diajeng.id - Ibu sejatinya adalah tempat bersandar paling aman bagi seorang anak, sosok yang bisa merasakan kebahagiaan dalam merayakan setiap pencapaian dan kebahagiaan buah hatinya.
Namun, bagaimana jika rumah yang seharusnya menjadi tempat aman malah berubah menjadi panggung persaingan dingin antara ibu dan anaknya?
Rasa iri dan persaingan terselubung ibu terhadap darah dagingnya sendiri ini acap kali terkunci rapat di balik pintu rumah karena norma sosial yang menuntut peran ibu harus selalu sempurna.
Di media sosial, sebuah utas Threads mengulas tentang ibu yang iri pada anak perempuannya karena sang anak lebih sering bepergian ke luar negeri dibanding dirinya waktu seusia putrinya.
"Kok anis bisa tega yah,"
"Tega?"
"Yaitu, sering jalan jalan ke luar negeri ga ngajak ngajak. Bunda aja diajak ke korea nolak, karena pinginnya sama keluarga. Ngajak kalian."
"Ya beda dong bun pikirannya. Bunda kan emak emak, anis masih single."
"Ya tapi sering banget dia ke korea. Ini udah ketiga kali. Kemaren ke bangkok."
Gue diam sejenak, "ya biarin sih bun. Duit duit dia. Dia yg kerja masa dia nikmatin aja mesti ngajak orang," tulis @rizqyfebrina di akunnya mengulang percakapan antara ibu dan adiknya.
Pemilik utas pun melanjutkan dengan mengingat bagaimana belasan tahun lalu sang ibu sangat membencinya ketika mengetahui dirinya punya uang dan mentraktir adik-adiknya, serta saat dia membeli barang mewah.
Menurutnya, bukan cuma satu-dua orang menyebutkan bahwa ibunya iri dengan pencapaiannya, termasuk saudaranya yang seorang psikolog.
"Di luar dugaan, bude psikolog menjawab serius, "Namanya orang sirik dan iri mah ga liat status. Dan banyak Riz, yang bisa diiriin dari kamu. Otak punya, temen punya, ditambah kerja sebelum lulus. Hubungan sama adek oke. Bisa beli barang yang kamu mau. Dan enggak bergantung sama mama. Tapi kamu harus inget, sejelek jeleknya, itu tetep mama kamu." Ternyata, bunda gue itu emang ngiri dalam diam. Dia enggak sempet punya waktu kerja buat dirinya, jadi ngiri saat anak anaknya begitu," tulisnya lagi.
Kecemburuan Ibu: Bukan Realitas yang Langka?
Artikel "The Toxic Relationships of Jealous Mothers and Their Daughters" di Psychology Today menyebutkan, kecemburuan ibu terhadap anak memang hal yang sensitif dan tidak jarang terjadi.
Bahkan, anak yang memiliki hubungan relatif dekat dengan ibunya, meski bukan kecemburuan dalam arti harfiah, juga kerap diwarnai dengan persaingan saat berinteraksi.
Isu sensitif seperti ini sering merayap dalam diam karena tingginya ekspektasi sosial terhadap peran pengasuhan.
Diajeng Tirto berbincang dengan psikolog sekaligus Dosen Fakultas Psikologi Universitas Muria Kudus, Ika Hana Pertiwi, untuk memahami kompleksitas emosi tersebut secara bijak dan komprehensif.
Melalui sudut pandang psikologis, perempuan yang kerap dipanggil Hana ini mengajak kita untuk terlebih dahulu menyelami akar dinamika hubungan tersebut sekaligus menemukan pijakan yang sehat bagi pemulihan emosional anak.
"Kita perlu melihat dulu makna relasi ibu-anak dalam konstruksi sosial. Di sini, konsep yang mungkin menarik adalah soal "generativity" atau orientasi untuk merawat, membimbing, dan mewariskan nilai-nilai ibu kepada anak. Ada harapan bahwa anak (dalam hal ini anak perempuan) akan meneruskan kehidupan sekaligus punya kehidupan yang lebih baik daripada ibunya," ujar Hana.
Hana mengatakan, munculnya rasa iri seorang ibu, bukanlah tanda kegagalan generativity ini. Namun, berkaitan dengan identitas keibuannya.
Contohnya, sejak anak masih kecil, ibu membantu dan mendukung perkembangan anaknya. Misalnya ketika anak harus berangkat pagi ke sekolah, ada peran ibu yang banyak sekali di baliknya, seperti menyiapkan makanan, mencuci dan menyetrika seragam, menyiapkan sepatu, bahkan ibu akan menghafal jadwal seragam anaknya.
"Di sinilah, ibu punya kontribusi dalam pencapaian si anak. Segala hal tentang kemajuan anak, melekat peran ibu. Dan seperti inilah makna pengasuhan dan identitas keibuan yang dipahami oleh si ibu," kata Hana.
Ketika Ibu Merasa "Terancam"
Namun, ada fase ketika anak akan semakin mandiri dan tidak memerlukan kontribusi ibu, misalnya ketika anak beranjak kuliah atau bahkan bekerja dan menghasilkan uang sendiri, termasuk mengambil keputusan sendiri.
Situasinya, menurut Hana, lebih rumit ketika anak memperlihatkan banyak kemandirian tanpa perlu keterlibatan ibu seperti sebelumnya. Di sini, identitas keibuan jadi terdisrupsi, atau istilahnya "terancam".
"Keterancaman ini mungkin muncul dari kritik-kritik kecil. Misalnya: penampilan anak dikritik kurang pantas, pencapaian dianggap biasa saja, bahkan setiap keberhasilan si anak akan dikomentari," lanjut Hana.
Hana mengatakan, komentar yang disampaikan tersebut mungkin sekilas bisa diterima sebagai nasihat atau bentuk perhatian.
Namun, kritik yang berulang kali sebetulnya menunjukkan tanda bahwa sang ibu sedang berusaha mempertahankan posisinya sebagai orang tua, pihak yang lebih tahu dan berpengalaman, dan berhak menilai anaknya.
Jadi, "bahasa kritik" ini adalah cara ibu mengembalikan anak ke posisi subordinat (di bawah orang tua).
Jika pola seperti melontarkan sindiran atau kritik itu dilakukan berulang, di sinilah mungkin perlu diidentifikasi apakah ada rasa iri yang bisa merusak relasi, atau istilahnya relasi yang toksik.
"Terutama jika sudah muncul perilaku yang abusif, seperti menghukum dengan mendiamkan, memanipulasi rasa bersalah, atau melakukan intimidasi. Jika pola ini sudah meningkat jadi perilaku abusif, perlu melihat apakah ada kesulitan regulasi emosi, frustasi, atau kesulitan menerima kondisi kemandirian anak," sebut Hana.
Perempuan yang juga tercatat sebagai relawan di Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) Simpul Solo Raya ini mengatakan, anak merasakan kontradiksi antara harapan bahwa ibu sumber kasih sayang versus kenyataan ibu yang merendahkan.
Anak mungkin merasakan "bingung" karena pengalaman ini bertentangan dengan pemahamannya tentang hubungan ibu-anak.
"Apalagi dalam masyarakat, kita belajar bahwa "anak baik" harus selalu menghormati dan tidak boleh menyalahkan ibu. Bahkan, anak pun terkadang menghadapi konflik tambahan: bagaimana sebaiknya memahami perlakuan menyakitkan ibu tanpa harus merasa dirinya sebagai anak yang buruk?" tanya Hana.
Apabila situasi ini berlangsung terus-menerus, anak bisa mulai meragukan dirinya, merasa bersalah atau bahkan merasa hambar ketika meraih keberhasilan, serta kesulitan menikmati pencapaiannya sendiri.
Dampak terhadap Anak
Efek jangka panjang dari kecemburan ibu terhadap anak di antaranya adalah kemungkinan pada anak untuk menjadi bergantung pada pengakuan orang lain, merasa harus selalu membuktikan diri, atau bahkan menyembunyikan keberhasilan supaya tidak memicu konflik.
"Dampak yang dialami setiap anak tidaklah sama, karena support system dan pengalaman lainnya juga berperan," ucap Hana.
Anak cenderung menyalahkan diri karena dalam kultur masyarakat kita yang sangat kekeluargaan dan komunal, hubungan dengan ibu itu sangat penting, "Menyalahkan diri sendiri menjadi cara untuk mempertahankan keyakinan bahwa hubungan ibu-anak masih bisa diperbaiki."
Dalam keluarga, ada ajaran tentang berbakti dan pengorbanan orang tua. Maka, mempertanyakan perlakuan ibu bisa menimbulkan kesan bahwa si anak sudah bertindak buruk atau tidak berbakti. "Sehingga strategi yang ditempuh adalah menyalahkan diri sendiri," imbuh Hana.
Menetapkan Batasan Emosional yang Sehat
Hana menyatakan, pada anak yang masih tinggal serumah dengan ibunya, menetapkan batasan (boundaries) adalah hal yang sulit, karena anak tidak bisa begitu saja menghindari interaksi, apalagi jika anak masih bergantung secara finansial.
Hana lalu memberi contoh salah satunya tradisi yang terdapat dalam kultur Jawa. Misalnya, tuntutan untuk menghormati orang tua (respect). Ternyata, respect ini juga bisa diwujudkan dengan memberikan ruang kepada ibu untuk mengetahui informasi tentang diri kita.
"Istilahnya: "taren" atau meminta izin, meminta pendapat, atau bahkan menyediakan ruang bagi ibu untuk memberikan nasihat. Namun, kita boleh mengatur sejauh mana informasi dibagikan ke ibu, sejauh mana melibatkan ibu, meski ini mungkin bukan rumus yang mempan untuk semua keluarga," jelas Hana.
Anak perlu belajar dan berlatih menentukan batasan, termasuk ke orang tua. Selain soal batasan, anak juga bisa belajar melihat ibunya sebagai pribadi. Anak dapat menunjukkan ketertarikan pada aktivitas ibu, mendengarkan ceritanya, atau memberikan apresiasi kepada ibu.
"Dengan begitu, maka dalam persoalan ini, hubungan ibu-anak tidak hanya berpusat pada pencapaian dan kehidupan anak, tapi juga memberi ruang bagi kehidupan ibu," tutup Hani.
Artikel lainnya seputar anak dan orang tua juga bisa dibaca di sini.
Editor: Sekar Kinasih