diajeng.id - Sebagian besar dari kita mungkin masih sering menemui ada orang yang suka menyindir secara halus atau tidak terang-terangan. Yang dibilang A, tapi sebenarnya maksud omongan adalah B, yang artinya menyindir atau kebalikan dari maksud yang disampaikan langsung.
Sebuah utas dari pemilik akun @ozzynelwan di media sosial Threads belum lama ini sempat membahas tentang orang yang suka menyindir-nyindir dan tak mau langsung menyampaikan ke orang bersangkutan. Unggahannya ini lantas mendapat banyak likes dari warganet.
"Sumpah ya, menurut gue kalian semakin dewasa tuh harusnya stop banget nyindir-nyindir. Maksud gue, kenapa engga coba confront langsung ke yang bersangkutan daripada nyari dukungan kalo misal orang yang bersangkutan itu juga ada yang benci di luar sana. Umur kan angka depannya udah 2-3 ya, bukan belasan lagi. Act like ones," tulisnya.
Menurut pemilik akun, alasan orang tak mau menyampaikan langsung itu, hampir punya jawaban yang sama, seperti malas berurusan agar tak jadi masalah yang berkepanjangan, atau orang yang dimaksud susah untuk diberi tahu.
"Well, you have 2 choices: Confront or Keep it to yourself. Beside, bukannya malah makin ruwet ya kalo nyindir-nyindir orang?" tambahnya.
Tentu saja, komunikasi yang penuh dengan kode dan tebak-tebakan ini bukan hanya membuat pikiran lelah, tetapi juga bisa memicu kesalahpahaman.
Maka dari itu, penting menjadi orang yang straightforward atau berterus terang dan jujur apa adanya. Menjadi pribadi yang langsung pada inti persoalan bukan berarti kasar atau tidak sabar, melainkan sebuah bentuk keberanian untuk menyederhanakan hidup dan mengutamakan kejujuran di atas segalanya.
Kenapa Berterus Terang itu Bagus?
Menjadi orang yang berterus terang memiliki banyak manfaat nyata bagi kesehatan hubungan interpersonal maupun kesehatan mental kita sendiri.
Situs The Green Hope Falcon menyebutkan, salah satu alasan utama mengapa sebuah perusahaan, hubungan asmara, maupun jalinan pertemanan bisa gagal adalah karena sering terjadi miskomunikasi.
Hubungan yang tidak dilandasi oleh komunikasi yang jujur diibaratkan seperti selembar kertas tipis yang sangat mudah robek dan tidak akan bertahan lama.
Kejujuran ini juga menjadi fondasi kokoh untuk membangun ikatan yang kuat melalui obrolan mendalam yang dilakukan secara tatap muka.
Selain itu, menurut LifeHack, orang-orang yang straightforward akan bisa membantu menciptakan dunia yang lebih baik melalui kebenaran yang mereka sampaikan.
Memang, kebenaran itu bisa terasa pahit dan tidak nyaman untuk didengar, akan tetapi informasi yang jujur bisa membantu kita untuk berkembang dan tidak terus-menerus terjebak dalam kepuasan semu atau penyangkalan.
Kejujuran pada orang-orang yang terus terang ini bahkan sering kali disampaikan dengan humor yang menyegarkan guna memecah keheningan atau kecanggungan di dalam ruangan.
Realitas dan Tanda Perilaku Orang yang Straightforward
Bagaimana cara kita mengenali tanda-tanda atau contoh perilaku orang yang berterus terang dalam kehidupan sehari-hari?
Dilansir Thought Catalog, ada beberapa realitas perilaku orang-orang straightforward yang sangat khas.
Yang pertama, mereka akan berkomunikasi secara langsung dan mampu mengasumsikan hal yang sama. Contohnya, mereka selalu berbicara apa adanya saat menghadapi masalah dan mengasumsikan orang lain juga melakukan hal yang sama. Mereka merasa sangat bingung jika seseorang menyembunyikan perasaan aslinya hanya demi menjaga citra baik di hadapan orang lain.
Orang straightforward juga dapat mengasumsikan masalah berdasarkan ucapannya. Apabila tidak ada masalah yang diangkat secara langsung, mereka menganggap masalah tersebut memang tidak pernah ada. Oleh karena itu, mereka sering terkejut ketika mengetahui seseorang marah tanpa pernah menunjukkannya secara jujur.
Selain itu, saat menginginkan sesuatu, mereka akan fokus mengejarnya tanpa ragu-ragu karena memahami bahwa waktu sangat kompetitif dan berharga.
Orang-orang ini juga merupakan pribadi yang tangguh, tidak mudah tersinggung, dan telah belajar membiasakan diri dengan penolakan agar tidak membawa penolakan tersebut ke dalam ranah pribadi.
Tak hanya itu, mereka pun selalu menerapkan "hard love" (cinta yang tegas) dalam hidupnya, karena mereka percaya bahwa memanjakan seseorang secara berlebihan justru bisa merusak kemandirian orang tersebut.
Bagi mereka, mengatakan kebenaran yang tidak ingin didengar orang lain demi kebaikan masa depan mereka adalah bentuk kasih sayang yang sesungguhnya.
Menjaga Keseimbangan Kejujuran
Tentu saja, bersikap berterus terang memiliki tantangannya tersendiri di dunia sosial.
Hal ini umum kita ketahui, di mana banyak orang memilih tidak berterus terang karena takut menyakiti perasaan orang lain, sebab mayoritas manusia cenderung bereaksi secara emosional ketimbang rasional saat menerima umpan balik.
Namun, jika seseorang tidak bisa menerima masukan yang jujur, itu menunjukkan adanya masalah dalam penerimaan diri mereka sendiri.
Langkah Menjadi Orang yang Straightforward
Sebuah artikel di The Cut berjudul "A Beginner’s Guide to Being Blunt" pada tahun 2018 mengulas tentang bagaimana cara menjadi orang yang lebih straightforward.
Alih-alih terlalu menjaga perasaan orang lain, kamu dapat memulai dengan bertanya pada diri sendiri, "Apa aku sedang mengorbankan clarity (kejelasan) hanya demi bersikap sopan?"
Sebaiknya gunakan diksi "aku/saya" daripada menyalahkan orang lain dengan menyebut "kamu". Fokuslah pada pikiran, perasaan, atau kebutuhanmu sendiri.
Jika ingin menyampaikan, bicaralah yang singkat dan langsung ke inti. Jangan memberi terlalu banyak alasan atau meminta maaf secara berlebihan ketika mengatakan “tidak”.
Jangan lupa, perhatikan bahasa tubuh: kontak mata, menghadap lawan bicara, dan berbicara dengan jelas.
Kamu pun bisa memulainya dari situasi kecil. Latih diri untuk menyampaikan pilihan atau keinginan secara langsung sebelum menghadapi percakapan yang lebih sulit. Terima bahwa percakapan sulit memang bisa terasa canggung.
Tidak perlu menunggu sampai rasa cemas hilang sepenuhnya; semakin sering penyampaian yang terus terang dilakukan, ke depannya prosesnya akan semakin mudah.
Yang terakhir, tetaplah jujur sekaligus berperilaku baik. Tujuannya bukan menjadi kasar, tetapi menyampaikan kebenaran dengan cara yang menghormati diri sendiri serta orang lain.
Artikel menarik lainnya juga bisa dibaca di sini.
Editor: Sekar Kinasih