Menuju konten utama
Diajeng Berdaya

Interaksi Orang Tua & Anak: Esensi Parenting ala Raissa Hadiman

Psikolog Raissa Hadiman mengajak orang tua untuk memahami realitas pengasuhan sebagai proses yang dinamis, alih-alih faktor tunggal penentu masa depan anak.

Interaksi Orang Tua & Anak: Esensi Parenting ala Raissa Hadiman
Header Diajeng Raissa Hadiman. tirto.id/Nadya

diajeng.id - Lahir dan dibesarkan di lingkungan keluarga dokter, psikolog Raissa Hadiman tahu sedari kecil dirinya akan memilih jalur karier agak berbeda.

Saat duduk di bangku SD, Raissa ingat betul dengan kesibukan ayah dan ibunya yang bekerja penuh waktu di kantor dan melanjutkan praktik di klinik dekat rumah sampai petang.

Orang tua Raissa mengusahakan untuk selalu hadir saat jeda menangani pasien, akan tetapi waktu senggang untuk mengobrol dan bermain bersama lebih leluasa hanya pada akhir pekan.

Raissa kelak memantapkan diri untuk fokus menekuni ilmu psikologi dengan peminatan seputar interaksi antara orang tua dan anak, keputusan yang sangat disyukurinya terutama ketika kini telah memiliki dua anak kecil. Bukan karena sudah ahli, melainkan karena keilmuannya bisa Raissa pelajari saat menjalankan peran sehari-hari menjadi orang tua.

Selain disibukkan dengan aktivitas memberikan layanan konseling psikologi secara daring, selama satu tahun terakhir Raissa produktif menulis dua buku cerita anak, Angan-Angan Beringin (2025) dan Tapir Besar Biasa (2026), kisah tentang relasi menyentuh antara orang tua dan anak, penerimaan diri, serta jadi versi diri terbaik.

Pentingnya Ruang Diskusi antara Anak dan Orang Tua

Jika ada satu diskursus krusial terkait relasi orang tua dan anak yang menarik untuk Raissa soroti, hal itu berkaitan dengan perbedaan antara membimbing anak dan terlalu mengendalikan arah hidupnya.

“Perbedaannya terletak pada seberapa terbuka orang tua dengan diskusi dan siapa yang mengambil keputusan,” ujar Raissa dalam wawancara daring dengan Diajeng Tirto pada Jumat, 26 Juni 2026.

Sebagai contoh, les matematika untuk anak. Orang tua mengamati anaknya memiliki minat di matematika, atau malah kesulitan mempelajarinya. Maka, sebelum diputuskan, apakah orang tua mau mendiskusikan rencana kursus ini dengan anak? Kapan jadwal les, apa materi yang dipelajari, sejauh mana anak menikmati trial class. Jika anak merespons positif, berarti orang tua berhasil melakukan bimbingan dengan baik.

Lain halnya jika orang tua berkeinginan anaknya jadi juara matematika. Di satu sisi, si anak tidak berminat. Dari sini dapat dipastikan bahwa titik berat pengambilan keputusan ada pada orang tua, sehingga yang muncul adalah upaya mengendalikan anak.

Pandangan umum lainnya yang menjadi perhatian Raissa berkaitan dengan pola asuh orang tua sebagai penentu utama kualitas tumbuh dan kembang anak.

“Kalau anaknya begini, itu pasti karena orang tuanya begitu. Bukan berarti 100 persen keliru, tetapi ada banyak hal yang memengaruhi proses itu. Faktornya bukan sekadar ‘apa saja yang pernah orang tua lakukan ke anak’, tetapi apakah ada keterbukaan dari anak dan juga dari orang tua untuk mau bertumbuh bersama dalam interaksi mereka. Itu jauh lebih penting,” tegas Raissa.

Alih-alih melihat pola asuh sebagai faktor tunggal yang menentukan masa depan anak, Raissa mengajak orang tua untuk melihat pengasuhan sebagai proses yang dinamis.

Artinya, dalam relasi tersebut, orang tua dan anak sama-sama belajar, berubah, dan bertumbuh melalui interaksi yang terus berkembang.

“Hal itu juga yang jadi salah satu landasan pendekatan terhadap parenting zaman sekarang. Bukan lagi berorientasi semata pada kedisiplinan anak, tetapi lebih ke arah positive parenting: bagaimana berinteraksi dan berkomunikasi dengan anak.”

Raissa tidak menampik bahwa dominasi orang tua dalam pengambilan keputusan terkait anak selama ini acap kali dijustifikasi karena merekalah yang hidup lebih lama dan sudah mengecap asam-garam kehidupan.

Sekarang, misalnya, kita tengah dihadapkan pada realitas bahwa anak-anak lahir di era hiperkonektivitas digital. Mustahil bagi generasi mereka untuk melewati hari tanpa paparan dari layar gawai, baik untuk konteks edukasi maupun hiburan.

Di satu sisi, kita sebagai generasi lebih tua yang telah melewati zaman-zaman tanpa smartphone selalu menegaskan tentang ketangguhan hidup tanpa bergantung sepenuhnya pada gawai.

“Faktanya, kita tidak lahir sebagai anak-anak yang melek digital sejak lahir, sudah dijepret smartphone sejak lahir, foto dan videonya disebarluaskan di medsos. Kita tidak tahu persis apa yang mereka rasakan dan pikirkan di situasi demikian,” terang Raissa.

“Benar, kita hidup lebih lama dan punya pengalaman lebih banyak, tetapi kita tidak benar-benar mengalami apa yang anak-anak alami sekarang, kita tidak sepenuhnya berada di sepatu mereka. Makanya, penting untuk ada sharing POV.”

Selain itu, Raissa mengingatkan bahwasanya sebagai orang tua dan manusia dewasa, kita sering lupa anak-anak mempunyai sudut pandang berbeda lantaran tingkat kompleksitas pengalaman mereka yang jauh lebih sederhana.

Ketika melihat seekor gajah, kata Raissa, kita bisa menilai binatang tersebut secara lebih utuh karena kita memiliki tubuh lebih tinggi dan besar. Namun, anak yang masih kecil mungkin baru bisa fokus pada kuku gajah, bagian dada, atau ujung belalai saja.

“Nah, artinya, ini bukan soal siapa mengajari siapa, tetapi adakah ruang bagi anak dan orang tua untuk mendiskusikan yang mereka lihat? Apa yang orang tua tangkap dari si gajah, apa yang anak amati dari si gajah? Dengan diskusi, kita bisa mendapatkan the whole picture pada persoalan atau isu yang dihadapi,” imbuh Raissa.

Tantangan Jadi Orang Tua Hari Ini

Ketika membahas tentang tantangan dalam perjalanan menjadi orang tua masa kini, kebanyakan dari kita mungkin sepakat jawabannya berkaitan dengan anak-anak yang semakin kritis dan tuntutan pada orang tua untuk selalu responsif secara logis.

“Tantangan yang paling besar dan paling dekat, dan nampaknya dialami oleh semua orang tua, adalah capek,” jelas Raissa sembari tertawa.

Dulu, ketika diperintah atau ditegur orang tua, kita jarang mendapatkan ruang untuk bertanya alasannya. Maju ke hari ini, anak-anak seakan-akan tidak punya rem untuk terus bertanya.

“Orang tua jadi lebih terkuras dari segi waktu dan energi. Saking kritisnya anak-anak, kadang-kadang pertanyaan mereka tidak bisa terjawab dalam satu sesi. Bisa jadi, besok mereka akan mengulang lagi pertanyaannya.“

Menurut Raissa, ada dua alasan di balik kecenderungan anak mengulang pertanyaan, “Antara dia memang belum puas dengan jawabannya, atau dia sudah puas dengan jawabannya, tetapi dia lagi mencoba saving memory yang dilakukan dengan cara mengulang.”

Meski terkesan menjengkelkan, Raissa menekankan bahwa kebiasaan anak bertanya, mengulang-ulang pertanyaan, dan kecenderungan melontarkan celetukan “asbun core” bisa jadi salah satu tanda positif bahwa ruang diskusi antara kita dengan anak cukup hidup.

Buku Cerita sebagai Medium Pengantar Interaksi

Keputusan Raissa menyelami dunia kepenulisan buku anak didorong oleh keinginan untuk berbagi ilmu yang dipelajarinya selama menjadi psikolog serta pengalamannya menjadi ibu, istri, sekaligus anak.

Buku Tapir Besar Biasa (2026) berangkat dari kegalauan Raissa tentang jarak antara ilmu psikologi dan prinsip-prinsip positive parenting yang sudah dipelajari dengan realitas sulitnya menerapkan konsep tersebut sehari-hari.

“Dalam proses menjadi orang tua, aku belajar menerima kenyataan bahwa aku melakukan kesalahan, menyadari kesalahan itu, mencoba untuk memperbaiki, dan mempertahankan apa yang sudah diperbaiki,” demikian Raissa berefleksi.

Raissa melanjutkan, “Cerita si tapir pada esensinya adalah tentang bagaimana menjadi orang tua yang biasa saja dan terus belajar. It's okay untuk memiliki interaksi yang biasa dan tidak se-perfect itu antara anak dan orang tua.”

Bagi anak-anak pembaca buku-bukunya yang kelak tumbuh dewasa, Raissa berharap mereka dapat terus mengingat ragam tipe pertumbuhan dan perkembangan diri.

“Aku ingin mereka tahu, ada tipe pertumbuhan diri seperti pohon beringin. Meski terlihat diam-diam saja, sebenarnya beringin sedang bertumbuh. Aku ingin mereka ingat, bahwa menjalani hidup seperti tapir, yang walaupun biasa-biasa aja, kesehariannya bisa terasa luar biasa.”

Sebagaimana mainan, buku cerita pada dasarnya hanyalah medium.

Yang lebih penting, Raissa berpesan, adalah bagaimana orang tua memanfaatkan medium tersebut untuk membangun interaksi yang hangat sehingga pesan-pesan yang ingin disampaikan dapat diterima oleh anak dengan baik.

Baca juga artikel terkait PARENTING atau tulisan lainnya dari Sekar Kinasih

diajeng.id - Binar
Penulis: Sekar Kinasih
Editor: Dwi Ayuningtyas