di antaranya berhasil memenangkan sayembara dan penghargaan. Seiring itu, ia juga menerjemahkan buku-buku dari filsuf dan pemikir berpengaruh.
Tak puas menulis cerpen dan naskah panjang, ia menyelami ranah penulisan skenario teater dan cerita anak-anak.
Sasti juga periset sejarah andal—terbukti dari tulisan-tulisannya yang mampu menangkap lanskap historis dengan detail dan mendalam.
Di sesi wawancara daring dengan Diajeng Tirto yang berlangsung Senin (4/8), Sasti tegaskan bagaimana paparan terhadap karya-karya fiksi membantunya untuk menjadi penulis yang tanggap, peka, dan senantiasa melek terhadap isu-isu sosial.
“Maka kita dapat memahami bahwa di balik setiap tindakan, ada alasan-alasan yang mendasarinya. Kebanyakan orang punya pedoman kaku hitam versus putih, padahal manusia pada dasarnya abu-abu. Ada rasionalisasi-rasionalisasi di situ,” lanjutnya lagi.
Akhir Juni silam, Sasti meraih penghargaan sastra bergengsi Kusala Sastra Khatulistiwa 2025 untuk kumpulan cerpen bertajuk Akhir sang Gajah di Bukit Kupu-Kupu (2024), diterbitkan oleh Mizan.
Akhir sang Gajah di Bukit Kupu-Kupu
Buku ini menjadi corong suara Sasti untuk menggaungkan pengalaman barisan liyan, orang-orang yang terbungkam dan terpinggirkan, terutama perempuan.
“Memang betul, kebanyakan tokoh liyan dalam cerita saya adalah perempuan. Kalau kita pinjam istilahnya Simone de Beauvoir—perempuan sebagai second sex (jenis kelamin kedua)—merekalah pihak yang cenderung kalah dan dihadapkan pada lebih banyak tantangan untuk mendapatkan haknya—hak terhadap pilihan, impian, keadilan.”
Dari dua puluh “anak-anak ideologis” yang lahir dalam antologi ini, kata Sasti, tiga di antaranya dapat ditarik untuk mewakili benang merahnya.
Pertama, domestifikasi perempuan dalam Sima. Cerpen dengan latar era kolonial ini menggunakan alegori kisah seekor harimau—Sasti kerap menyematkan binatang dalam cerita-ceritanya sebagai metafora konsep.
Apa jadinya jika makhluk yang secara alamiah bergerak bebas di alam liar kehilangan kesangarannya?
“Saya kira, ini berkaitan dengan pengalaman beberapa perempuan yang kemandiriannya didomestikasi. Ketika akhirnya mereka harus keluar dari lingkaran yang beracun—misalnya keluarga yang toxic—mereka tidak punya kekuatan, tidak punya keharimauannya lagi. Ada hal-hal dari proses domestikasi itu yang membuat mereka takut menghadapi dunia luar.”
Tahun lalu, Sasti mengembangkan Sima menjadi naskah skenario teater bertajuk Sima van Kediri yang berhasil meraih Juara 2 Sayembara Naskah Teater Dewan Kesenian Jakarta.
Cerpen kedua, Saksi Glori, Sasti tulis untuk mengkritik perampasan hak ketubuhan perempuan.
Ketika mulut perempuan sudah tidak bisa bersaksi atas penyelewengan dan penindasan terhadap raganya, masih ada organ-organ tubuh yang berupaya keras untuk mengingatkan dunia tentang luka-luka tersebut.
Ketiga, pengorbanan perempuan dalam Di Bukit, Kupu-Kupu Kuning Terbang. Di sini, Sasti menggulirkan pergulatan perempuan dalam merepresi cita-citanya demi stabilitas keluarga dan struktur tatanan masyarakat yang ideal.
Masih berkaitan dengan tema utama buku antologi ini adalah isu mental workload ibu dalam Sesam! dan Mungkin yang Ia Simpan Adalah Petasan, serta hak reproduksi dalam semesta distopia Serbuk Ragi.
Senandung untuk Simone de Beauvoir
Pemikiran Simone de Beauvoir—yang bukunya, Etika Ambiguitas (1947), sudah pernah Sasti terjemahkan pada 2021—sangat berpengaruh terhadap kekaryaan Sasti selama ini.
“Banyak tulisan saya yang nyawanya datang dari pemikiran Beauvoir. Beberapa juga saya dedikasikan untuk dia. Antologi cerpen sebelum ini, B: Kumpulan Cerita (2022), mengacu pada Beauvoir, begitu juga tokoh inisial B di novel Ingatan Ikan-Ikan (2024) yang dikisahkan begitu memujanya.”
Lebih lanjut, Sasti mengungkap inspirasi cerpen Lingkaran yang ditulisnya untuk antologi Akhir sang Gajah di Bukit Kupu-Kupu.
Kisah tentang trauma perempuan sebagai warga kelas dua yang berulang di setiap zaman itu berangkat dari pembacaan Sasti terhadap buku Sapi, Babi, Perang dan Tukang Sihir: Menjawab Teka-teki Kebudayaan (1974) oleh antropolog Marvin Haris, naskah kuno lontar Sritanjung tentang asal-asul Banyuwangi, dan Surat-Surat untuk Sartre (1990) yang ditulis oleh Beauvoir.
Sasti meneruskan, “Menurut Beauvoir, perempuan perlu menjadikan dirinya eksis, ada. Melampaui dirinya sendiri. Itulah yang saya pegang untuk beberapa tulisan saya.”
Selain itu, Sasti cukup serius dalam menyelami aspek-aspek psikologis manusia, seperti mekanisme pertahanan ego Sigmund Freud dan teori psikoanalisis Carl Gustav Jung, untuk mempertajam analisis kreatifnya.
Beberapa karyanya ada pula yang dikombinasikan dengan prinsip-prinsip stoa, terutama dari Epictetus, seorang budak yang termasuk dalam kelompok subaltern dan tentu saja seorang liyan.
Sasti menyebut Dea Anugerah, Yetti A.KA, Avianti Armand, dan Royyan Julian sebagai figur-figur penting yang senantiasa menginspirasinya untuk berkarya.
Ia juga penikmat setia karya sastra kontemporer Asia Timur, di antaranya dari Haruki Murakami, Sayaka Murata, Kanae Minato, Han Kang.
Profesi Dokter dan Latar Keilmuan Medis
Di samping apresiasinya yang tinggi terhadap kemerdekaan semesta fiksi, Sasti konsisten mengimbangi konsumsi bacaan dengan wacana-wacana nonfiksi, terutama terkait kinerja otak atau neurosains.
“Setiap pagi saya selalu membaca materi-materi neurosains, meski beberapa lembar saja. Bacaan nonfiksi tersebut berkontribusi memperkaya tulisan saya.”
Terlebih dari itu, beberapa penceritaan dalam naskah Sasti mustahil dipisahkan dari pendekatan medis. Profesi Sasti sebagai dokter nyatanya telah memengaruhi perspektifnya dalam berkarya sekaligus merespons isu-isu gender.
“Teman-teman bilang, riwayat kuliah kedokteran dan pengalaman praktik saya sebagai dokter adalah masa riset paling panjang untuk tulisan-tulisan saya,” ujar Sasti sambil tertawa.
Cerpen Saksi Glori mengambil sudut pandang organ-organ tubuh, salah satunya medula oblongata.
Isi ceritanya sejalan dengan ilmu medis yang Sasti selami, bahwa ketika terjadi kerusakan pada otak besar, bisa jadi batang otaknya—yang salah satu bagiannya bernama medula oblongata—masih dapat berfungsi yang ditandai dengan adanya detak jantung.
Menariknya, alih-alih paparan sumber wacana terkait anatomi tubuh, familiaritas dengan isu ketubuhan justru lebih banyak Sasti pupuk dari perjumpaannya dengan para pasien perempuan di klinik-klinik pinggiran kota dan area pasar nelayan saat ia dulu menjalankan praktik di Cilacap dan Pasuruan.
“Misalnya, keputusan melakukan prosedur operasi sesar harus izin suami. Padahal, yang mengandung adalah tubuh perempuan sendiri. Terutama pada kondisi darurat, kenapa harus tunggu suami datang? Kalau sudah telat, bagaimana?” Sasti bertanya-tanya.
Ini berlaku juga pada prosedur sterilisasi seperti pengangkatan rahim dan keputusan ikut atau menolak KB, kata Sasti, terkadang perempuan tidak punya suara.
Sasti teringat perjumpaannya dengan pasien perempuan yang memiliki 11 anak. Ia dilarang oleh suaminya melahirkan di klinik atau puskesmas—hanya boleh di rumah. Anak-anak mereka alami gizi buruk.
Kasus pernikahan dini karena anak perempuan dianggap beban keluarga juga jamak Sasti jumpai.
“Setelah lulus SD, anak perempuan ini dinikahkan. Alasannya agar dia tidak menghabiskan beras di rumah orang tuanya—minta ke mertuanya saja. Miris. Kita lihat betapa kemiskinan struktural merenggut hak dan impian perempuan,” cerita Sasti.
Pada waktu lain, Sasti dikejutkan dengan penemuan mayat bayi laki-laki yang sudah membusuk di tepi sungai dekat klinik. Jabang bayi tersebut disinyalir berasal dari kehamilan tak diinginkan.
Kejadian itu melatari keputusannya untuk menyusun cerpen Hikayat Mata Nur (2020). Ini kisah tentang seorang anak lulus SD yang terpaksa dinikahkan sampai stres dan mengalami gangguan psikosis sehingga membunuh bayinya.
“Begitu banyak hal di luar kuasa perempuan yang membuat mereka jadi sosok yang tidak mereka inginkan,” tutur Sasti.
Konsisten Berkarya, Terus Bereksplorasi
Meskipun Akhir sang Gajah di Bukit Kupu-Kupu cukup banyak mengulik isu perempuan, Sasti lebih senang menyebut kumpulan cerpen ini sebagai “karya humanisme” yang merekam ragam perjuangan dalam berproses menjadi manusia.
Di dalamnya dapat ditemukan isu-isu lain yang menguji kepekaan kita, dari kritik terhadap ketimpangan sistem peradilan, kerapuhan manusia tatkala dihempas kedahsyatan pandemi COVID-19, trauma kehilangan dari peristiwa ‘65 dan ’98, sampai kisah orang-orang “terbuang” dengan isu kesehatan mental atau yang kehadirannya tak didambakan di dunia.
Berbeda dari publikasi sebelum-sebelumnya, di antologi cerpen kali ini Sasti merasa jauh lebih berani mengeksplorasi bentuk penceritaan dan gagasan, menggunakan lebih banyak suara dan teknik bertutur.
Sasti pun mengakui bahwa cerpen merupakan bentuk karya sastra paling asyik untuk dipahat, “Karena cerpen memungkinkan saya bermain dengan ragam bentuk, perpindahan POV yang dinamis, dan ledakan-ledakan twist yang lebih besar dan cepat.”
Meski begitu, Sasti menolak untuk membatasi dirinya di zona nyaman cerpen.
Seminggu yang lalu, Sasti resmi “melahirkan” anak terbarunya, Korpus Uterus. Novel ini dikembangkan dari tulisan panjang Rahim yang pernah menjadi Naskah Menarik Minat Dewan Juri Sayembara Novel DKJ 2023.
Sasti juga menyampaikan keseriusannya dalam menekuni penulisan esai-esai terkait neurosains.
Suatu hari nanti, bukan tidak mungkin akan kita dapati karya-karya Sasti yang dialihwahanakan ke panggung teater atau layar bioskop. Kelak kesempatan itu tiba, Sasti mengutarakan keinginannya untuk dilibatkan menjadi scriptwriter dan menentukan pemeran tokoh.
Dari pembacaan terhadap perjalanan kreatifnya hingga perjumpaan singkat yang bermakna di atas, siapa pun pasti akan setuju betapa teguh Sasti Gotama melangkah—menyulam ilmu-ilmu baru, menajamkan pemikirannya, dan menggaungkan suara yang kerap tak terdengar dari mereka di barisan belakang.
Editor: Dhita Koesno