Menuju konten utama

Pembalut: Kebutuhan Dasar Perempuan yang Tidak (Pernah) Murah

Di Indonesia, AS, Australia, dan Malaysia, harga 20-30 lembar pembalut (untuk sekali durasi menstruasi) setara dengan biaya sekali makan di luar rumah.

Pembalut: Kebutuhan Dasar Perempuan yang Tidak (Pernah) Murah
Header Diajeng Pembalut. tirto.id/Quita

diajeng.id - Beberapa waktu lalu, marak pembahasan di media sosial mengenai harga pembalut sekali pakai atau pembalut plastik yang dinilai semakin mahal dan sulit dijangkau oleh kalangan ekonomi bawah.

Di tengah kenaikan harga komoditas kebutuhan sehari-hari, pengeluaran yang harus disiapkan perempuan menjelang menstruasi pun menjadi perhatian. Warganet pun mulai mempertanyakan urgensi akses yang lebih mudah terhadap produk menstruasi.

Banyak yang berpendapat bahwa seharusnya pembalut dijual dengan harga yang lebih terjangkau. Sebagian lainnya menganggap pembalut tidak seharusnya dikenai pajak. Di Indonesia, pembalut dikategorikan sebagai Barang Kena Pajak (BKP) melalui sistem Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sejak 1985.

Di luar itu, selama ini sudah cukup banyak gerakan dan usaha sosial yang mengadvokasikan penggunaan produk menstruasi alternatif yang minim lembah dan awet seperti pembalut kain atau cangkir menstruasi.

Terlepas pemakaian jangka panjang bisa lebih hemat, pembelian produk-produk alternatif tersebut memerlukan biaya lebih besar di awal. Penggunaannya pun masih memerlukan akses terhadap air bersih yang kenyataannya masih belum merata di penjuru negeri kita.

Artinya, pembalut sekali pakai masih menjadi opsi utama yang praktis bagi mobilitas perempuan, baik yang tinggal di kawasan urban perkotaan, desa, hingga daerah bencana.

Perbedaan Harga Pembalut di Indonesia dan Negara Lain

Perbincangan mengenai keterjangkauan produk pembalut memunculkan pertanyaan tentang bagaimana harganya di Indonesia dibandingkan dengan negara lain.

Berdasarkan penelusuran Diajeng Tirto pada 3 November 2026 di dua gerai minimarket nasional, pembalut ukuran reguler dari satu merek populer isi 28 lembar dijual dengan harga normal Rp24.400 (Rp871 per lembar), sementara merek lainnya yang berisi 30 lembar memiliki harga normal Rp26.400 (Rp880 per lembar).

Selama beberapa waktu, pihak minimarket memberikan diskon sehingga harga produk-produk di atas menjadi beberapa ribu perak lebih murah. Diskon lebih besar, biasanya dua puluh persen di bawah harga ritel, juga bisa ditemukan pada produk yang sama di etalase e-commerce.

Bergeser ke negeri tetangga, gerai Watsons di Malaysia menjual produk pembalut isi 16 lembar x 3 kemasandengan harga normal RM18.85 (sekitar Rp83.911 atau Rp1.736 per lembar), atau satu kemasannya RM6 (kira-kira Rp26 ribu) dengan RM1 sekitar Rp4.400. Saat dicek pada 3 November 2026, harganya lebih murah dua puluh persen karena ada promosi.

Sementara gerai supermarket populer Coles di Australia menjual produk pembalut isi 12 lembar dengan harga normal A$5,60 atau sekitar Rp5.900-an per lembar. Pada waktu pengecekan melalui situs resmi, produk tersebut sedang dalam masa promosi setengah harga sehingga bisa ditekan menjadi kurang dari Rp3.000 per lembar (kurs A$1 sekitar Rp12,709).

Di Amerika Serikat, produk pembalut isi 12 lembar dijual di Walmart seharga US$4,97, sekitar Rp90.100 per kemasan atau Rp7.500 per lembar (kurs US$1 sekitar Rp18.118).

Di jaringan apotek dm-drogerie markt di Jerman, satu kemasan pembalut isi 16 lembar dijual seharga €0,85, sekitar Rp17.200 per kemasan atau Rp1.720 per lembar (kurs €1 sekitar Rp20.260).

Sekilas, harga pembalut ukuran reguler dari merek-merek populer di Indonesia cenderung lebih murah dibandingkan produk serupa di Malaysia, Australia, Jerman, dan Amerika Serikat.

Meski harga menjadi salah satu faktor yang menentukan akses terhadap pembalut, perbandingan ini juga perlu mempertimbangkan daya beli masyarakat di masing-masing negara.

Di Indonesia, satu kemasan pembalut berisi 28-30 lembar bisa dibeli dengan harga dua puluh ribuan rupiah. Harga tersebut kurang-lebih setara dengan biaya sekali makan nasi ayam dan sayur di warteg.

Di AS, dua kemasan pembalut (total isi 24 lembar) setara dengan harga satu porsi burger atau sandwich yang umumnya dijual dari harga US$10. Perbandingan serupa terlihat di Australia; harga dua kemasan pembalut (total isi 24 lembar) setara dengan harga satu porsi chicken salad wrap yang berkisar belasan dolar. Di Malaysia, harga dua kemasan pembalut (total isi 32 lembar) kira-kira setara dengan harga satu porsi nasi lemak dengan ayam goreng yang dimulai dari RM10.

Dengan kata lain, di Indonesia, AS, Australia, dan Malaysia, biaya untuk membeli pembalut ukuran reguler dalam jumlah yang relatif sebanding (20-30 lembar untuk rata-rata penggunaan satu durasi menstruasi setiap bulan) setara dengan biaya sekali makan di luar rumah.

Berbeda dengan negara-negara tersebut, di Jerman, dua kemasan pembalut dengan total isi 32 lembar harganya kurang dari €2. Nominal tersebut jauh lebih murah dibandingkan satu porsi kebab döner yang umumnya dibanderol €5 hingga €8.

Iklan Pembalut di Amerika Serikat

Di balik keberagaman harga pembalut di berbagai negara, sejarah penjualan pembalut plastik sekali pakai menunjukkan bagaimana produk tersebut awalnya diiklankan sebagai komoditas yang ekonomis alias terjangkau. Inilah yang terekam dalam sejarah iklan pembalut di Amerika Serikat.

Mengutip National Museum of American History, pembalut sekali pakai mulai diproduksi dan diperjualbelikan secara komersial sejak akhir abad ke-19.

Namun, pada awalnya, peminat pembalut sekali pakai masih terbatas karena banyak perempuan yang menganggapnya harganya mahal dan penggunaannya boros dibandingkan kain yang bisa dicuci dan dipakai ulang.

Perubahan mulai terjadi setelah Perang Dunia I. Kimberly-Clark memanfaatkan sisa bahan Cellucotton, bahan penyerap yang sebelumnya digunakan untuk perban, untuk memproduksi pembalut bermerek Kotex pada 1920-an.

Melalui iklan di majalah perempuan serta penjualan di apotek dan katalog pesanan, Kotex berhasil memperluas pasar pembalut sekali pakai.

Melansir situs The Museum of Menstruation and Women's Health, Kotex meluncurkan iklan pertama produknya pada Mei 1921. Ilustrasi di dalam poster, menariknya, menunjukkan aktivitas perempuan di balik meja yang kemungkinan berprofesi sebagai sekretaris atau pegawai kantoran.

Diajeng Iklan Kotex di AS

Iklan pembalut Kotex di Amerika Serikat tahun 1921. Foto/The Museum of Menstruation and Women's Health

Gambaran tersebut bisa mengindikasikan beberapa hal. Mungkinkah produk pembalut tersebut ditujukan untuk perempuan bekerja atau yang berpenghasilan, ataukah pemakaian produk pembalut bisa membuat perempuan semakin percaya diri untuk bekerja? Di satu sisi, sosok perempuan di poster iklan digambarkan sebagai kelas menengah atas yang pakaiannya terlihat mewah.

Namun begitu, dalam poster-poster iklan pembalut Kotex yang bisa ditemukan sampai 1923, keterjangkauan harga menjadi salah satu sorotan. Dengan slogan “Inexpensive, Comfortable, Hygienic and Safe”, Kotex menawarkan produknya sebagai pilihan yang murah, nyaman, higienis, dan aman.

Diajeng Iklan Kotex di AS

Iklan pembalut Kotex di Amerika Serikat tahun 1922. Foto/The Museum of Menstruation and Women's Health

Iklan tersebut juga mencantumkan harga 60-65 sen untuk satu kotak berisi 12 pembalut, suatu bentuk penegasan bahwa harga menjadi salah satu aspek yang ditonjolkan dalam strategi pemasaran awal produk.

Dalam salah satu narasi iklan di poster tahun 1923, ditegaskan bahwa pembalut mereka merupakan “perlindungan yang sempurna—dan benar-benar hemat”, dilanjutkan dengan kalimat “karena Kotex cukup murah dan mudah untuk dibuang sesuai arahan di kemasannya”.

Meski dipromosikan sebagai produk yang terjangkau, realitasnya tidak begitu. Apabila dikonversikan ke daya beli masa kini, harga satu kemasan pembalut isi 12 lembar yang dijual seharga 60-65 sen seabad lalu setara dengan $11 pada hari ini, harga yang lazim untuk sekali makan sandwich atau burger.

Diajeng Iklan Kotex di AS

Iklan pembalut Kotex di Amerika Serikat tahun 1923. Foto/The Museum of Menstruation and Women's Health

Upaya untuk Sediakan Pembalut Gratis

Melansir situs resmi pemerintah Skotlandia, negara tersebut menjadi yang pertama di dunia yang menjamin akses terhadap produk menstruasi gratis melalui undang-undang.

Mulai berlaku pada Agustus 2022, Period Products (Free Provision) (Scotland) Act 2021 mewajibkan pemerintah daerah serta penyelenggara pendidikan untuk menyediakan produk menstruasi, seperti pembalut dan tampon, secara gratis bagi siapa pun yang membutuhkannya. Produk tersebut juga harus mudah diakses dan tersedia dengan tetap menghormati martabat penggunanya.

Di Selandia Baru, Perdana Menteri Jacinda Ardern pada 2021 meregulasikan penyediaan produk menstruasi gratis di sekolah-sekolah untuk mengurangi beban menstruasi dan mencegah pelajar kehilangan waktu belajar.

Masih di Negeri Kiwi, penyediaan pembalut gratis juga diupayakan oleh pelaku usaha sosial Ads on Pads. Diluncurkan pada 2024, Ads on Pads memproduksi pembalut melalui kemitraan dengan pengiklan dan lokasi penyedia produk untuk dibagikan secara gratis kepada publik.

Pemerintah Afrika Selatan menghapus pajak untuk produk menstruasi sejak 2019, sementara pemerintah Bostwana mendistribusikan pembalut gratis untuk anak perempuan usia sekolah sampai 19 tahun melalui inisiatif “Dignity to the Girl Child” sejak 2025 dalam rangka memberantas kemiskinan menstruasi dan mengurangi jumlah anak perempuan yang absen sekolah karena mengalami menstruasi.

Beberapa contoh di atas menunjukkan adanya berbagai inisiatif untuk mengupayakan ketersediaan dan kemudahan akses terhadap produk menstruasi. Menurutmu, apa yang bisa diadopsi atau diupayakan di Indonesia?

Baca juga artikel terkait DIAJENG PEREMPUAN atau tulisan lainnya dari Sekar Kinasih & Arrazani Hafidza

diajeng.id - Binar
Penulis: Sekar Kinasih & Arrazani Hafidza
Editor: Sekar Kinasih