diajeng.id - Dunia kencan modern senantiasa dinamis. Beberapa waktu belakangan, "pheromone maxxing" menjadi salah satu tren kencan terbaru yang dipopularitaskan algoritma TikTok.
Tren ini viral lantaran gaya pendekatannya yang tidak biasa, ekstrem, dan dianggap menjijikkan oleh beberapa orang. Pheromone maxxing pada esensinya menjanjikan ilusi bahwa manusia dapat menjadi magnet romantis yang tak tertahankan secara biologis hanya dengan memaksimalkan aroma alami tubuh.
Artikel VICE berjdul "Introducing Pheromone Maxxing, TikTok’s Latest Disgusting Dating Trend" menuliskan bahwa pheromone maxxing merupakan bagian dari budaya optimasi penampilan (looksmaxxing pipeline) di TikTok.
Tren ini mendorong kita untuk sengaja berhenti menggunakan deodoran, tidak mandi sebelum pergi kencan, mengenakan pakaian olahraga yang basah oleh keringat, hingga praktik ekstrem meminum urine sendiri. Tujuannya untuk memperkuat aroma tubuh alami (natural musk) yang diklaim secara keliru sarat akan feromon seks pemikat lawan jenis.
Fenomena ini berakar dari upaya para kreator yang ingin mengakali algoritma media sosial yang ketat terhadap konten-konten jorok. Mereka pun memanfaatkan bagian tubuh seperti ketiak dan keringat sebagai konten erotis terselubung.
Namun, ketika konten tersebut diadopsi secara mentah-mentah sebagai strategi kencan, dampaknya pun jadi kontroversial. Selain mengabaikan norma kesopanan dan kebersihan dasar di ruang publik, praktik meminum urine juga menimbulkan risiko kesehatan serius karena urine mengandung limbah metabolik beracun serta mikroba berbahaya.
Antara Mitos Feromon & Realitas Genetik (MHC)
Pheromone maxxing tak lebih dari mitos belaka. Meskipun hewan tertentu seperti tikus dan serangga menggunakan feromon untuk komunikasi reproduksi, ilmuwan belum pernah berhasil mengidentifikasi atau mengisolasi feromon seks pada manusia.
Peninjauan ilmiah tahun 2025 dalam jurnal Physiology & Behavior menegaskan bahwa bukti keberadaan feromon manusia seperti androstadienone (turunan dari hormon testosteron) masih belum konklusi.
Kendati demikian, daya tarik berbasis aroma tubuh memang memiliki penjelasan biologis riil melalui Major Histocompatibility Complex (MHC), kelompok gen sistem kekebalan tubuh.
Melalui eksperimen terkenal "sweaty T-shirt", ditemukan bahwa manusia secara tidak sadar cenderung tertarik pada aroma tubuh individu yang memiliki profil genetik MHC berbeda dari dirinya demi variasi imunitas keturunan.
Namun, mekanisme alami ini bekerja optimal saat tubuh bersih, alih-alih saat kita berbau akibat tidak mandi. Tidak pakai deodoran mungkin bikin bau tubuh kita menguar secara alami, tetapi pada waktu sama tindakan tersebut mengabaikan kebersihan dasar yang berisiko menggagalkan daya tarik kita terhadap teman kencan.
“Pheromone maxxing mengambil secuil fakta dari sains—bahwa setiap manusia menghasilkan aroma kimiawi yang khas dan bahwa aroma dapat memengaruhi cara kita memandang orang lain—yang kemudian dikembangkan jadi kesimpulan yang tidak didukung oleh bukti ilmiah,” ujar Dr. Shereen Teymour, dokter spesialis kulit bersertifikasi di New York dikutip dari USA Today.
Budaya Jalan Pintas dalam Kencan Modern?
Bagi orang-orang yang mengikuti tren kencan pheromone maxxing, baik itu dengan sengaja menciptakan bau badan karena tidak mandi, tidak memakai deodoran, hingga meminum urine sebelum kencan, kemungkinan mereka memang tidak paham bagaimana daya tarik aroma dan sains sebenarnya bekerja.
Dinukil Psychology Today, kemunculan tren ini dapat memunculkan permasalahan mendalam mengenai dinamika kencan modern yang terjadi saat ini
Permasalahan pertama, karena terobsesi ikut-ikutan tren di media sosial. Pheromone maxxing adalah gagasan yang timbul dari para influencer media sosial yang mengklaim bahwa kebiasaan kotor semacam itu dapat memaksimalkan jumlah feromon seks pada tubuh seseorang.
Bagi yang suka validasi, mereka berusaha menemukan jalan pintas untuk memicu daya tarik instan melalui "aromanya", sampai-sampai kehilangan empati sosial dan kesadaran akan kenyamanan pasangan kencannya
Permasalahan berikutnya adalah mengabaikan kompleksitas hubungan. Hubungan manusia tidak dapat direduksi menjadi sekadar reaksi kimia fisik.
Permasalahan ketiga, orang-orang yang mengikuti tren ini kurang kesadaran sosial. Sebagai suatu tren, pheromone maxxing memperlihatkan bagaimana orang secara buta mau mengikuti saran influencer demi hasil instan.
Kita mungkin akan kaget dan malu saat mendapati teman kencan muncul di satu tempat tanpa mengenakan pakaian hanya demi ingin menunjukkan praktik pheromone maxxing. Tentu saja ada orang lain di sekitar yang juga pasti terganggu dengan aroma feromon yang ditimbulkan tersebut.
Kencan adalah satu dari sekian banyak upaya yang kita lakukan untuk menemukan kecocokan bersama yang sehat. Mengorbankan kebersihan dan kesehatan demi ilusi daya tarik biologis hanya mempertegas betapa lelahnya masyarakat modern dalam mengarungi kerumitan hubungan asmara.
Artikel lainnya terkait tren kencan dan relasi juga bisa dibaca di sini.
Editor: Sekar Kinasih