diajeng.id - Domestic abuse (kekerasan domestik) atau Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT) merujuk pada segala bentuk kekerasan dalam relasi personal yang melibatkan pasangan (tidak terkecuali mantan), anggota keluarga lain, atau terjadi dalam lingkup rumah tangga.
Topik ini kembali menjadi perbincangan di masyarakat menyusul pemberitaan perempuan berinisal YTR (29) di Bandung yang disekap dan dianiaya dengan sadis oleh kekasihnya sendiri, Taufik Hidayat (30), selama tiga tahun.
Korban saat ditemukan di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung sudah dalam kondisi yang memprihatinkan, wajah dan tubuh penuh luka, sampai infeksi mata. Pelaku saat ini sudah ditangkap oleh pihak kepolisian Jawa Barat.
Meski kasus ini menyita perhatian publik, akar permasalahannya masih rentan disalahpahami. Sebagian orang tumbuh dengan persepsi yang keliru, yang tanpa disadari justru memojokkan para penyintas dan membiarkan perilaku pelaku terus berlanjut.
Faktanya, seperti dilaporkan lembaga nonprofit berbasis di Colorado, Amerika Serikat, National Coalition Against Domestic Violence (NCADV), satu dari empat perempuan dan satu dari tujuh lelaki akan mengalami kekerasan dalam relasinya selama mereka hidup.
Di Inggris contohnya, rata-rata satu perempuan dibunuh oleh pasangan atau mantannya setiap minggu. Statistik ini bahkan sering kali hanya mencatat kekerasan fisik, tanpa menghitung dampak jangka panjang dari pelecehan verbal dan emosional yang bisa menghantui korban selama bertahun-tahun.
Mitos yang Berkembang di Masyarakat
Mitos lainnya yang juga berbahaya adalah anggapan bahwa KDRT selalu melibatkan kekerasan fisik seperti pukulan atau tamparan.
Realitasnya, situs Women's Aid menyebutkan, kekerasan domestik mencakup pola perilaku yang mengerahkan segala bentuk kekuasaan dan kontrol pada orang lain.
Korban sering kali merasa seolah-olah mereka "berjalan di atas kulit telur" karena takut melakukan kesalahan sekecil apa pun.
Jika kita dihadapkan pada realitas demikian, umumnya kita akan spontan bertanya-tanya, "Mengapa korban tidak langsung pergi saja?"
Meski terkesan sepele, jawaban untuk pertanyaan di atas sangatlah kompleks lantaran meninggalkan hubungan yang abusif bukanlah keputusan yang mudah.
Banyak korban yang masih mencintai pasangan mereka dan berharap perubahan, atau mereka terjebak dalam ketergantungan ekonomi dan tidak memiliki tempat tinggal.
Selain itu, ada ketakutan saat korban mencoba pergi, mereka akan semakin disiksa. Periode ketika korban berusaha meninggalkan pasangannya adalah waktu yang paling berbahaya dan berisiko tinggi terhadap nyawanya.
Masyarakat juga cenderung mudah memaklumi kekerasan dengan alasan "kehilangan kendali" atau "khilaf". Namun, pada kenyataannya, pelaku kekerasan pada pasangan jarang sekali bertindak secara spontan karena marah. Mereka secara sadar memilih kapan harus melakukan kekerasan, biasanya saat sedang berdua saja tanpa ada saksi.
Meski konsumsi alkohol atau obat-obatan terlarang dapat memperburuk situasi, zat-zat tersebut bukanlah penyebab utama kekerasan. Pelaku tetaplah satu-satunya pihak yang bertanggung jawab atas tindakannya.
Perlu Pemahaman dan Dukungan Kita Semua
Stereotip lain menyebutkan bahwa kekerasan hanya terjadi pada mereka yang kurang berpendidikan atau berasal dari kelas ekonomi bawah.
Padahal, kekerasan domestik tidak pandang bulu. Dilansir Domestic Shelters, kekerasan dalam lingkup personal ini bisa terjadi di semua kelas sosial-ekonomi, ras, tingkat pendidikan, dan wilayah geografis.
Mahasiswi S3 sampai istri dari bankir-bankir kaya raya di rumah mewah pun bisa menjadi korban. Tidak jarang mereka menyangkal atau menyimpan fakta kekerasan yang dialami ini rapat-rapat karena rasa malu atau takut reputasi sosialnya rusak.
Ada pula mitos yang menyalahkan korban dengan narasi "korban sendiri yang memprovokasi." Anggapan bahwa korban melakukan sesuatu yang pantas mendapatkan hukuman adalah bentuk victim-blaming yang sangat destruktif.
Kekerasan dalam bentuk apa pun tidak pernah menjadi kesalahan korban. Tanggung jawab sepenuhnya ada pada pelaku.
Memahami kenyataan di balik mitos-mitos tentang kekerasan domestik adalah langkah pertama untuk menciptakan lingkungan yang lebih aman.
Jangan pula memaksa mereka untuk segera pergi jika belum siap, karena langkah tersebut berisiko membuat mereka semakin terisolasi. Temani mereka, berikan dukungan dan bantuan yang mereka butuhkan untuk menyelamatkan diri saat waktunya tiba.
Kekerasan domestik bukan aib, bukan pula urusan pribadi keluarga. Kekerasan adalah isu sosial serius yang membutuhkan empati dan pemahaman kita bersama.
Simak juga artikel lainnya seputar kekerasan dalam relasi di sini.
Editor: Sekar Kinasih