Menuju konten utama

Parentified Child, Ketika Anak Harus Berperan Menjadi Orang Tua

Dalam keluarga yang disfungsional, orang tua kadang menjadikan anak “pengganti pasangan” sehingga anak berperan sebagai penopang emosional bagi mereka.

Parentified Child, Ketika Anak Harus Berperan Menjadi Orang Tua
Header diajeng Parentified Daughter. FOTO/iStockphoto

diajeng.id - Parentification atau parentifikasi merujuk pada kondisi anak yang terpaksa mengambil peran sebagai pengasuh emosional bagi orang tuanya. Pada situasi ini, anak merasa bertanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan emosional orang tua, bahkan menjadi sumber dukungan dan penenang bagi mereka.

Selain itu, parentifikasi juga bisa dijelaskan secara instrumental atau fisik. Dalam konteks ini, anak mengambil alih peran atau tugas orang tua, seperti mengerjakan urusan domestik, merawat adik-adiknya, atau membuat keputusan penting terkait rumah tangga.

Parentifikasi secara umum dapat menimbulkan rasa bersalah dan tanggung jawab yang berlebihan bagi anak. Akibatnya, anak berpotensi tumbuh dewasa dengan keyakinan bahwa dirinya adalah penyebab dari masalah yang dihadapi orang tuanya.

Baik anak laki-laki maupun perempuan sama-sama berpotensi terlibat dalam situasi parentifikasi. Namun, pada sebagian besar kasus, parentifikasi cukup sering ditemukan pada anak perempuan atau anak perempuan sulung.

Ada berbagai alasan di balik parentifikasi. Secara garis besar, penyebabnya berangkat dari pola hubungan dalam pengasuhan yang tidak sehat.

Dalam keluarga yang disfungsional, orang tua kadang-kadang menjadikan anak sebagai “pengganti pasangan”, sehingga anak berperan sebagai penopang emosional bagi orang tuanya. Hal ini dipicu oleh gangguan kesehatan mental, penyakit fisik, atau kondisi lain yang membuat orang tua tidak mampu merawat diri dan menjalankan perannya dengan baik.

Tanda-tanda Kamu adalah Parentified Child

Tidak semua anak yang mengalami parentifikasi menyadari peran yang dijalaninya sejak kecil.

Kebiasaan selalu mengalah dan menjadi penenang sebenarnya bisa jadi pertanda kalau kamu tumbuh dengan beban-beban yang tidak semestinya. Coba kenali ciri-ciri yang mungkin ditemukan pada parentified child atau parentified daughter berikut.

1. Terlalu Dewasa

Anak yang mengalami parentifikasi biasanya terlihat lebih dewasa dan lebih kalem dibandingkan usianya. Meski terkesan sebagai karakter yang baik, sikap tersebut sebenarnya terbentuk karena mereka sejak kecil terbiasa menyesuaikan diri dengan keadaan.

Mereka peka membaca situasi dan perasaan orang lain, lalu berusaha bersikap “aman” agar tidak memicu konflik. Akibatnya, mereka lebih sering mengalah dan memendam apa yang dirasakan.

2. Selalu Jadi “Ibu” dalam Pertemanan

Parentified daughter biasanya tumbuh jadi pribadi yang bertanggung jawab dan penuh empati. Namun tanpa sadar, mereka cenderung mengambil peran sebagai “pengurus” di setiap hubungan. Misalnya, mereka biasa dijadikan tempat curhat, penenang, sekaligus yang paling bisa diandalkan di situasi-situasi kritis.

Meski terkesan mengayomi, mereka sebenarnya sering merasa lelah secara emosional, cemas, bahkan menyimpan rasa kesal. Ada juga ketakutan bahwa kalau mereka berhenti membantu, semuanya akan kacau.

Mereka juga sering kali menganggap kerja-kerja merawat orang lain sebagai cara untuk menjaga kedekatan.

3. Perfeksionis

Sejak kecil, anak yang mengalami parentifikasi terbiasa menjaga situasi tetap kondusif. Artinya, mereka jadi merasa harus melakukan segala sesuatu dengan sempurna. Mulai dari hal kecil sampai besar, semuanya harus “benar” agar tidak menimbulkan masalah.

Kalau semuanya berjalan rapi dan sesuai rencana, pikir mereka, maka konflik bisa dihindari dan mereka tidak akan disalahkan.

4. People-pleasing

Parentified child terbiasa mendahulukan kebutuhan atau keinginan orang lain. Maka terdapat kecenderungan pada mereka untuk tumbuh dengan pola pikir bahwa menyenangkan orang lain adalah cara agar tetap diterima dan dicintai. Sayangnya, kebiasaan ini sering membuat mereka mengabaikan kebutuhan diri sendiri.

5. Sulit Meminta Bantuan

Akibat selalu menjadi yang diandalkan, anak-anak yang mengalami parentifikasi jadi tidak terbiasa bergantung pada orang lain. Bagi mereka, meminta bantuan terasa canggung, bahkan bisa memicu perasaan tidak aman.

6. Merasa Bersalah Saat Mengungkapkan Kebutuhan Diri

Sedari kecil, kebutuhan parentified child sering tidak didahulukan. Akibatnya, mereka merasa bahwa kebutuhan pribadinya adalah beban. Kalau mereka mencoba jujur menyampaikan perasaan dan kebutuhannya, biasanya yang muncul malah rasa bersalah atau reaksi yang dianggap berlebihan.

Kecenderungan tersebut muncul karena mereka tumbuh tanpa diberi ruang untuk memprioritaskan diri sendiri. Sayangnya, kebiasaan itu sangat mungkin terbawa hingga dewasa.

Apabila selama ini kamu merasa memiliki beban-beban sebagai anak yang tidak seharusnya kamu panggul, pertimbangkan untuk berbicara dengan pakar, profesional, atau orang-orang yang kamu percaya. Ingat, kamu tidak pernah sendirian.

Baca juga artikel terkait SUPPLEMENT CONTENT atau tulisan lainnya dari Risa Fajar Kusuma

diajeng.id - Diajeng
Kontributor: Risa Fajar Kusuma
Penulis: Risa Fajar Kusuma
Editor: Sekar Kinasih