diajeng.id - Anak yang aktif bermain terkadang lupa minum, terutama saat asyik beraktivitas. Padahal, kebutuhan cairan tubuh perlu tetap terpenuhi agar fungsi organ berjalan dengan baik.
Jika cairan yang keluar lebih banyak daripada yang masuk, anak berisiko mengalami dehidrasi. Kondisi ini tidak boleh dianggap sepele karena dapat mengganggu kesehatan, bahkan berbahaya jika tidak segera ditangani.
Lantas, apa saja ciri-ciri anak dehidrasi yang perlu diwaspadai orang tua? Diajeng akan mengulasnya di bawah ini.
Apa Itu Dehidrasi pada Anak?
Anak-anak, terutama bayi dan balita, lebih rentan mengalami kondisi ini karena tubuh mereka lebih cepat kehilangan cairan dan belum mampu mengungkapkan rasa haus dengan baik.
Dilansir Cleveland Clinic, dehidrasi dapat terjadi ketika anak kehilangan cairan akibat sakit atau tidak mendapatkan asupan minum yang cukup. Tingkat keparahannya bervariasi, mulai dari ringan hingga berat.
Penyebab Dehidrasi pada Anak
Ada beberapa kondisi yang dapat meningkatkan risiko dehidrasi pada anak. Yang pertama, anak mengalami diare dan muntah, di mana cairan tubuhnya keluar lebih banyak sehingga keseimbangannya terganggu.
Anak juga demam, suhu tubuh yang meningkat dapat membuat anak kehilangan lebih banyak cairan.
Cuaca panas, juga merupakan penyebab lain membuat anak dehidarasi. Aktivitas di lingkungan panas, secara otomatus mengakibatkan tubuh mengeluarkan lebih banyak keringat.
Selain itu, melakukan aktivitas berlebihan, seperti bermain dan berolahraga. Jika tidak cukup minum, maka dapat meningkatkan kehilangan cairan.
Ciri-Ciri Anak Mengalami Dehidrasi
Mengenali tanda dehidrasi pada anak sejak dini dapat membantu orang tua memberikan penanganan yang tepat.
Mengutip situs NHS dan HealthyChildren.org, beberapa gejala yang perlu diperhatikan antara lain mulut dan bibir yang kering. Anak terlihat kehausan dengan kondisi lidah dan mulut yang kering.
Anak juga jarang buang air kecil. Popoknya jarang basah atau urine berwarna lebih gelap dari biasanya.
Tanda berikutnya, tidak mengeluarkan air mata. Anak menangis, tetapi air matanya hanya sedikit atau bahkan tidak ada dan mata yang tampak cekung. Pada bayi, bagian ubun-ubun juga bisa terlihat lebih cekung.
Jika anak tampak sangat lemas, sulit dibangunkan, bernapas cepat, atau memiliki tangan dan kaki dingin, segera bawa ke IGD. Kondisi tersebut dapat menandakan dehidrasi berat.
Cara Mengatasi Anak Dehidrasi
Penanganan dehidrasi bergantung pada tingkat keparahannya. Untuk membantu mengatasi dehidrasi ringan, orang tua dapat melakukan beberapa langkah di bawah ini.
Berikan cairan secara bertahap. Tawarkan air minum sedikit demi sedikit tetapi lebih sering.
Berikan oralit. Larutan oralit membantu menggantikan cairan dan elektrolit yang hilang, terutama akibat diare atau muntah. Ikuti petunjuk takaran pada kemasan.
Tetap berikan ASI. Jika masih menyusu, lanjutkan pemberian ASI sesering mungkin.
Jangan lupa pula untuk selalu memantau kondisi anak. Perhatikan frekuensi buang air kecil, aktivitas, dan kemampuan anak minum.
Ciri-ciri anak dehidrasi yang perlu diwaspadai meliputi mulut kering, jarang buang air kecil, tidak mengeluarkan air mata, hingga tubuh lemas.
Orang tua perlu memastikan kebutuhan cairan anak terpenuhi, terutama saat sakit atau beraktivitas di cuaca panas. Dengan mengenali gejalanya sejak dini, risiko komplikasi akibat dehidrasi dapat diminimalkan.
Artikel lainnya seputar kesehatan anak juga bisa dibaca di sini.
Editor: Dhita Koesno & Sekar Kinasih