Menuju konten utama

Perempuan Breadwinner: Tantangan Nyata dan Cara Mengelolanya

Jadi perempuan pencari nafkah utama bukan aib atau kegagalan keluarga, melainkan bukti daya tahan dan kontribusi nyata perempuan.

Perempuan Breadwinner: Tantangan Nyata dan Cara Mengelolanya
Header Diajeng Perempuan Breadwinner. foto/istockphoto

diajeng.id - Keberadaan perempuan yang menjadi tulang punggung keluarga mustahil dikesampingkan.

Di Indonesia, data BPS tahun 2024 menunjukkan sebanyak 14,37 persen pekerja atau sekitar satu dari sepuluh pekerja di Indonesia termasuk dalam kategori female breadwinner.

Peran ini paling banyak dijalani oleh istri, diikuti perempuan yang berstatus sebagai kepala rumah tangga, kemudian anak perempuan atau anggota keluarga lain yang ikut menopang ekonomi keluarga.

Statistik mereka menunjukkan satu hal penting, yaitu banyak perempuan yang memikul tanggung jawab besar, bukan hanya untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk orang-orang yang mereka cintai.

Namun, di balik kontribusi besar tersebut, perempuan pencari nafkah utama sering kali harus menghadapi tekanan berlapis.

Bukan cuma soal uang, tapi juga beban emosional dan tuntutan sosial terhadap perempuan yang umumnya tidak terlihat, bahkan jarang diakui oleh sekitar.

Tantangan yang Dihadapi Perempuan Breadwinner

Menjadi perempuan breadwinner bukan sekadar persoalan bekerja dan menghasilkan uang.

Di balik peran itu, ada banyak tantangan yang harus kamu hadapi setiap hari.

Mulai dari tekanan ekonomi, kelelahan emosional, sampai tuntutan sosial yang sering kali datang bersamaan dan membuat posisi ini terasa berat, meski jarang benar-benar dibicarakan.

1. Tekanan finansial yang konstan

Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi perempuan pencari nafkah utama datang dari ekspektasi sosial yang masih melekat kuat.

Sebagai perempuan breadwinner, ada tuntutan pekerjaan sekaligus penilaian lingkungan sekitar.

Selain itu, mereka harus membagi energi antara pekerjaan dan kehidupan keluarga.

Itu mengakibatkan tidak ada atau tipisnya kesempatan untuk gagal karena banyak orang bergantung pada penghasilan mereka.

2. Burnout dan kelelahan emosional

Menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi menjadi tantangan besar lainnya bagi perempuan pencari nafkah utama.

Banyak dari mereka harus membagi waktu dan energi antara pekerjaan yang menuntut dan tanggung jawab keluarga yang tidak kalah besar.

Kondisi ini sering kali membuat segalanya terasa melelahkan dan menumpuk.

3. Beban mental dan rasa bersalah

Ekspektasi sosial yang masih lekat dengan peran gender sering kali menambah beban bagi perempuan pencari nafkah utama.

Perempuan kerap dihadapkan pada tuntutan untuk bisa “melakukan semuanya”.

Menjadi pekerja yang ideal, ibu yang selalu hadir, dan pasangan yang sempurna. Ketika standar yang tidak realistis itu sulit dipenuhi, rasa bersalah dan perasaan tidak cukup pun mudah muncul.

4. Kurangnya pengakuan dan dukungan

Peran perempuan sebagai pencari nafkah utama sering kali dianggap sebagai keharusan semata, alih-alih sesuatu yang layak diapresiasi.

Kontribusi finansial yang besar kerap dipandang sebagai hal yang “seharusnya”, sehingga usaha, pengorbanan, dan kerja keras di baliknya jarang mendapat pengakuan.

Minimnya dukungan ini bisa membuat perempuan breadwinner merasa sendirian, meski sebenarnya mereka sedang memikul peran yang sangat penting bagi keluarga.

5. Tantangan karier dan waktu

Sebagai pencari nafkah utama, perempuan sering berada di bawah tekanan besar untuk menjaga, bahkan meningkatkan, penghasilan demi kestabilan ekonomi keluarga.

Tuntutan untuk terus “berhasil” secara profesional ini membuat banyak perempuan bekerja tanpa henti, hingga kelelahan fisik dan mental menjadi hal yang sulit dihindari.

Apa yang Bisa Dilakukan agar Tidak Burnout dan Tetap Produktif?

Menjadi perempuan pencari nafkah utama bukan berarti kamu harus selalu kuat tanpa jeda.

Di tengah tuntutan pekerjaan dan tanggung jawab keluarga, rasa lelah dan jenuh sangat mungkin muncul.

Oleh karena itu, penting mencari cara atau strategi yang realistis dan bisa diterapkan sehari-hari agar kamu tidak burnout sehingga tetap bisa menjalani peran dengan lebih seimbang dan produktif.

1. Bangun batasan yang jelas antara kerja dan rumah

Belajar menetapkan batasan, baik di pekerjaan maupun dalam kehidupan pribadi, sangat penting untuk mencegah burnout.

Batasan ini bisa sesederhana mengatur jam kerja agar tidak terus-menerus lembur, membagi tugas rumah dengan anggota keluarga lain, atau sengaja meluangkan waktu untuk istirahat.

Mendelegasikan tanggung jawab bukan tanda kegagalan, justru langkah penting agar kamu tidak memikul semuanya sendirian.

2. Kelola keuangan dengan lebih terstruktur

Merencanakan karier secara proaktif dapat membantu perempuan pencari nafkah utama mengurangi tekanan finansial dan risiko burnout.

Upaya seperti negosiasi gaji, mencari peluang promosi, atau membuka kesempatan kerja baru dapat menjaga kestabilan penghasilan dan membantu perencanaan masa depan yang lebih aman.

Selain itu, hindarilah rasa bersalah saat menabung untuk diri sendiri karena kita membutuhkan self-reward.

3. Cari dan rawat support system

Jangan ragu untuk meminta bantuan, baik kepada perencana keuangan, tenaga profesional seperti terapis, maupun anggota keluarga.

Berbagi beban emosional dan finansial dengan pasangan atau orang yang kamu percaya dapat meringankan tekanan, sekaligus membantumu melihat langkah ke depan dengan lebih jelas.

4. Akui kelelahan sebagai pengalaman manusiawi

Burnout adalah masalah nyata yang banyak dialami perempuan, terutama ketika kamu menjadi pencari nafkah utama atau satu-satunya sumber penghasilan keluarga.

Wajar jika merasa kewalahan karena harus menyeimbangkan tanggung jawab ekonomi dengan peran merawat dan mengurus keluarga.

Hampir seluruh waktumu tersita sampai-sampai nyaris tak ada ruang untuk benar-benar memikirkan diri sendiri. Mengambil jeda waktu dan bernafas sebentar penting dilakukan.

5. Sisakan ruang untuk diri sendiri

Di tengah tuntutan sebagai pencari nafkah utama, penting untuk tetap menyisakan ruang bagi diri sendiri.

Waktu istirahat, menikmati hobi sederhana, melakukan self-care, atau bahkan sekadar diam tanpa harus produktif bukanlah kemewahan.

Itu adalah kebutuhan agar kamu bisa menjaga kesehatan mental dan tetap bertahan menjalani peran sehari-hari.

Menjadi perempuan pencari nafkah utama bukan aib atau kegagalan keluarga, melainkan bukti daya tahan dan kontribusi nyata perempuan.

Namun, peran ini membutuhkan dukungan sosial, kebijakan yang adil, dan empati dari lingkungan agar perempuan breadwinner tidak terus memikul beban sendirian.

Baca juga artikel terkait SUPPLEMENT CONTENT atau tulisan lainnya dari Risa Fajar Kusuma

diajeng.id - Binar
Kontributor: Risa Fajar Kusuma
Penulis: Risa Fajar Kusuma
Editor: Sekar Kinasih