Menuju konten utama

Spill Tipis-Tipis: Sudah Bukan Zamannya Pamer Pacar di Medsos?

Mungkinkah kita menikmati hubungan tanpa harus membuktikannya ke orang lain? Bisa jadi, yang tenang dan yang disimpan justru lebih tulus dan aman.

Spill Tipis-Tipis: Sudah Bukan Zamannya Pamer Pacar di Medsos?
Header diajeng Bukan Zaman Pamer Pacar. tirto.id/Quita

diajeng.id - Teknologi mempermudah kita untuk membagikan setiap momen keseharian di berbagai platform media sosial, termasuk yang berkaitan dengan perjalanan cinta atau relasi asmara.

Dikecewakan oleh calon pacar yang dijumpai di aplikasi kencan? Tenang, ada media sosial Thread atau X yang siap 24 jam untuk menampung curahan hatimu.

Tengah dimabuk asmara dengan kencan-kencan romantis bersama kekasih? Instagram dan TikTok siap merangkum momen-momen indah tersebut dalam format foto dan video yang manis.

Gusar karena perilaku pasangan yang menyebalkan? Sekali lagi, gejolak emosi yang dirasakan tersebut bisa disalurkan melalui jendela media sosial sehingga hati jadi lebih plong.

Ya, pada era serba medsos, setiap momen bersama si "dia" menjadi materi konten yang potensial.

Menariknya, pilihan untuk tidak membagikan cerita tentang pasangan di medsos kini juga semakin populer.

Aksi "diam" tersebut, selama ini, kerap dimaknai sebagai ekspresi dingin atau kerahasiaan.

Di sisi lain, ia bisa mencerminkan tanda kedewasaan karena kamu bisa menjalani hubungan yang tenang tanpa perlu mengumbarnya di media sosial.

Hal ini juga mungkin memperlihatkan bahwa semakin dewasa seseorang, maka ia pun semakin menyadari bahwa cinta tidak butuh validasi dari likes atau komentar banyak orang.

Memang betul, pamer pacar di medsos umumnya dimaknai sebagai bukti cinta dan transparansi.

Seiring waktu, beberapa orang mulai terang-terangan menganggap langkah tersebut sebagai sesuatu yang sudah ketinggalan zaman alias tak lagi relevan.

Dinamika itulah yang baru-baru ini diamati oleh jurnalis Chanté Joseph dalam kolom opini "Is Having a Boyfriend Embarrassing Now?" di Vogue akhir Oktober lalu.

Apabila ada pemilik akun media sosial yang menulis “pacarku” di dalam kontennya, mulai ada saja orang yang meresponsnya secara negatif.

Tren sepertinya sudah bergeser. Menjaga privasi bukan berarti menyembunyikan, tapi melindungi.

Diam-diam mencintai juga bisa jadi bentuk perlawanan kecil, dan mungkin, resep sederhana agar hubungan semakin awet.

Mengapa Sekarang Orang Ogah Pamer Pacar di Medsos?

Lebih jauh dibahas oleh Joseph di Vogue, belakangan ini, sejumlah perempuan, terutama yang menjalin hubungan heteroseksual, mulai memilih cara yang lebih halus untuk menunjukkan relasi asmaranya.

Alih-alih foto atau video mesra berdua yang dilengkapi caption manis nan puitis, mereka memberikan "petunjuk kecil" seperti tangan di setir mobil, dentingan gelas saat makan malam, atau sekadar foto bagian belakang kepala seseorang.

Kadang-kadang, wajah pasangan malah sengaja diburamkan dari foto pernikahan, atau video lamaran diedit sedemikian rupa tanpa memperlihatkan wajah tunangan.

Mereka seolah-olah mau bilang, "Aku punya pacar.” Namun, mereka enggan untuk menunjukannya secara terang-terangan.

Yang jadi pertanyaan, apa orang-orang sekarang cenderung "malu" dengan pacar mereka? Mungkinkah tersimpan lapisan problem lebih kompleks di baliknya?

Bisa jadi, pergeseran ini berkaitan dengan keinginan perempuan untuk menyeimbangkan dua hal: tetap menerima “nilai sosial” karena punya pasangan, di satu sisi tidak ingin terlihat terlalu tergantung padanya.

Paradoks ini tak lain merupakan bentuk kompromi era modern. Seperti Joseph kutip dari pandangan penulis dan aktivis Zoé Samudzi, perempuan "mendambakan hadiah dan perayaan dari sebuah hubungan, tapi juga paham normalnya itu".

Pendek kata, perempuan tidak mau sekadar dicintai oleh pasangannya, tetapi juga ingin mengambil jarak dari konstruksi sosial yang membatasi peran mereka sebagai pasangan, pacar, atau istri.

Penulis British Vogue, Stephanie Yeboah, bercerita telah kehilangan ratusan pengikut setelah mengumumkan pacarnya di akun media sosial.

Yeboah jadi merasa "ngeri" dan "malu" karena terus-menerus mengunggah tentang kekasihnya. Perasaan itu pun bergeser jadi rasa bersalah seiring ia menyadari dunia perkencanan sedang tidak baik-baik.

"Aku tidak mau menyombongkan diri," kata Yeboah.

Konten kreator Sophie Milner juga punya pengalaman mirip. Setelah mengunggah foto liburan bersama kekasihnya, tidak sedikit pengikutnya meminta dia tidak usah punya pacar saja.

Milner jadi sadar bahwa konten-kontennya lebih "merdeka" dan menarik perhatian saat dia menjomblo. Saat punya pacar, kata Milner, "Tanpa sadar kamu jadi lebih lembut, lebih berhati-hati.”

Hubungan romantis mungkin memang masih diakui sebagai bukti "keberhasilan" perempuan, tetapi perlahan juga semakin menguat pandangan bahwa menjadi lajang justru terasa lebih luwes dan bebas.

Melansir artikel dari Independent, oversharing di media sosial adalah hasil sampingan dari budaya digital yang membuat kita seolah-olah harus tampil sebagai "bintang utama" di hidup sendiri. Semua terasa harus dipamerkan, termasuk hubungan.

Di balik itu, ada tekanan yang nyata.

Kita jadi bertanya-tanya ke diri sendiri, kepada siapa unggahan tentang pasangan ini ditujukan? Bukankah orang yang kita cintai sudah tahu bagaimana perasaan kita? Mengapa kita masih ingin membuktikannya kepada orang-orang yang bahkan orang tergolong "asing" bagi kita?

Tanpa sadar, kebiasaan itu bisa berubah menjadi obsesi.

Kita mulai mengaitkan makna pada hal-hal kecil yang sebenarnya tidak berarti, misalnya, siapa yang menyukai unggahan kita, siapa yang tidak memberikan komentar, atau siapa yang diam saja.

Perlahan, bukan tidak mungkin muncul perasaan cemas. Masuk akalkah apabila validasi di dunia digital menjadi tolok ukur untuk makna hubungan di dunia nyata?

Kita pun berisiko terjebak dalam keinginan untuk menampilkan cerita yang sempurna tentang cinta. Padahal, hubungan nyata tidak pernah sesempurna itu.

Bagaimana mungkin kehidupan yang penuh dengan dinamika emosi bisa termuat dalam satu feed yang begitu rapi dan terkurasi sedemikian rupa?

Bisa jadi, upaya-upaya tersebut berlawanan dengan makna cinta yang sesungguhnya.

Selain itu, alasan orang-orang mulai mengurangi pamer hubungan di media sosial mungkin bukan semata-mata karena tren, tapi karena mereka mulai sadar, hal-hal yang paling berarti sering kali tidak perlu dibagikan.

Laman PureWow menulis, ada tiga hal yang membuat orang sekarang tidak mau pamer pacar di media sosial.

Pertama, dia membiarkan kita mengenalnya apa adanya. Pacar yang tidak suka pamer di medsos biasanya lebih tenang dan apa adanya.

Dia tidak berusaha membentuk citra tertentu, tidak sibuk memoles diri agar terlihat keren di depan orang lain. Keputusannya untuk diam bukan karena misterius, tapi karena tidak merasa perlu membuktikan apa pun.

Justru dari situ kita bisa mengenal sosoknya secara lebih jujur. Sesimpel melalui momen kecil yang sederhana tapi bermakna.

Tidak ada filter, tidak ada pencitraan. Hanya dua orang yang berusaha memahami satu sama lain dengan tulus.

Selain itu, alasannya berkaitan dengan keyakinan bahwa pacar adalah hal yang nyata, alih-alih persona. Pacar offline juga manusia biasa, punya rasa takut, ego, dan rasa tidak percaya diri seperti semua orang.

Maka dari itulah, tidak ada dorongan untuk mencari validasi terkait sosok sang kekasih dari dunia maya.

Yang terakhir, alasan orang yang tidak suka pamer pacar di medsos berkaitan dengan kecenderungan mereka untuk tidak memusingkan hal-hal kecil.

Pacar yang hidup di dunia nyata tidak peduli berapa banyak orang yang melihat story tentang hubungan yang tengah dijalani.

Alih-alih menggunakan jumlah likes atau reaksi emoji sebagai tolok ukur kekuatan cinta, yang bermakna dalam sebuah relasi mungkin sesederhana perhatian dari sang kekasih, tentang cara dia mendengarkan atau mengingat detail-detail kecil dalam relasi.

Tidak semua momen perlu diunggah agar terasa berarti, karena yang penting bukan siapa yang melihat, tapi apa yang dirasakan.

Kita pasti ingin hubungan yang terasa nyata dan betul-betul sempurna, alih-alih "terlihat" sempurna di layar.

Ada keindahan tersendiri ketika kita menjaga sesuatu tetap pribadi. Yang tenang sering kali justru yang paling tulus.

Dari situ, kita belajar mencintai seseorang bukan karena dia bisa dipamerkan, tapi karena kehadirannya benar-benar terasa di dunia nyata.

Tentu saja, jatuh cinta bukan hal yang memalukan. Di sisi lain, tidak punya pacar juga bukan aib.

Kita boleh gagal, mencoba lagi, atau bahkan memilih untuk tidak mencari sama sekali.

Selama kita berani mempertanyakan norma-norma lama, status “punya pacar” akan terus jadi hal yang cair, jika bukan sedikit kontroversial.

Mau tau banyak artikel lainnya tentang hubungan pacaran? Baca di sini.

Baca juga artikel terkait HUBUNGAN PACARAN atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih